Connect with us

Opini

Mundurnya Yudi Latif Bukti Sadarnya Kaum Cendekiawan dari Jebakan Politik

Published

on

Lukisan Yakub Kelana (Nampak muda-mudi Indonesia menuju lambang Garuda Pancasila). Ilustrasi: NusantaraNews.co

Lukisan Yakub Kelana (Nampak muda-mudi Indonesia menuju lambang Garuda Pancasila). Ilustrasi: NusantaraNews.co

NUSANTARANEWS.CO – Kalau Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun menyebutkan Yudi Latif sebagai seorang intelektual yang moralis, sepertinya hanya pembenci moral yang mengatakan itu salah. Sebab, seorang intelektual baru dikatakan berakhalk mulia apabila dia mampu memadukan antara kecerdasan dan moralitas..

Itulah yang ada pada pribadi Yudi Latif, seorang cendekiawan muda yang fasih dalam berbicara, runut dan unik dalam menulis, dan ikhlas dalam bekerja. Ini hanya penilaian subjektif penulis tentang intelektual muda ini.

Penulis akan menyebutnya sebagai cendekiawan muda Indonesia, karena sikap dan perilaku kenegarawanannya melampaui generasi se-zaman dengannya.

Baca juga: Dapat Gaji Ratusan Juta, Pejabat BPIP Disebut Seperti Kebagian Harta Rampasan Perang

Nama Yudi Latif menjadi perhatian utama publik ketika muncul gaji fantastis untuk anggota BPIP yang sebelumnya UKP-PIP. Yudi Latif adalah kepala dari lembaga unit kerja itu, dan ketika namanya dirubah menjadi badan yang setara dengan kementerian maka disebut sebagai Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP).

Perubahan nama itu bersamaan dengan keluarnya Perpres tentang gaji pejabat BPIP. Ketua Dewan Pengarah beserta anggotanya mendapatkan Rp 100 juta lebih sementara kepala BPIP dan deputi masing-masing mendapatkan Rp 70 dan Rp 60 Juta.

Gaji yang sangat besar menimbulkan protes riuh di kalangan masyarakat. Penulis menyebut bahwa gaji pimpinan BPIP sepertinya uang negara yang dianggap sebagai ghonimah (harta rampasan perang), sehingga dibagi-bagi oleh elit dengan semaunya.

Menanggapi berbagai kritik itu, Kepala BPIP Yudi Latif mengatakan bahwa Dewan Pengarah BPIP itu jangan dicemoh karena mereka juga korban. Pernyataan ini sederhana tapi memiliki makna yang dalam.

Baca Juga:  Kemenag: Mahasiswa Batu PTKIN Harus Bersinergi Tangkal Radikal dan Intoleran

Baca juga: Tafsir Pancasila Mana yang Sedang Berkuasa? Refleksi Mundurnya Yudi Latief dari Ketua BP Ideologi Pancasila

Beberapa tokoh yang ada dalan dewan pengarah BPIP yang dari dulu dianggap sebagai tokoh bangsa harus mendapatkan cemohan dari masyarakat akibat kebijakan presiden tentang gaji bersar itu. Yudi Latif mengatakan mereka adalah korban, apa maknanya?

Kalau ditinjau lebih dalam makna kata korban bagi para dewan pengarah yang sebagian besar tokoh bangsa, maka sangat jelas bahwa ketokohan mereka akan dilunturkan dengan pancingan uang dan kekuasaan, yang mereka juga tidak mengharapkan itu. Namun, cara kerja kekuasaan yang seperti ini membuat mereka menanggung cemohan dan kritikan. Efeknya kepercayaan publik pada tokoh-tokoh ini akan menurun drastis, dan ini akan menjadi masalah tersendiri.

Apalagi di sana ada orang seperti KH Ma’ruf Amin Ketua Umum MUI, Buya Syafi’i Ma’rif dan beberapa lainnya yang merupakan tokoh ulama dan intelektual bangsa ini. Dengan demikian, kebijakan presiden baik langsung maupun tidak langsung telah membuat mereka menjadi bahan candaan dan bangsa Indonesia sedikit demi sedikit akan kehilangan tokoh panutan.

Oleh sebab itu, penulis menilai bahwa ketika keributan gaji besar itu dan merasa dipojokkan dengan kebijakan presiden yang memposisikan para intelektual bangsa sebagai korban kebijakan, maka seorang cendekiawan muda yang dari awal merintis UKP-PIP Yudi Latif mengambil keputusan yang mencengangkan kita semua. Ia menyatakan mundur dari jabatan kepala BPIP.

Baca juga: Satu Tahun Berdiri, BPIP Telah Gunakan Anggaran Negara Sekitar Rp 7 Miliar

Semua orang merasa heran. Tapi secara pribadi penulis punya perasaan yang sama dengan Refly Harun yang juga telah merasakan bahwa intelektual yang bermoral seperti Yudi Latif tidak akan bertahan dalam BPIP itu karena selain fungsinya yang masih tidak jelas kerjanya juga masih samar-samar. Selain itu, BPIP belum memiliki mekanisme yang jelas dan ini adalah beban tersendiri, sehingga kewenangannya masih dipertanyakan.

Baca Juga:  PR Sri Mulyani Sebagai Menteri Keuangan

Maka untuk kesimpulan tulisan ini, penulis mengatakan bahwa seorang intelektual yang memiliki moral, memiliki hati nurani dan idealisme seperti Yudi Latif, tidak akan menggadaikan harkat, martabat dan harga dirinya hanya untuk seteguk asam kekuasaan dan setangkai uang dari laci negara.

Ia akan lebih memilih keyakinan dan kebenaran daripada melebur bersama dalam ketidakbenaran sistem. Ia mengerti mana yang akan merusakkan dan mana yang akan memperbaiki. Dan penulis sangat setuju, mundurnya Yudi Latif sebagai bukti bahwa ia telah mengajarkan kepada para intelektual muda untuk tidak mudah masuk ke kekuasaan lalu menjual idealismenya. Ia memilih jalan sederhana daripada mengkhianati tugas cendekiawan.

Baca juga: Analis Kebijakan dan Anggaran: Sebaiknya Gaji BPIP Buat Nyicil Hutang Negara

Tugas cendekiawan adalah membangun tarbiyah dan kesadaran bagi ummat, bangsa dan negara melalui spiritualitas dan intelektualitas.

Bukan berarti kita menempatkan mereka di atas menara gading, menggantung di awan tetapi tak menginjakkan kaki di tanah. Tidak! Kita ingin mereka ada di tengah masyarakat tanpa harus dinodai oleh trik politik yang tidak baik. Kita harus menjaga mereka dari taktik politik yang bejat supaya mereka tidak ikut menanggung beban dari kesalahan penguasa.

Pungkasan, seorang cendekiawan yang sesungguhnya adalah mereka yang membangun kesadaran profetik bagi anak bangsa yang akan membentuk majelis tarbiyah yang mencerdaskan yang menjadi ujung tombak dari terbangunya kesadaran bernegara yang baik dan benar. Wallahualam bis shawab

Baca juga: Benarkah Jokowi Telah Mendistorsi Makna Pancasila?

Oleh: Furqan Jurdi, Ketua umum Komunitas Pemuda Madani

Loading...

Terpopuler