Berita UtamaKolomMancanegaraOpiniTerbaru

Menyaksikan Kebangkitan BRICS dan Berakhirnya Pax Americana

Menyaksikan kebangkitan BRICS dan berakhirnya Pax Americana.
Menyaksikan kebangkitan BRICS dan berakhirnya Pax Americana/Foto: USA Today.

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menyaksikan kebangkitan BRICS. Operasi militer khusus Rusia di Ukraina serta reaksi berlebihan Barat yang ingin mengisolasi Rusia justeru malah berbalik mempercepat keruntuhan hegemoni Barat atau era Pax Americana yang telah berlangsung sejak berakhirnya Perang Dunia II.

KTT Trilateral Teheran telah menjadi langkah awal Rusia dalam gagasan membangun tata dunia multipolar yang lebih berkeadilan – tidak otoriter dan menindas seperti yang dilakukan oleh Barat selama berabad-abad.

Masuknya Iran dan Argentina menjadi anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan) – semakin menunjukkan bahwa Rusia tidak sendirian dalam menghadapi sanksi Barat yang tidak bermoral.

Demikian pula Arab Saudi yang kini berani bersikap berbeda dengan AS dan mulai melakukan kontak dengan Iran dalam beberapa tahun terakhir yang dimediasi oleh Irak.

Baru-baru ini, Presiden Cina Xi Jinping dengan tegas mengkritik Barat yang menjadikan ekonomi sebagai senjata dan mengajak negara-negara berkembang untuk bergabung dengan BRICS, blok ekonomi baru yang lebih terbuka.

Baca Juga:  Gubernur Khofifah Masuk Usulan Capres Internal PAN Jatim, Zulhas: Pokoknya Khofifah I Love You

Xi mengatakan bahwa ekonomi sebagai “pedang bermata dua” sangat merugikan orang-orang di seluruh dunia.

Putin menegaskan bahwa mitra BRICS sedang mengembangkan mekanisme alternatif yang dapat diandalkan untuk penyelesaian internasional dan menjajaki kemungkinan menciptakan mata uang cadangan internasional berdasarkan mata uang BRICS.

Ya, BRICS kini menjadi harapan terbaik untuk tata dunia baru yang lebih adil. Negara-negara BRICS memiliki populasi gabungan sekitar 3,2 miliar, sementara negara-negara G-7 hanya mewakili sekitar 777 juta.

Miliaran orang ini tidak ingin hidup di bawah tirani Barat. Mereka ingin benar-benar bebas, berdagang dengan bebas tanpa penindasan.

Tahun lalu, sebuah think tank India melaporkan bahwa yuan digital Cina bisa menjadi “alternatif sistem keuangan yang didominasi dolar. Dengan kata lain, yuan digital dapat menghindari dolar AS dalam transaksi keuangan global yang penting di tengah upaya Cina, India, dan Rusia membuka kanal alternatif dalam mekanisme pembayaran SWIFT yang didominasi AS.

Baca Juga:  Gelar Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Marthin Billa Ajak Masyarakat Bergotong Royong Pulihkan Ekonomi Pasca Pandemi

Sementara Rusia sendiri sedang membuat mekanisme terobosan untuk pembayaran Barat. Gubernur Bank Sentral Elvira Nabiullina mencatat pada 29 Juni bahwa 70 organisasi keuangan asing dari 12 negara telah bergabung dengan langkah Rusia untuk sistem keuangan SWIFT. Meski masih ada beberapa hambatan pada System for Transfer of Financial Messages (SPFS) Rusia, namun sedikit demi sedikit Rusia berhasil menembusnya.

Dampak dari semua ini tentu akan dramatis, terutama bagi AS yang hidupnya sebagian besar dari utang yang ditopang oleh permintaan dolar yang tinggi. Bila permintaan atas dolar semakin berkurang tentu akan mengancam keruntuhan ekonominya, dan menandai berakhirnya era Pax Americana dengan segala kelebihan dan kekurangannya. (Agus Setiawan)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

No Content Available