Connect with us

Politik

Mirip Kasus Banyuwangi 1998, Polisi Diminta Usut Pembunuhan Ulama di Jabar

Published

on

Penganiayaan terhadap Ustadz Prawoto dan KH Umar Basri (Foto Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Kasus penganiyaan terhadap ulama di Jabar (Jawa Barat) menurut mantan Ketua Lesbumi PBNU Zastrouw Al Ngatawi dalam keterangan tertulisnya mengingatkan kembali pada tragedi pembantaian di Banyuwangi 1998. Bermula dari isu pembunuhan tukang santet kemudian melebar menjadi pembantaian terhadap kiai-kiai kampung dan guru-guru ngaji.

Dalam kasus di Jabar, peristiwa pertama menimpa Kiai Umar Basri (60), pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, yang dianiaya seorang pria berinisial A (55), Sabtu (27/1/2018) pagi.

Kemudian peristiwa kedua terjadi pada Kamis (1/2/2018), Komandan Brigadir Persatuan Islam Indonesia (Persis) HR Prawoto dianiaya dengan menggunakan pipa besi (linggis) di Blok kasur, RT 1 RW 5, Kelurahan Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung.

Ada kesamaan kasus antara di Jawa Barat dengan di Banyuwangi 1998. Dimana pelaku pembunuhan terindikasi sama-sama mengidap gangguan jiwa. Kapolrestabes Kota Bandung Kombes Hendro Pandowo (1/2/2018) menjelaskan pelaku pembunuhan Ustad Prawoto adalah orang gila. “Pelaku AM dibawa ke RSJ Cisarua untuk diobservasi,” ungkapnya.

Begitupun juga dengan pelaku penganiayaan terhadap Kiai Umar Basri, Kapolda Jabar, Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan pelaku berinisial A mengalami gangguan jiwa. “Tersangka A ini alami gangguan jiwa berdasarkan pemeriksaan awal dari dokter spesialis kejiwaan,” katanya (28/1/2018).

Anggota Komisi I, DPR RI Jazuli Juwaini menilai ada keganjilan pada peristiwa tersebut mengingat kedua pelaku sama-sama diindikasikan mengidap penyakit kejiwaan.

“Agak ganjil memang jika dua peristiwa penganiayaan terhadap ulama ini kebetulan dilakukan oleh orang yang infonya sakit jiwa atau gila. Ini menimbulkan tanda tanya di benak masyarakat, apa yang sesungguhnya terjadi, kenapa kebetulan menyasar ulama kiai atau ustadz,” kata Jazuli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (2/2/2018).

Baca Juga:  Pesantren dan Ulama Sebagai Benteng Sekaligus Filter Era Modern

Karena itu, Jazuli mengimbau agar kepolisian dapat mengusut kasus tersebut secara gamblang hingga tuntas. Ia menduga ada pihak yang ingin merusak stabilitas keamanan terlebih di tahun-tahun politik sekarang.

“Aparat kepolisian harus berani mengungkap kasus ini dengan jujur dan transparan serta dapat menjelaskan kepada publik dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya. (*)

Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler