Connect with us

Budaya / Seni

Munajat Cinta Jiwa yang Fana

Published

on

kidung cinta, jalaluddin rumi, kidung cinta jalaluddin rumi, puisi jalaluddin rumi, nusantaranews

Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri. (Foto: Hossein Behzad)

Puisi Adi Prayogi

JIWA YANG FANA

Seribu bahasa bertutur dalam jiwa
Seribu kata berlantun dalam nada
Menatap hati tak seputih syurga
Menatap syurga tak kasat di pelupuk mata

Duhai pemilik cinta
Ragaku tak kuat menahan nafsu semata
Hamparan sajadah tempat mengadu gunda kelana
Bersimpuh air mata di bawah gelap gulita
Hanya rembulan menyinar melalui jendela

Duhai pemilik raga
Jiwa ini terasa hampa
Jiwa ini kan menjadi fana
Berselimut dosa tak berdaya
Air mata tak kuasa menahan asa
Terngiang noda menutupi jiwa

Loading...

Purwokerto, 11 maret 2019

MUNAJAT CINTA

Ayunan langkah menuju lembah
Memandang sebuah keindahan
Mencari ketenangan jiwa yang memendam rasa amarah
Munajat cinta hanya kepada tuhan

Inikah cinta yang hakiki?

Seorang jiwa bertutur indah, bernoda didalam raga
berilmu seluas samudra, tak tercermin dalam akhlak mulia
bahasamu, rayuanmu, kasihmu
tidak membekas dalam rindu

Purwokerto, 13 maret 2019

TENANG

Adinda

Ku tau keelokanmu indah bagai melati mekar
Harumnya akhlakmu tak termakan oleh zaman
Luhur oleh pendidikmu tak luntur oleh nista

Adinda

Ku bertanya tanya dimana kini berada
Berdoa kepada tuhan
Namamu ku panjatkan
Tersimpan dalam papan
Untuk kehidupan yang tenang

Purwokerto, 9 maret 2019

SUNYI

Kemana kau akan pergi
Kami sunyi tanpa kehadiranmu
Bersama mengintai waktu
Dalam kesenangan, tangis dan haru

Secepat ini kau akan pergi
Meninggalkan kami tak berarti
Ungkapan rasa tak sadar menatap ini

Tetapi adinda tak kuasa menetes air mata
Kepulangan mu secepat senja

Sunyi rasanya

Ragamu membuat kami berwarna ria
Tuturmu memendam aura
Kasihmu menyayangi kami berdua
Namun tuhan berkata mulia
Dalam suratan takdirnya tertulis atas kehendakNya

Baca Juga:  Festival Garam Sumenep Upaya Membangun Iklim Industri Garam yang Dinamis

Hanya terdiam seribu bahasa
Memandangmu pergi begitu saja

Purwokerto, 9 maret 2019

Adi Prayogi, lahir 13 Juni 2000. Pemuda asal indramayu – jawa barat yang hobi traveling serta kuliner makanan khas daerah. Alumnus pesantren Al Urwatul Wutsqo Indramayu. Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto. Menulis artikel dan fiksi. Untuk mengenal lebih lanjut, silahkan kunjungi profilnya di FB Adi Prayogi dan IG: @ibn5ukadi
_______________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected]

Baca: 10 Hal Yang Harus Diketahui Sebelum Kirim Tulisan ke Nusantaranews.co

Loading...

Terpopuler