Connect with us

Kesehatan

Nadia Murad Bakal Bangun RS Korban Pelecahan Seksual ISIS

Published

on

Pemenand Nobel Perdamaian Nadia Murad. (FOTO: AFP/Getty)

Pemenand Nobel Perdamaian Nadia Murad. (FOTO: AFP/Getty)

NUSANTARANEWS.CO, Baghdad – Wanita Pemenang Nobel Perdamaian asal Irak, Nadia Murad, berencana bangun rumah sakit di kota kelahirannya. Rumah sakit itu diperuntukan bagi korban pelecehan seksual. Sebelumnya, Murad pernah ditahan oleh militan ISIS sebagai budak seks. Perempuan Yazidi ini berbicara kepada ratusan orang di Sinjar, kampung halamannya di Irak utara.

“Dengan uang yang saya dapatkan dari hadiah Nobel Perdamaian, saya akan membangun sebuah rumah sakit di Sinjar untuk mengobati orang sakit, terutama para janda dan wanita yang terkena pelecehan seksual oleh militan ISIS,” tutur Murad.

Kepada pemerintah Irak dan Kurdistan, Murad menyampaikan rasa terima kasih, lantaran telah menyetujui rencananya tersebut. Murad menyampaikan, pihaknya akan segera menghubungi organisasi kemanusiaan untuk memulai pembangunan.

Murad adalah salah satu dari ribuan perempuan Yazidi yang diculik dan dijadikan budak seks oleh ISIS pada tahun 2014 lalu. Sebelum ISIS menyerang Sinjar, daerah Yazidi itu telah dihuni oleh sekitar 400 ribu orang, kebanyakan Yazidi dan Arab Sunni. Dalam hitungan hari, lebih dari 3.000 orang Yazidi terbunuh dan sekitar 6.800 diculik, baik dijual sebagai budak atau mengikuti wajib militer untuk bertempur melawan ISIS.

Murad berhasil melarikan diri setelah ditahan tiga bulan. Dan berhasil tiba di Jerman sebagai pengungsi. Di sana ia menjadi aktivis perempuan sembari berkampanye secara luas untuk memohon dukungan bagi komunitas Yazidi.

Loading...

Ia kembali ke Baghdad setelah menghadiri perayaan hadiah Nobel 2018 di Stockholm, Swedia. Murad diterima langsung oleh Barham Salih. “Tidak ada artinya hadiah Nobel tanpa terus bekerja demi perdamaian,” kata Murad kepada para pemimpin dan duta besar di Kantor Kepresidenan Irak, Rabu (12/12).

Baca Juga:  Dituding Penyebar Hoax, Pigai Tunggu Respons Istana dan KemenPUPR Soal Ruas Jalan Papua

Murad menganut agama suku minoritas Yazidi dan mengikuti kepercayaan leluhurnya. ISIS menyebut mereka sebagai penyembah setan. Ketika ISIS menyapu sebelah utara Irak pada 2014 mereka membunuh ratusan laki-laki Yazidi dan menculik serta memperbudak sekitar tujuh ribu perempuan Yazidi. Banyak yang berhasil kabur setelah pasukan Irak yang didukung AS berhasil mengusir ISIS dalam perang selama tiga tahun yang melelahkan. Tapi diperkirakan ada tiga ribu perempuan Yazidi yang dinyatakan hilang.

Murad meminta pemerintah Irak dan koalisi yang dipimpin AS untuk mencari para perempuan yang masih hilang. Ia juga meminta pemerintah untuk membangun kembali kampung halamannya, Sinjar. Lebih dari 80 persen Yazidi masih dihidup di kamp pengungsian.

Dalam pidato hadiah Nobelnya pada hari Senin (10/12) lalu ia meminta pemimpin-pemimpin dunia untuk berusaha mengakhiri kekerasan seksual. “Hadiah di dunia yang dapat memulihkan martabat kami hanya keadilan dan tuntutan kepada pelaku,” kata Murad.

Presiden Irak Barham Salih mengatakan Murad menjadi perwujudan dari penderitaan dan tragedi yang dialami rakyat Irak pada masa lalu. “Dan mewakili keberanian dan tekad membela hak asasi menghadapi penindas,” kata Salih.

Salih mengatakan suku minoritas Yazidi mengalami kejahatan yang mengerikan dalam sejarah. Ia meminta parlemen untuk segera meloloskan undang-undang yang mengakui penderitaan Yazidi sebagai genosida.

Saat Murad menerima hadiah Nobel di Oslo, Irak merayakan satu tahun kemenangan dari ISIS. Tapi masih ada beberapa serangan sporadis dan ISIS juga masih menguasai beberapa kantong kecil diperbatasan Suriah.

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler