Connect with us

Ekonomi

MSP: Untuk Memahami Kedaulatan Pangan, Baca Pidato Bung Karno Tahun 1952

Published

on

Diskusi tematik Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) bertajuk Sampai Dimana Kedaulatan Pangan Indonesia & Apa Langkah serta Solusinya?, Jakarta, Sabtu (24/2). (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Sekretaris Jenderal MSP & Alumnus IPB Mangontang Simanjuntak mengatakan bahwa untuk memahami kedaulatan pangan sangat penting membaca dahulu pidato Bung Karno saat mendirikan IPB (baca: Soal Hidup Atau Mati, Pidato Bung Karno pada peletakan batu pertama dari pada Gedung Fakultas Pertanian Bogor pada tanggal 27 April 1952). Menurut dia, di sana terdapat data-data yang logis yang hingga kini masih relevan dan sahih digunakan sebagai dasar pemahaman kedaulatan pangan.

Mangontang mengatakan bahwa problem yang terjadi saat ini adalah ketergantungan yang menyebabkan hilangnya kedaulatan.

“Secara cita-cita ingin berdaulat tapi tidak menggapai jalan yang mengarahkan pada kedaulatan pangan itu sendiri, hingga saat ini bibit lokal begitu banyak dan perlu dilindungi tapi petani menggunakan bibit hibrid, ini yang menjadi matinya kreativitas penemuan bibit dan menimbulkan ketergantungan bibit yang notabene-nya sudah dikapitalisasi pemilik modal,” papar Mangontang dalam sebuah diskusi tematik Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) bertajuk Sampai Dimana Kedaulatan Pangan Indonesia & Apa Langkah serta Solusinya?, Jakarta, Sabtu (24/2).

Lalu apa yang bisa diperbaiki ketika bibit dan pupuk harus dibeli? “Disingkat wisdom hilang, keseimbangan hilang, semua harus diarahkan menuju produktivitas, dan kenaikan anggaran harus ditujukan pada kedaulatan memperkuat petani memuliakan benih lokal yang bisa ditanam terus menerus,” katanya.

Kemudian, kata dia, memperkuat akses permodalan dan peralatan agar petani bisa memproduksi pupuk sendiri, serta daya dukung tehnologi agara petani sesuai kultur lahan dapat membuat atau memproduksi sarana produksi pertaniannya.

Dia menambahkan, rata-rata petani komunitas adalah orang yang ahli di bidangnya justru ia juga banyak menggali dan berbagi ilmu melalui pengalaman-pengalamannya dengan petani komunitasnya seperti membuat alat pecacah daun atau copper yang bisa digunakan sendiri, membuat bakteri untuk membuat pupuk, mengkomposkan jerami yang dapat menambah penghasilan petani kurang lebih 2,5 juta dan banyak hal lain yang sebenarnya praktek kedaulatan pangan ada di lapangan.

“Namun disayangkan, kepemilikan lahan yang kini rata-rata lahan 0,2 ha sama dengan 400 ribu/bulan satu KK ini sangat menyedihkan, dan kedaulatan pangan kita berada di persimpangan,” ujar Alumnus IPB yang sehari-hari menjadi petani di daerah Jonggol ini.

Editor: Gendon Wibisono

Loading...

Terpopuler