Berita UtamaFeaturedKolom

Muhasabah Kebangsaan Akhir Tahun 2017: Waktu dalam Air, Batu dan Pohon

Penulis: Al-Zastrouw*

NUSANTARANEWS.CO – Orang bijak bilang, waktu itu seperti air yang mengalir. Dia hanya sekali menyentuh dan melewati suatu permukaan, setelah itu dia akan berlalu, berjalan untuk menyentuh permukaan lainnya.

Seperti air mengalir, waktu hanya datang sekali dalam setiap episode kehidupan, setelah itu akan lewat dan berlalu meninggalkan kekinian menuju masa depan. Tak ada yang bisa menghentikannya, dia akan terus berjalan menuju garis takdir kehidupan.

Sebongkah batu tak pernah peduli pada air yang melewati dan menyentuh permukaannya. Air itu dibiarkan berlalu begitu saja, menempel sebentar dan membuat permukaan jd basah. Ya.. hanya di permukaan. Ketika air berlalu maka permukaan batu itu akan kembali kering, tanpa bekas apapun.

Berbeda dengan batu, pohon tdk pernah membiarkan aliran air yang menyentunya berlalu begitu saja. Air yang mengalir dan menyentuhnya akan dimasukkan dalam pori-pori, diserap oleh akar dialirkan dalam batang, ranting dan daun. Diproses dan dimasak untuk pertumbuhan dirinya, hingga menjadi daun yang rimbun dan buah yang bermanfaat untuk kehidupan.

Inilah ayat kauniyah yang bisa menjadi cermin kehidupan. Jika waktu ibarat air, maka sikap manusia terhadap waktu bisa diibaratkan batu dan pohon. Manusia yang bijak yang cerdas dan alim tak akan pernah membiarkan waktu berlalu dan menyia2kan begitu saja. Dia akan menyerap setiap watu yang menghampiriya, memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengembangkan diri agar kehidupannya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Baca Juga:  Pada Pembacaan Pledoi Wilson Lalengke, Tim PH Minta Majelis Hakim Bebaskan Terdakwa dari Segala Dakwaan JPU

Berbeda dengan menusia bebal dan dungu yang menyia2kan waktu berlalu begitu saja. Orang seperti ini tak pernah bisa menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan baik. Waktu yang menghampiri kehidupannya hanya sekedar digunakan untuk membasahi permukaan hidup, penyejuk fisik semata. Tak ada yang masuk dalam hati, jiwa dan ruhaninya, sehingga perjalanan hidup akan berlalu begitu saja, lenyap seiring perjalanan waktu. Mereka ini seperti batu yang membiarkan air mengalir yang menyentuh permukaannya.

Sebagaimana halnya air yang membawa zat-zat yang berguna bagi kehidupan dalam setiap aliran yang menyentuh batu dan pepohonan, waktu yang menghampiri kita bersama kenyataan juga membawa berbagai hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Tapi kemanfaatan itu hanya bisa dicerap dan diambil oleh mereka yang memiliki kepekaan membaca kenyataan yang datang bersama waktu.

Jelas di sini terlihat, waktu yang datang menghampiri setiap episode kehidupan memiliki makna dan nilai yang amat penting dan berharga, sehingga manusia akan merugi jika menyia-nyiakannya. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits Nabi: “dua kenikmatan kebanyakan manusia tertipu pada keduanya yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR Bukhari). Hadits ini mensyiratkan orang yang menyia-nyiakan waktu hingga berlalu begitu saja, sama dengan menyia-nyiakan nikmat Allah.

Baca Juga:  Jembrana Jadi Study Tiru Pemkab Biak Numfor, Sekda Budiasa: Bisa Dikembangkan Saling Tukar Pikiran

Para ulama banyak yang menganggap bahwa waktu merupakan nikmat Allah yang tak dapat dinilai dengan apapun. Bahkan Imam Hasan Basri pernah menyatakan; “saya melihat ada segolongan manusia yang memberi perhatian pada waktu melebihi perhatiannya terhadap dinar dan dirham”. Inilah orang yang tidak menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja, mereka memanfaatkan dan menggunakan waktu yang menghampirinya seperti pohon menyerap air yang mengalir menyentuh permukaannya.

Kini tahun 2017 akan berlalu dan tak akan kembali lagi. Seperti air mengalir, 2017 telah menyentuh kehidupan kita dengan berbagai kenyataan yang menyertainya. Dan keberadaanya akan digantigan oleh tahun 2018 yang akan segera datang. Datang dan perginya waktu adalah hukum besi kehidupan. Manusia tak dapat meratapi dan menahan kepergiannya juga tak akan memiliki kemampuan menolak kehadirannya

Di penghujung pergantian tahun ini saatnya kita merenung, sejauhmana kita bisa menyerap sari pati kehidupan yang datang bersama waktu selama 2017. Seberapa besar bisa memanfaatkan waktu yang telah menghampiri kita.

Baca Juga:  Komite Akreditasi Nasional Nyatakan LSP Geospasial Lulus Akreditasi Awal

Apakah kita termasuk orang yang bisa menyerap dan memanfaatkan keberadaan waktu yang telah datang memghampiri, seperti pohon menyerap air mengalir yang menyentuhnya? Atau jangan-jangan kita tergolong orang yang menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja? Seperti seonggok batu yang membiarkan air mengalir menyentuh permukaanya, basah sebentat kemudian kering kembali. Tanpa bekas dan tanpa makna?

Selamat tahun baru 2018.

Al-Zastrouw (Zastrouw Al Ngatawi), penulis merupakan budayawan Indonesia. Pernah menjadi ajudan pribadi Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid. Juga mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU periode 2004-2009.

Related Posts

1 of 1.461