Misi Perdamaian Rusia di Republik Dombass Diplintir AS-NATO

Misi perdamaian Rusia di Republik Dombass diplintir AS-NATO.
Misi perdamaian Rusia di Republik Dombass diplintir AS-NATO/Foto: Reuters

NUSANTARANEWS.CO – Misi perdamaian Rusia di Republik Dombass. Media mainstream barat dan jaringan media sekutunya beberapa hari belakangan ini terlihat sibuk memberitakan “invasi Rusia ke Ukraina” – lupa dengan agresi dan kekerasan yang dilakukan oleh Ukraina selama delapan tahun ini terhadap rakyat Lugansk dan Donetsk (yang kebetulan banyak etnis Rusia di sana).

Selama hampir satu dekade ini, Rusia masih bersabar dan memandang konflik tersebut sebagai konflik sipil domestik Ukraina. Dan Rusia hanya menuntut ketaatan Ukraina terhadap “Kesepakatan Minsk” dan diakhirinya pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap etnis Rusia

Kekerasan yang terus berlanjut oleh Ukraina akhirnya mendorong Rusia mengakui kemerdekaan Lugansk dan Donetsk – yang otomatis merubah dimensi konflik ini bukan lagi perang saudara, tetapi perang antar negara-negara yang berdaulat.

Wajar saja bila Rusia menyerang beberapa posisi militer Ukraina untuk menghentikan serangan terhadap warga sipil di kedua wilayah tersebut. Namun operasi militer terbatas Rusia untuk menjaga perdamaian telah diputar balik kebenarannya oleh Amerika Serikat (AS) dan NATO. Dunia internasional langsung menekan Rusia dengan sanksi ekonomi. Coba bandingkan dengan kelakuan AS-NATO membom Yugoslavia, Libya, Suriah – atau pemusnahan negeri Yaman (yang gagal) oleh koalisi militer Pimpinan Arab Saudi yang mengakibatkan bencana kelaparan terbesar di Abad 21 – dunia diam saja!

Sementara Rusia yang bergerak memulai misi perdamaian untuk melindungi rakyat Donbass dari agresi dan kekerasan militer Ukraina dengan beberapa operasi militer terbatas saja telah menghebohkan dunia. Padahal wajar saja bila Ukraina ditampar satu dua kali oleh Rusia agar menghentikan serangan militernya terhadap wilayah yang berdaulat. Apalagi tidak ada target sipil yang menjadi sasaran serangan Rusia – selain pangkalan militer staregis di beberapa kota Ukraina serta markas milisi pro-Maidan pembantai etnis Rusia.

Jadi tidak ada invasi Rusia seperti yang dipropagandakan media barat. Rusia hanya ingin menghentikan agresi militer Ukraina terhadap wilayah berdaulat dan menjaga perdamaian – sehingga tidak ada lagi pembantaian rakyat sipil khususnya terhadap etnik Rusia. (Agus Setiawan)