Connect with us

Global

Motif Serangan AS dan Sekutu Terhadap Suriah Bukan Faktor Senjata Kimia

Published

on

Situasi di Ghouta Timur

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Hampir seluruh media mainstream menyebut serangan AS, Inggris dan Perancis di Suriah pada 14 April lalu karena alasan penggunaan senjata kimia di Douma, Ghouta Timur. Isu senjata kimia ini menguat dan menjadi konsumsi utama sehingga Presiden AS Donald Trump mengambil keputusan sekaligus memerintahkan pasukan AS, Inggris dan Perancis menyerang secara militer kawasan tersebut.

Sayangnya, penyerangan secara militer tersebut tidak berdasarkan bukti faktual melainkan masih sebatas isu belaka. Sementara Presiden Perancis mengatakan motif penyerangan masih rahasia, dan akan terus menjadi rahasia sampai bukti terkait senjata kimia ditemukan di Douma.

Baca juga: Atmosfir Perang di Timur Tengah Kian Membara

Namun jika dilihat dari sudut pandang geopolitik, peneliti Global Future Institute (GFI), Jakarta M Arief Pranoto mengungkapkan bahwa serangan militer secara terbuka terhadap Suriah oleh AS dan sekutu merupakan wujud kegagalan geostrategi barat yang sudah berlangsung sejak 2011 melalui modus operandi proxy war.

“Ketika medan tempur di Suriah sudah menginjak ke peperangan terbuka, pertanyaannya adalah, apa lagi peran Jabhat al Nusra, atau ISIS, dan lain-lain dalam konflik Suriah kini dan ke depan? Jawabannya, nihil. Sekali lagi, nihil. Dengan kata lain, peran yang dimainkan (role playing) selama ini dianggap selesai karena fungsi dan tugasnya telah diambil-alih oleh sang tuan, pemilik hajatan,” kata Arief dikutip dari catatannya, Selasa (17/4/2018).

Baca juga: AS dan Turki Sedang Mem-Balkanisasi Suriah Dengan Kekuatan Militer

Seperti diketahui, Ghouta Timur merupakan benteng terakhir kelompok teroris yang didukung aliansi AS-sekutu Eropa dan sekutu Timur Tengah. Kekalahan kelompok teroris di Suriah, termasuk di Ghouta Timur merupakan kekalahan telak AS dan sekutu selama perang Suriah yang sudah berlangsung hampir delapan tahun. Akibatnya, kenyataan ini telah membuat marah musuh-musuh Suriah, mereka tentu akan mencari dalih baru untuk melakukan serangan. Dihembuskanlah isu adanya penggunaan senjata kimia di Douma.

Baca juga: Ghouta Timur, Benteng Terakhir Teroris Dukungan Aliansi AS, Israel dan Arab Saudi

Arief menuturkan sedikitnya ada dua motif mengapa akhirnya Suriah diserangan AS dan koalisi. Pertama, faktor geoposisi Suriah berada di pertengahan simpul Jalur Sutra (Silk Road).

“Ke utara menuju Eropa, ke selatan menuju Afrika Utara. Dengan kata lain, menguasai Suriah identik telah menguasai separuhnya. Separuh dari Jalur Sutra,” ujarnya.

Kedua, faktor geopolitics pipeline. Suriah dilalui banyak pipa minyak dan gas yang sifatnya lintas negara bahkan antar-benua. Setiap hari, berapa juta barel dari berbagai negara menuju negara lain yang melintasi Suriah? Menurut salah satu sumber Global Future Institute (GFI) di Jakarta, pemerintah Suriah mengutip sekitar $5/barel, katanya.

“Berapa juta barel setiap harinya melintas Suriah? Dan boleh jadi, APBN Suriah selama ini barangkali didominasi dari kontributor sektor fee pipanisasi,” kata dia.

Baca juga: Bagaimana Kalau Imperium Amerika Runtuh?

Dengan kenyataan itu, tak heran mengapa kemudian Suriah menjadi ajang rebutan antara adidaya barat (AS dan sekutu) versus adidaya Timur (Rusia, Cina dan lain-lain).

Presiden Suriah Bashar Al-Assad dinilai bandel karena tidak mau didikte oleh barat. “Ada analogi yang bisa dijadikan clue guna memaknai serangan militer Barat ke Suriah, yaitu ketika AS diterjang krisis akut (great depression) dekade 1930-an tempo doeloe maka ketika diletuskan Perang Dunia ke-2, ekonomi Paman Sam kembali pulih. Hipotesanya adalah, apakah serangan militer Barat ke Suriah merupakan indikasi bahwa sesungguhnya AS tengah dirundung krisis ekonomi teramat akut?,” ucap pria kelahiran Jawa Timur ini. (red)

Baca juga: Mencermati Runtuhnya Pax Americana

Editor: Eriec Dieda

Advertisement

Terpopuler