Connect with us

Budaya / Seni

Museum Affandi

Published

on

Lukisan di Museum Affandi. Foto: IndonesiaKaya.com

Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

MUSEUM AFFANDI

Senja memerah di tepi sungai Gajahwong
Matahari berlayar di cakrawala
Merebahkan rindu di ufuk kanfasku

Beratap daun pisang
Museum ini meneduhkan kasih bersemi
Saat Affandi menyalakan terik matahari

Begitu pula kisah pantai Kusamba pada puisiku
Pada lukisan perahu dan matahari yang meronta di laut biru
Ada pasir berbisik

Loading...

Kaki langit siapa yang menjadi kanfas raksasa ini
Ketika warna melahirkan kemerdekaan dari rahim rindu
Ketika kuas menahan nafas
Saat jemari Affandi mengucap sumpahnya
Dan lukisan Potret Diri ini menjadi abadi dan mahakarya

Di tepi sungai Gajahwong ini
Affandi merayakan cinta pada sapuan kanfasnya
Menjadi mahaguru seribu ilmu
Sebab melukis itu berkarya
Bukan sekedar pamer agar dipuja

Affandi tak henti-henti menyulut mata langit
Pada Cangklong dan Potret Diri
Pada Barong dan Rangda
Getar hati dan mimpi mengabadikan tradisi Bali

Berbekal sepi bergegas ia ke puncak semadi
Merapikan matahari di ulu hati
Menajamkan matahati di bening pagi

Di Museum Affandi kuterkam nyali
Sebab menatap reka dan rupa di kanfas tua ini
Ada ribuan taji yang mencakar kepala hingga ke hati
Saat kanfas menghempas keras pada rongga dadaku
Ketika dua ayam jantan beradu mimpi
Kepada siapa puisi ini menggali prasasti?

Sebagai legenda
Affandi sudah tak butuh bunga dan kata-kata

Tapi di museum ini
Masih perlu pujangga untuk menulis puisi

(Merayakan Cinta pada Sang Maestro 2017)

Baca puisi-puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch di rubrik Puisi (Indonesia Mutakhir).

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll. (Selengkapnya)

Baca Juga:  Hentikan Persekusi - Puisi Emitha Thamrin

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler