Connect with us

Ekonomi

Meski Produksi Jagung Surplus, Ternyata Puluhan Ribu Ton Jagung Impor Tetap Masuk Jatim

Published

on

Impor Jagung vs Ekspor Jagung (Ilustrasi/Istimewa)

Impor Jagung vs Ekspor Jagung (Ilustrasi/Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Surabaya – Kepala Divisi Regional Bulog Jatim, Muhammad Hasyim mengungkapkan ada 26 ribu ton jagung impor dari Brasil telah masuk ke Jawa Timur dan rencananya akan didistribusikan sebagai bantuan bagi peternak di berbagai daerah.

Jagung impor tersebut, kata Muhammad Hasyim, tiba di Surabaya pada Rabu (23/1/2019) lalu. Adapun rincian distribusi bantuan antara lain sebanyak 50 truk dikirim ke Bogor, 100 truk ke Kendal dan Jawa Tengah, serta 100 truk ke Blitar, Malang, dan beberapa daerah di Jatim.

“Dengan bantuan jagung ini kami harap para peternak di berbagai daerah tidak gelisah lagi, karena stok sudah ada,” kata Hasyim di Surabaya, Jumat (25/1).

Hasyim menjelaskan, jagung impor yang masuk ke Jatim adalah bagian dari program impor 100 ribu ton selama 2018, yang tujuannya untuk menekan harga telur melalui bantuan pakan ternak yang murah.

Baca Juga:

Hasyim memastikan, masuknya jagung impor ke Jatim ini juga tidak akan mengganggu keberadaan jagung dalam negeri. “Puncak panen jagung dalam negeri diperkirakan akhir Maret ini. Dan tidak akan saling menggangu, karena keberadaan jagung impor sudah ada wilayah distribusinya,” katanya.

Jagung impor tersebut, kata dia, dijual oleh Bulog dengan harga dibawah pasar sekitar Rp 4.000, sedangkan harga pasar kisaran Rp 5.600 sampai Rp 5.700. Hasyim menjelaskan, masuknya total 100 ribu ton jagung impor dari Brasil dilakukan secara bertahap.

Loading...

Tahap pertama sebanyak 73 ton, dan telah tiba di Jakarta dan Surabaya pada Desember 2018. Kemudian, saat ini kembali tiba sekitar 26 ribu ton dan langsung didistribusikan kepada petani yang membutuhkan dan telah didata sebelumnya.

“Pendistibusian kami lakukan bersama Satgas pangan, dan diharapkan dengan masuknya jagung impor ini akan menekan harga telur yang sempat naik,” ujarny

2018 Produksi Jagung Surplus

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan panen jagung di Desa Randu Merak, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (Jatim). Panen ini membuktikan ketersediaan jagung dalam negeri hingga saat ini aman.

Mentan mengatakan, empat tahun lalu Indonesia impor jagung dari Argentina dan Amerika sebanyak 3,5 juta ton nilainya Rp 10 triliun. Kemudian di tahun 2018 hanya impor 100 ribu ton, tapi di sisi lain juga ekspor 380 ribu ton.

“Artinya di tahun 2018 produksi jagung surplus. Jadi kita harus fair, jangan menghukum petani-petani kita. Aku sangat cinta petani,” dkata Mentan di hadapan Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jatim, Hadi Sulistyo dan para petani jagung Probolinggo.

Terkait harga jagung, Amran menyampaikan sesuai dengan perintah Presiden Jokowi, harga jagung di tingkat petani tidak boleh di bawah Rp 3.150 per kg. Perum Bulog telah diperintahkan untuk menyerap jagung petani dengan harga tersebut agar petani ke depan tidak merugi.

“Perintah Bapak Presiden, Bulog harus membeli jagung petani Rp 3.150 per kilogram. Tidak boleh di bawah harga ini. Bulog tolong serap cepat, jangan serap dari luar negeri. Kita harus lindungi petani,” tegas Amran.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi Jatim, perkiraan luas panen jagung Provinsi Jatim pada Januari 2019 sebesar 17.286 ha, khususnya kabupaten probolinggo sebesar 3.000 ha. Dari luas panen tersebut, produksi jagung Jatim pada Januari sebesar 102.779 ton pipilan kering sedangkan produksi Jagung Kabupaten Probolinggo 21.000 ton dengan rata-rata produksi 7 ton/ha pipilan kering.

“Petani-petani jagung sudah mulai memasuki masa panen di awal 2019. Ini bukti kita punya jagung. Bulog segera serap, isi gudangnya dengan jagung dari petani,”ujar Amran.

Lebih lanjut Mentan mengatakan, dari 38 Kabupaten di Jatim, diperkirakan potensi panen jagung pada Februari 2019 mencapai 273.564 ha dengan perkiraan produksi mencapai 1,2 juta ton pipilan Kering. Kemudian Maret perkiraan luas panen 175.011 ha dengan potensi produksi 636.610 ton Pipilan Kering.

“Februari akan menjadi puncak panen jagung di Jawa Timur. Jika ditotal panen jagung Januari hingga Maret mencapai 465.861 ha dengan produksi mencapai 1,94 juta ton. Ini ketersediaan jagung yang luar biasa. Kebutuhan peternak layer mandiri bisa kita penuhi sendiri,” kata Amran.

Perlu diketahui, pada tahun 2018, produksi jagung Provinsi Jawa Timur surplus 6,42 juta ton. Surplus ini diperoleh dari luas panen 1,17 juta ha dengan produksinya sebesar 6,54 juta ton, sementara kebutuhan jagung 2018 mencapai 122.724 ton.

Kritik DPRD Jatim atas Kebijakan Impor Jagung

Komisi B DPRD Jatim berharap agar pemerintah pusat sebelum melakukan impor jagung terlebih dahulu menunggu masukan dari Pemprov Jatim terkait kondisi komoditi jagung di Jatim.

“Pemprov jangan asal menerima jagung impor tersebut. Pemprov melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim terlebih dahulu harus koordinasi dengan Pemprov NTB dimana didaerah tersebut produksi melimpah,” ungkap anggota Komisi B DPRD Jatim Noer Soetjipto di Surabaya, Senin (5/11/2018).

Politisi asal Partai Gerindra ini mengatakan pihaknya berhadap Pemprov proaktif dan meminta BPS Jatim untuk selalu monitor ketersediaan stok jagung lokal. ”Begitu juga pihak Disperindag jangan asal-asalan memberikan ijin import tanpa melihat stok dan produksi rakyat,” jelasnya.

Pria asal Trenggalek ini berharap keputusan untuk impor jagung tersebut harus dikaji dulu secara mendalam. ”Jangan sampai tanpa kajian akan muncul pro dan kontra antara Menteri Perdagangan dan Bulog seperti beberapa waktu lalu. Saat itu Bulog ingin melindungi produksi padi bangsa sendiri, di sisi lain Menteri Perdagangan paling hobi untuk impor yang mengancam kesejahteraan petani sendiri,” tutupnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian (Menko Perekonomian) Darmin Nasution mengatakan soal impor jagung sebanyak 100 ribu ton murni usulan Mentan (Menteri Pertanian) Amran Sulaiman. “Menteri Pertanian mengusulkan kita impor,” kata Darmin di Jakarta, Sabtu, 3 November 2018.

Alasan dilakukannya impor, kata dia, karena terjadi kelangkaan jagung dalam negeri sehingga membuat harga jagung untuk pakan ternak menjadi mahal. “Ya, jadi jagung itu harganya kan naik, padahal itu diperlukan,” ungkapnya.

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.

Terpopuler