Connect with us

Politik

Menyoal Fenomena Ustad Copy Paste

Published

on

Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (bergaun putih)/Foto Ahmad Hatim / NUSANTARAnews
Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (bergaun putih)/Foto Ahmad Hatim / NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas NH Kertopati menyatakan perkembangan sosial di Indonesia saat ini ditandai dengan fenomena munculnya ustad dan ustadzah instan. Mereka, kata dia, sebenarnya berbeda dengan para ulama yang alim serta memiliki wawasan keagamaan yang mumpuni.

Disatu sisi, kata perempuan yang akrab dipanggil mbak Nuning itu, diantara ustad dan ustdazah instan tersebut kerap merekayasa tafsir keagamaan dengan menyisipkan agitasi pemahaman radikalisme untuk disampaikan ke masyarakat.

“Menurut saya, ada perkembangan unik dan lucu. Beberapa orang yang baru hafal dua ayat, lalu meng-kopas (copy paste) dari temannya mengenai ayat-ayat yang lain. Bisa dibilang itu Islam copas ya. Itu kok bisa mengatakan dirinya ustad atau ustadzah,” kata Nuning usai diskusi “Menelaah Potensi Radikalisme Di Pilkada DKI Jakarta” di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (20/3/2017).

Nuning menilai khawatir terjadi penyimpangan keagamaan yang masif akibat semakin meluasnya pengaruh radikalisme yang ditebarkan para ustad dan ustadzah instan. Apalagi, kata dia, adanya ajaran radikalisme yang diselipkan mereka saat berdakwah di masyarakat.

“Lalu kemudian memasukan secara agitatif yang sangat berbahaya bagi kesatuan dan persatuan bangsa dan negara ini,” ucapnya.

Nuning menegaskan seluruh potensi pengarh radikalisme di Indonesia harus diantisipasi. Sehingga, kata dia, tidak ada lagi picu ancaman yang dapat merongrong harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Karena kita harus berlandaskan kembali bahwa bangsa kita adalah bangsa yang berdiri sebagai negara yang plural dan Bhinneka Tunggal Ika. Justru saya berpikir, ini kok ada kecenderungan membangkitkan kembali piagam Jakarta. Yang tentu kita tidak harapkan karena kesepakatan kita sebagai bangsa agar kita menjadi bangsa yang menghormati Pancasila dan UUD 45,” jelasnya.

Baca Juga:  Pengamat Militer Sebut Doktrin Sishankamrata Lebih Tepat Diterapkan di Wilayah Kalimantan Timur

Reporter: Ahmad Hatim

Loading...

Terpopuler