Connect with us

Hankam

Militer Indonesia di Mata Jenderal Veteran USA

Published

on

Foto Ilustrasi Sistem Pertahanan Negara. IST

NUSANTARANEWS.CO – Awal Februari 2014 lalu, stasiun TV ABC 13, Texas menggelar dialog dengan mengundang Jenderal (Purnawirawan) Mike Jackson, bekas panglima pasukan Inggris saat menyerbu Irak. Dalam talk show tersebut, Jenderal Mike Jackson mengatakan, “Meski kekurangan senjata, tidak mungkin mudah menaklukkan Indonesia. Jika perang terjadi, bukan hanya militernya yang maju berperang, melainkan juga rakyatnya pasti turut membantu menghabisi lawan.”

Sebelumnya, Jenderal Mike Jackson juga mengungkap pengamatannya tentang sisi lain dari kekuatan militer Indonesia dan militansi rakyatnya. Dirinya menjelaskan bahwa,”Doktrin militer Indonesia sudah dipakai di beberapa negara Asia bahkan Afrika, karena Indonesia memang diminta melatih beberapa negara Asia dan Afrika,” ungkap dia.

Pernyataan Jenderal Mike Jackson di TV ABC 13 ini juga kerap disitir Panglima TNI Gatot Nurmantyo ihwal kehebatan militer Indoneisa. Seperti saat memberikan pengarahan kepada peserta rapat koordinasi teritorial TNI di Gedung Gatot Subroto, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, pada Rabu 20 Januari 2016, dikutip dari Republika, Panglima TNI mengutip stetmen Mike Jackson menjelaskan bahwa kehabatan militer Indonesia tidak lepas dari peran rakyatnya yang militan. Sehingga sekalipun kekurangan senjata, Indonesia memiliki kemampuan perang gerilia yang mumpuni.

Namun Jendral Gatot hanya menceritakan tentang pernyataan Jenderal Jackson. Sementara dalam dialog di TV ABC selain Jenderal Jackson, acara yang dipandu oleh Hannah itu juga menghadirkan Jenderal (Purn) Tommy Franks, bekas panglima Delta Forces saat Operasi Badai Gurun; Jenderal (Purn) Peter Pace, mantan panglima Marinir dan Kepala Staf Gabungan AS.

Mulanya seorang mahasiswa Universitas Dallas dalam acara tersebut bertanya tentang penempatan marinir Amerika Serikat di Australia. “Apakah penempatan pasukan US Marine di Australia berindikasi akan ada serangan USA ke Indonesia pada saat nanti?”

Jenderal Tommy Franks menjawab, “Kita pernah punya pengalaman pahit di Vietnam dan Korea. Semua pemimpin Amerika sadar, siapa di balik kedua negara Asia yang pernah terlibat konflik dengan Amerika?”

“Jawabannya, Indonesia adalah guru bagi Vietnam dan Korea Utara saat berperang melawan Amerika. Perang gerilya itulah ilmu militer Indonesia,” ujar Jenderal Franks.

Jenderal Franks juga menambahkan kesaksiannya tentang keunggulan pasukan khusus milik TNI. “Saat operasi pembebasan sandera di pesawat Garuda yang dibajak di Bangkok, Thailand, Delta Force USA memantau operasi tersebut. Operasi berjalan sukses dan sangat efektif. Hal yang tidak dimiliki oleh pasukan negara lain. Anda akan terkejut bila mendapati satu mata pelajaran yang tidak kan diperoleh di pendidikan elite militer mana pun, yakni pendidikan gerilya.”

Jenderal Veteran USA ini juga mengaku mengetahui kunci-kunci kekuatan militer Indonesia: “Sebagai orang yang pernah memimpin pasukan khusus, saya tahu banyak rahasia teknik militer yang tidak ditunjukkan dalam latihan perang bersama. Ada satu pasukan khusus Indonesia yang jarang mengadakan latihan bersama yaitu AU. Pasukan khusus AU Indonesia adalah satu-satunya pasukan dengan kualifikasi Korps Pasukan Khas TNI AU di Asia yang juga disebut-sebut beberapa pengamat militer dunia sebagai terlengkap di dunia. Kalau saat ini banyak negara yang tergabung dalam NATO mengadakan hubungan dagang militer dengan Indonesia, itu sebuah kebijakan yang tepat. Karena, kalau tidak, akan sangat membahayakan posisi NATO di Asia, karena Indonesia memiliki konsep Non Blok.”

Sementara itu, Jenderal Peter Pace menimpali. “Saat ini ada tiga kekuatan besar marinir dunia dan Indonesia berada di posisi ketiga.” Karena itu, lanjut Pace, penempatan marinir Amerika hanya untuk stabilitas kawasan di Asia Tenggara. Jangan bermimpi Amerika berencana menyerang Indonesia meski Amerika sebagai pimpinan NATO,” ungkapnya. (*)

Pewarta/Editor: Romadhon

Terpopuler