Connect with us

Ekonomi

Menyulap Rumput Laut Jadi Kuliner Khas Nunukan

Published

on

Dengan Modal 300 Ribu, Aktivis Nunukan Jadikan Rumput Laut Sebagai Kuliner yang Beromset Puluhan Juta. Foto Eddy Santry

NUSANTARANEWS.CO, Nunukan – Ketika kita mendengar nama Rumput Laut, maka dibenak kita yang terlintas adalah Agar-Agar. Padahal tanaman gulma tersebut dengan kreatifitas tertentu dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan yang sangat menggugah selera. Namun harga Rumput Laut kering yang menurun drastis saat ini menjadi salah satu sebab berkurangnya minat masyarakat untuk membudidayakan tanaman kaya nutrisi tersebut.

Namun tidak demikian dengan Hardi, salah satu Aktivis Sosial di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara ini tak kehilangan akal dalam mengantisipasi turunya harga Rumput Laut. Yakni dengan memanfaatkan tanaman yang bernama asli Codium Fragile tersebut menjadi sebuah Cemilan sebagai Kuliner Khas Kabupaten Nunukan berupa Cryspi Rumput Laut.

Hardi menuturkan bahwa pada mulanya menekuni usaha kuliner tersebut disamping kepedulianya untuk mengangkat perekonomian masyarakat Perbatasan yang sedang lesu ditengan badai devisit, juga karena tertangtang oleh program Presiden Joko Widodo yakni Ekonomi Kreatif yang berbasis Kerakyatan.

Dengan bimbingan dari Dian Kusumanto yang kala itu masih menjabat sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan, dengan modal hanya Rp. 300.000, kini usaha Kulinernya dapat menghasilkan Omset tak kurang dari Rp.30 juta- bulan hanya dalam tempo tak kurang dari setahun sejak awal ia merintis usahanya.

“Saya ingin membuktikan bahwa dengan modal minimal tapi disertai tekat untuk maju dan disertai niat ibadah, pasti hasil yang kita peroleh akan maksimal. Saya juga ingin membuktikan bahwa masyarakat di Perbatasan ini tak selamanya terbatas dalam karya dan fikiran,” paparnya kepada Nusantaranews.co, Minggu (14/5/2017).

Namun Kuliner yang menjadi ciri Khas Kabupaten Nunukan tersebut saat ini masih mengalami kendala untuk menjadi sebuah Kuliner Khas Indonesia akibat terbentur mahalnya ongkos ekspor. Untuk itu Hardi berharap agar Pemerintah Pusat dapat memberikan solusi terkait hal tersebut, demi untuk memperkuat perekonomian yang mandiri khususnya di Perbatasan sesuai dengan cita-cita Presiden Jokowi.

Baca Juga:  Nusantara’s Food; Berburu Binte Biluhuta Kuliner Khas Gorontalo

“Banyaknya pesanan dari Daerah lain apalagi dari Luar Negeri terpaksa belum dapat kami layani secara sempurna akibat mahalnya biaya pengiriman. Karena Presiden Jokowi sudah mencanangkan Ekonomi Kreatif sebagai tulang punggung perekonomian, hendaknya Pemerintah juga memberikan solusi bukan hanya kepada saya, tetapi keapada semua UMKM di Kabupaten Nunukan ini,” tandas Hardi.

Ayah dari I Gusti Arindra Putri (salah satu Atlet kebanggaan Kaltara dalam cabang Menembak) tersebut menuturkan bahwa UMKM adalah sebuah usaha yang tak kan goyah walau diterpa krisis. Disamping itu,Hardi menegaskan bahwa realisasi dari salah satu pilar TRISAKTI yakni Mandiri dalam Ekonomi adalah keterlibatan usaha dari Masyarakat kecil yang berdaya saing.

“Sekarang berpulang kepada Pemerintah Pusat lagi, kalau memang ingin mensukseskan Nawacita terutama butir ke 6 yakni meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, berikanlah solusi terhadap UMKM,” pungkas Pria yang juga anggota salah satu Relawan Jokowi tersebut.

Pewarta: Eddy Santry
Editor: Achmad Sulaiman

Loading...
Advertisement

Terbaru

Advertisement

Terpopuler