Connect with us

Politik

Muhasabah Kebangsaan: Perempuan dalam Pusaran Konflik Politik

Published

on

al-Zastrouw pada sebuah acara di Bumiayu. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Pribadi)

al-Zastrouw pada sebuah acara di Bumiayu. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Pribadi)

NUSANTARANEWS.CO – Tampilnya perempuan dalam pusaran arus konflik politik sudah terjadi sepanjang sejarah. Dalam konteks sejarah Nusantara, hal ini bisa dilihat pada sosok Pembayun, putri Sultan Agung yang harus menyamar menjadi penari untuk menarik hati Ki Gede Wonoboyo penguasa Mangir yang juga dikenal dengan sebutan Ki Ageng Mangir. Langkah ini dilakukan sebagai siasat menaklukkan Mangir (M.C. Riclefts: 2008)

Peran penting perempuan dalam konflik politik ini juga terlihat dalam sosok Ratu Amangkurat yang berhasil menyelamatkan Arya Mangkunegara dari tangan Paku Buwono II dalam konflik politik yang dipicu oleh drama perebutan cinta terhadap wanita (W. Rommelink: 2002). Kisah yang sama juga bisa dilihat pada sosok Roro Hoyi, perempuan jelita yang menicu terjadinya ontran-ontran (konflik) di Kraton Mataram lebih tiga abaf silam

Jauh sebelum konflik Mataram Islam, drama cinta dalam konflik politik ini sudah terjadi pada era khalifah Ali bin Abi Thalib. Para sejarawan muslim mencatat nama Qathan binti Syijnah, perempuan cantik yang terlibat dalam pembunuhan khalifah Ali Bin Abi Thalib.

Disebutkan dalam sejarah, Qathan nemiliki dendam pada khalifah Ali karena terbunuhnya ayah dan kakaknya dalam Perang Nahrawan. Selain cantik, Qathan juga dikenal sebagai perempuan ahli ibadah. Namun, dendam dan kebencian telah membuatnya gelap mata.

Untuk melampiaskan dendamnya, Qathan memperalat Ibn Muljam yang sudah dirasuki ideologi Khawarij yang tekstual intoleran. Pemahaman Islam yang seperti inilah yang mendorong Ibn Muljam membunuh Sayyidina Ali. Dorongan ini menjadi semakin kuat ketika bertemu dengan gelora cinta yang membara terhadap Qathan yang juga menginginkan terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Baca Juga:  Rakernas ke-IV, PPP Usung Revitalisasi Untuk Indonesia dan Berkeadilan
Loading...

Didorong oleh keyakinan agama yang penuh kebencian dan cinta membara pada wanita, Ibn Muljam berhasil membunuh Sayyidina Ali dengan pekik takbir dan ayat-ayat Qur’an yang berhamburan dari mulutnya. Dari sinilah konflik politik berbumbu asmara bertopeng agama dimulai dalam sejarah Islam.

Fakta sejarah ini menjadi referensi penting dalam mensikapi gerakan politik akhir-akhir ini yang melibatkan kaum perempuan di mimbar utama dan garis depan yang juga menggunakan isu dan simbol agama.

Baca juga: Laksamana Malahayati: Laksamana Laut Muslimah Pertama di Dunia

Memang tidak semua perempuan yang terlibat dalam pusaran konfik politik hanya karena dorongan nafsu cinta, dendam amarah dan kekuasaan. Dalam sejarahnya, banyak juga kaum perempuan yang terlibat dalam politik karena panggilan spirit perjuangan. Seperti terlihat pada sosok Ratu Kalinyamat, Laksamana Keumalahayati, Nusaibah binti Kaab, Khaula binti al-Azwar dan sebagainya.

Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono yang cedas dan trengginas. Dia menjadi penguasa Kadipaten Jepara menggantikan suaminya, pangeran Hadirin yang lebih dulu wafat. Malahayati adalah perempuan pertama yang menjadi Laksamana. Menurut catatan John Davis, nakhoda kapal Belanda, saat itu Malahayati memimpin 1000 kapal kesultanan Aceh yang masing-masing berkapasitas 400-500 orang. Demikian juga Nusaibah dan Khawla adalah perempuan yang terjun ke medan perang dan ikut bertempur dengan niat tulus berjuang.

Rasanya tidak bijak menjustifikasi perempuan yang menjadi corong gerakan politik saat ini hanya sebagai intrik politik dengan drama cinta yang ada di baliknya. Sebagaimana yang terjadi dalam kisah Qathan dan Ibn Muljam, atau Pembayun dengan Ki Ageng Mangir. Tapi juga tetlalu naif dan tergesa-gesa melihat gerakan emak-emak ini sebagai perjuangan politik mulia seperti gerakan Kalinyamat atau Malahayati. Sejarahlah yang akan membuktikan dan menjadi hakim bagi gerakan emak-emak dan para perempuan yang hari ini bersuara lantang mengutip ayat suci di panggung politik. Apakah mereka menjadi golongan Qathan binti asy-Syijnah cs atau Nusaibah binti Kaab cs?

Baca Juga:  Garap Laut, PCNU Lamongan Bentuk Lembaga Kemaritiman

Melihat gigihnya gerakan emak-emak dalam gerakan politik akhir-akhir ini rasanya perlu membaca sejarah sebagai referensi agar tetap bijak dan kritis menghadapi manuver mereka. Di tengah suasana politik yang serba kabur, yang sulit membedakan fitnah dan kebenaran, antara fakta dan gosip yang bertebaran di dunia maya, sikap waspada dan kritis sangat diperlukan termasuk kepada mereka yang selalu menggunakan ayat dan mengatasnamakan agama.

Oleh: Al-Zastrouw (Zastrouw Al Ngatawi) merupakan budayawan Indonesia. Pernah menjadi ajudan pribadi Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid. Juga mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU periode 2004-2009

Loading...

Terpopuler