Connect with us

Inspirasi

Muallaf Asal Jerman Ini Beberkan Sejarah Singkat Tahun Baru Masehi

Published

on

Kritikus Sastra Katrin Bandel (Foto via wikimedia)

NUSANTARANEWS.CO – Kritikus sastra asal Jerman Katrin Bandel berbagi pengatahuan perihal pergantian tahun yang baru saja lewat. Berdasarkan literatur yang telah ia pelajari, bahwa pergantian tahun yang selama ini dirayakan merupakan perayaan yang merujuk pada kalender Gregorian.

Dirinya menjelaskan, nama “Gregorian” mengikuti nama Paus Gregor XIII, yang hidup tahun 1502 sampai 1585. Kalender Gregorian mulai digunakan tahun 1582 atas perintah Paus, menggantikan kalender Julianik yang dipakai sebelumnya. Kedua kalender itu tidak jauh berbeda satu sama lain, tapi kalender Gregorian dianggap sebagai penyempurnaan dari kalender Julianik.

Perempuan berdarah Belgia yang memilih menjadi muallaf ini melanjutkan, kira-kira pada waktu bersamaan dengan perubahan kalender tersebut, tanggal 1 Januari mulai ditetapkan sebagai awal tahun. Sebelumnya, ada yang menggunakan Natal atau Paskah sebagai awal tahun.

Hanya beberapa negara saja yang langsung menggunakan kalender Gregorian pada tahun 1582, antara lain Spanyol dan Portugal. Negara-negara Katolik lain kemudian menyusul pada tahun-tahun berikutnya. Sedangkan negara-negara Kristen Protestan awalnya menolak. Bahkan di beberapa kota terjadi polemik yang hampir berujung pada peperangan, termasuk di kota Augsburg yang penduduknya sebagian Katolik, dan sebagian Protestan.

Sementara itu lanjut perempuan yang mengaku keluarga besarnya menganut atheisme menjelaskan negara-negara lain, termasuk di luar Eropa, menyusul secara perlahan-lahan. Negara-negara Kristen ortodoks, termasuk Rusia, mempertahankan kalender Julianik sampai awal abad ke-20. Di Indonesia, tentu saja penggunaan kalender Gregorian berawal dari penjajahan Belanda.

Bahwa kalender baru ini, lanjut Katrin, tidak serentak diadopsi di seluruh dunia, memiliki efek yang kadang-kadang agak ganjil. Misalnya, sastrawan William Shakespeare dan Miguel di Cervantes sama-sama meninggal pada tanggal 23 April 1616, tapi pada kenyataannya, Shakespeare hidup 10 hari lebih lama daripada Cervantes. (*)

Editor: Romandhon

Advertisement

Terpopuler