Connect with us

Global

Mike Tyson: Kesuksesan Didapat dari Kedisiplinan dan Pengorbanan

Published

on

Petinju legendaris, Mike Tyson. Foto: Getty Images

NUSANTARANEWS.CO, Moskow – Petinju legendaris Mike Tyson menceritakan perjuangan hidup dan karirnya sampai dirinya menjadi seorang petinju hebat di dunia. Berbicara kepara para hadirin di acara Synergy Global Forum di ibukota Rusia, Moskow, petinju yang dijuluki Si Leher Beton mengatakan kedisiplinan dan pengorbanan merupakan dua jalan menuju kesuksesan.

“Ini semua tentang kedisiplinan dan pengorbanan demi kebaikan. Anda harus berlatih terus-menerus untuk menjadi juara. Saya menghentikan semua hal-hal buruk karena saya ingin menjadi juaran dunia,” katanya di Moskow seperti dikutip Sputnik, Kamis (30/11/2017).

Mike Tyson merupakan mantan juara tinju kelas berat. Ia menjadi juara dunia kelas berat yang tak terbantahkan dengan 50 kemenangan, dan 44 kali tercatat menang KO. Meski di akhir karirnya membuat tindakan kontroversi karena menggigit kuping Evander Holyfield pada Sabtu 28 Juni 1997 silam.

Lebih lanjut, Tyson pernah merebut gelar World Boxing Council pada tahun 1985 di mana saat itu usianya masih 20 tahun sekaligus tercatat menjadi juara tinju kelas berat termuda sepanjang sejarah.

Berbicara di acara Synergy Global Forum, Tyson menceritakan kisah hidupnya di masa kecil yang penuh penderitaan.

“Saya dibesarkan dari kelurga miskin di Amerika. Di New York saya hidup benar-benar dalam kesulitan. Ibu saya seorang peminum alkohol, saya juga memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai mucikari, dan saya benar-benar tidak sempat mendapatkan pendidikan reguler, sampai akhirnya saya berurusan dengan masalah hukum. Kemudian saya bertemu dengan seorang pria bernama Cus D’Amato, dia membantu mengeluarkan saya dari kehidupan yang sulit, sejak saat itu saya bertekad untuk merubah hidup saya,” kisahnya.

Petinju legendaris ini menceritakan pertama kali ia bertemu dengan D’amanto saat masih berusia 13 tahun. Ibunya meninggal saat Tyson berusia 16 tahun, dan sejak saat itu ia memutuskan untuk menjadikan D’Amanto menjadi pengasuhnya.

“Waktu itu saya memiliki seekor burung merpati yang saya pelihara. Dalam suatu kejadian, ada beberapa anak laki-laki yang badannya lebih besar mencuri merpati saya, satu dari mereka membunuh merpati tersebut dan melemparkan darah merpati tersebut ke saya, dan itulah pertama kalinya saya berkelahi,” kisahnya lagi.

Sejak berusia 15 tahun, Tyson menceritakan ia mulai menyadari ada sesuatu yang spesial yang terpendam di dalam dirinya. Kesadaran itu lalu membawa Tyson pergi melihat-lihat tempat-tempat olahraga tinju.

Tyson pun tertarik dan menyampaikan ketertarikannya tersebut kepada D’Amanto. Sejak saat itu Tyson pun meminta D’Amanto menjadi pelatihnya untuk memungkikannya berkarir di dunia adu jotos. “Saya mengikuti arahan dan panduan Cus (D’Amanto) untuk mulai mengikuti kejuaraan,” katanya.

Sekali lagi Tyson menekankan, disiplin adalah komponen utama kesuksesan. Tinggal, kata dia, seseorang perlu percaya kepada seorang mentor yang berfungsi sebagai pendorong dan memotivasi serta mengarahkan kepada jalur yang benar. (red)

Editor: Eriec Dieda

Advertisement
Advertisement

Terpopuler