HukumKolomPolitikSpiritual

Muhasabah Kebangsaan: Humor, Cara Sehat Akal Sehat

“Tak banyak lelucon dalam obat, tetapi dalam lelucon ada banyak obat” (John Billings)

Akkhir-akhir ini muncul berbagai meme dan status lucu di medsos dengan kadar humor yang sangat tinggi. Terutama sejak Setya Novanto (Setnov) menjadi tersangka kasus korupsi e-KTP.

Sebenarnya humor di media sosial terkait dengan Setnov sudah muncul sejak isu suap Freeport menjadi wacana publik yang kemudian memunculkan istilah “Papa Minta Saham”. Kemudian naik lagi ketika Setnov berbaring sakit di RS ketika menerima panggilan pemeriksaan dari KPK.

Pasca kecelakaan mobil yang menimpa Setnof, muncul status humor yang massif dan kreatif. Dua hari terakhir hampir semua laman media sosial dipenuhi oleh meme dan status humor tentang Setnov.

Dalam jagad maya sebenarnya tak hanya Setnov yang menjadi sasaran humor para netizen, bahkan sekelas presiden RI, Bapak Joko Widodo juga dijadikan sasaran humor di media sosial.

Yang menarik, tidak hanya para pejabat dan piblik figur, berbagai isu agama yang rentan memunculkan perdebatan dan konflik mulai ditanggapi netizen dengan cara humor, sehingga melahirkan meme dan status yang lucu dan menggelikan.

Ada beberapa hal yang bisa dicatat dari fenomena meningkatnya humor di medsos ini. Pertama, ada indikasi para warga dunia maya mulai capek dengan fitnah, caci maki dan permusuhan yang ternyata hanya melahirkan ketegangan. Hidup menjadi tidak nyaman, penuh prasangka dan curiga, terkotak kotak dan sempit.

Baca Juga:  Tumbuhkan Semangat Nasionalisme, Laura Jadi Irup HUT RI Ke 77 Di Sebuku

Mereka mulai membutuhkan suasana santai dan lapang agar bisa menikmati hidup tenang dan nyaman. Lepas dari berbagai ketegangan dan permusuhan. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan humor, karena humor tidak hanya mampu meleburkan sekat tetapi juga bisa menjadi kanalisasi atas berbagai tekanan emosi.

Sebagaimana dinyatakan Dr. Madan Kataria, humor bisa menjadi terapi psikologis karena ketika seseorang tertawa maka akan bisa menimbulkan hormon anti stres.

Kedua, memcerminkan bahwa masyarakat kita, khususnya warga dunia maya memiliki derajad kreativitas yang tinggi sehingga mampu menyampaikan kritik dengan cara yang lucu dan menyenangkan. Bahkan bisa mengubah dan mengekspresikan perasaan sakit hati dan kebencian melalui humor yang menyegarkan.

Ini bukan persoalan mudah, karena tidak hanya diperlukan kreativitas yang tinggi tetapi juga dituntut kemampuan mengendalikan emosi yang kuat agar tetap bisa menjaga akal sehat.

Artinya, orang yang memiliki sense humor tinggi adalah orang yang kreatif. Karena, sebagaimana dinyatakan Robert Allan Black, humor merupakan cara efektif membangkitkan imajinasi dan daya kreatif.

Ketiga, maraknya humor di medsos dalam menanggapi berbagai kasus yang terjadi di negeri ini mencerminkan masih digunakannya cara kultural tradisonal yang sarat dengan kearifan. Secara kultural humor merupakan mekanisme menyampaikan kritik dan protes di kalangan masyarakat Nusantara. Hal ini terlihat adanya unsur humor dalam berbagai mitos legenda, foklor dan cerita-cerita rakyat yang dimiliki masyarakat.

Baca Juga:  Kemendagri dan LPM RI Tegaskan Komitmen dalam Membangun Desa

Tradisi humor ini bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan dunia pesantren. Para santri dan kiai selalu menggunakan humor sebagai sarana menyampaikan dan mengajarkan pesan agama.

Hal ini dilakukan agar pesan-pesan agama bisa diterima dengan mudah dan penuh suka cita. Sehingga, agama tidak dirasakan menjadi beban dan ancaman yang menakutkan atau penjara yang menyesakkan.

Tradisi humor di pesantren biasanya dilakukan dengan cara gojlokan, saling meledek antar santri. Ini dimaksudkan unt melatih mentertawakan diri sendiri sebagai sarana pengendalian diri agar tidak mudah marah dan tersinggung, sabar menghadapi cobaan dan hinaan.

Munculnya cerita Abu Nawas yang kritis dan sarkastik namun tetap lucu dan menggelitik. Kisah-kisah sufi yang penuh humor, namun penuh makna, merupakan bukti penggunaan humor sebagai metode penanaman nilai dan pembetukan karakter di kalangan pesantren.

Inilah yang menyebabkan para kiai dan muballigh pesantren memiliki ketrampilan dan sense of homor yang tinggi ketika menyampaikan pesan agama. Dari sini bisa dipahami kalau sosok Gus Dur yang dibesarkan dalam tradisi pesantren memiliki sense of humor yang tinggi.

Baca Juga:  Bantah Mundur, 13 DPAC Demokrat All Out Tambah Kursi Pemilu 2024 di Surabaya

Apa yang terjadi menunjukkan bahwa humor tidak saja memiliki fungsi psikologis, tetapi juga fungsi sosial. Karena selain bisa merangsang tumbuhnya kreatifitas dan sarana terapi psikologis, humor juga bisa menjadi sarana menyampaikan kritik yang efektif dan akurat.

Untuk melihat peran humor dalam aspek sosial dan psikologi, bisa dilihat gagasan Sigmund Freud yang membagi humor dalam tiga katagori: pertama comic yaitu tindakan lucu yang menimbulkan tawa tanpa ada motivasi. Hanya sekedar melucu; kedua, humour yaitu guyonan yang mengandung motivasi kritik, sarkas dan sejenisnya; ketiga wit, humor intelek. Humor jenis ini memerlukan pemikiran untuk tertawa dan menemukan kelucuannya.

Di tengah suasana kebangsaan yang diwarnai berbagai ketegangan sehingga rawan terjebak dalam konflik ada baiknya kita terus menjaga sensitivitas humor agar bisa memproduksi humor yang bisa memancing tawa. Karena inilah cara efektif menjaga akal sehat di tengah kegilaan zaman. Dan humor juga merupakan cara sehat dan indah menghindari kegalauan menghadapi situasi politik yang makin lucu tapi kadang tidak menyenangkan.

Oleh: Al-Zastrouw (Zastrouw Al Ngatawi), penulis merupakan budayawan Indonesia. Pernah menjadi ajudan pribadi Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid. Juga mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU periode 2004-2009.

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 15