Connect with us

Hankam

Narkoba Menggila, Prajurit TNI Patut Diakomodasi Masuk Jajaran BNN

Published

on

Jalur peredaran narkoba di Indonesia/Foto via Antara

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso (Buwas) memasuki masa pensiun pada 27 Fabruari 2018. Artinya, Buwas melepaskan jabatannya sebagai Kepala BNN dan digantikan dengan sosok pemimpin baru dalam memimpin agenda pemberantasan narkoba.

Ancaman narkoba di tanah air tampaknya semakin menunjukkan kengerian di masa-masa mendatang. Terbukti, di awal-awal tahun 2018 dua kasus penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 1 ton berhasil digagalkan di Batam. Sebelumnya, sebanyak 150 ton bahan baku narkoba asal Cina yang hendak diselundupkan ke Indonesia berhasil digagalkan aparat keamanan Timor Leste.

(Baca: Buwas Inginkan TNI yang Memimpin Pemberantasan Narkoba)

Kasus di Batam berhasil diungkap TNI AL yang melakukan pengejaran dan penangkapan menggunakan KRI Sigurot-864 terhadap kapal Sunrise Glory. Dari penggeledahan berhasil ditemukan di dalam 41 karung beras yang dibawa kapal tersebut di perairan Batam.

Dua kasus ini seperti menjadi warning tersendiri bagi sosok pengganti Buwas. Dan keterlibatan TNI AL dalam menangkap para pelaku tindak pidana di laut ini mengingatkan kita pada keinginan Buwas agar BNN dipimpin oleh TNI, atau sekurang-kurangnya TNI dilibatkan ke dalam institusi BNN.

Buwas sendiri pad Oktober 2017 lalu sempat mengaku dirinya sudah membawa dua perwira aktif TNI menjadi bagian dari BNN. “Keduanya menjadi Kepala BNK. Dan di masa mendatang, kalau bisa berharap pengganti saya juga harus dari TNI,” ujar Buwas, Senin (2/10).

Ia menyadari gempuran narkoba yang terus mengancam bangsa Indonesia semakin kuat. Karenanya TNI patut dilibatkan di instansi BNN, terutama sebagai eksekutor di lapangan. “Urusan hukum biarlah menjadi urusannya polisi, BNN, kejaksaan dan pengadilan. Teman-teman TNI fokus saja pada perang dan eksekusi saja para perusak bangsa ini karena para bandar adalah pengkhianat bangsa. Saya punya daftarnya dan kejar saja mereka semua itu sampai dapat,” terangnya Buwas.

Baca Juga:  Risiko Kematian Prajurit TNI Lazim Digunakan Sebagai Perhitungan Gaji dan Tunjangan

Hal senada juga diungkapkan pengamat pertahanan dan intelijen Susaningtyas Kertopati. Ia berharap BNN dapat lebih terbuka dan akomodatif untuk menerima prajurit TNI sebagai organik di dalam struktur organisasi BNN. “Sehingga sinergi betul-betul kuat. BNN seperti halnya Bakamla dapat diawaki oleh TNI, Polri, Jaksa dan aparat lainnya,” jelasnya, Sabtu (10/2).

(Baca: BNN Serta Restiknya Berdramaturgi, Bangsa Korbannya Hingga ke Pesantren Madura)

Ia berharap sinergi TNI dan Polri memberantas narkoba harus bisa menjadi faktor penggentar pelaku tindak pidana narkoba sehingga mereka takut sekaligus menjadi model yang patut dicontoh negara lain. “Kesadaran untuk berintegrasi antar aparat keamanan di Indonesia adalah kunci sukses pemerintah Indonesia menyelamatkan generasi muda Indonesia,” tuturnya.

Sinergisitas TNI dan Polri dalam menghadapi bahaya ancaman narkoba menjadi sangat penting bila melihat tren bisnis narkoba yang semakin menggila. Menurut Ketua Presidium Ind Police Watch Neta S Pane, sindikat narkoba selalu nekat untuk memasukkan narkoba dalam partai besar ke Indonesia. Kasus penangkapan narkoba selalu terjadi, tapi kasus yang tidak tertangkap mungkin lebih banyak lagi. Ibarat teori gunung es, yang tertangkap hanya bagian puncaknya. Semua ini terjadi akibat tidak tegasnya pemerintah dalam menyatakan perang terhadap narkoba. “Akibatnya banyak anak bangsa yang menjadi budak narkoba dan makin banyak jumlah aparatur, terutama polisi yang terlibat narkoba,” ujar Neta, Rabu (7/2).

Nama Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari dan Kabareskrim Komjen Ari Dono menjadi sosok kuat yang disebut-sebut bakal memimpin pemberantasan narkoba sebagai Kepala BNN. (red)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler