Connect with us

Mancanegara

Menunggu Respon Iran Setelah Pembunuhan Komandan IRGC Oleh AS

Published

on

Menunggu Respon Iran setelah Pembunuhan Komandan IRGC Oleh AS

Menunggu Respon Iran setelah Pembunuhan Komandan IRGC Oleh AS/Foto: Daily Express

NUSANTARANEWS.CO – Menunggu respon Iran setelah pembunuhan komandan IRGC oleh Amerika Serikat (AS). Pembunuhan Qassem Suleimani komandan Pasukan Quds Iran oleh AS, jelas semakin meningkatkan eskalasi dalam konflik berkepanjangan kedua negara. Dalam jangka pendek, AS mungkin telah mendapat keuntungan taktis dengan membunuh pemimpin kedua Iran yang paling kuat saat ini.

Sementara Iran, secara tidak langsung mendapat keuntungan politik tersendiri dengan pembunuhan komandan Pasukan Quds, khsususnya ditengah kebangkitan nasionalis Irak yang menentang campur tangan asing di negaranya. Penyerangan terhadap Kedutaan Besar AS di Baghdad menjadi momentum yang tepat untuk mendorong semangat anti-Amerika. Apalagi setelah AS melakukan serangan drone di dalam wilayah kedaulatan Irak yang semakin meningkatkan sentimen anti-Amerika warga Irak.

Di mata AS, sosok Suleimani adalah aktor intelektual kegiatan anti-Amerika yang menguasai jaringan proksi di seluruh kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon. Sementara bagi orang Iran, Suleimani adalah sosok pejuang revolusioner. Suleimani juga dikenal sebagai komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) yang bersih dari tuduhan korupsi – bahkan dirinya diperdebatkan sebagai calon presiden berikutnya dalam pemilihan mendatang. Sehingga tidak mengherankan bila simpati publik begitu besar terhadapnya.

Presiden Trump tampaknya terlalu meremehkan Iran yang diyakini kini telah hancur ekonominya dan melemahkan kepemimpinannya akibat tekanan sanksi maksimum yang dilancarkannya. Bahkan Trump sesumbar bahwa perang dengan Iran akan berlangsung sangat singkat. Boleh jadi AS salah perhitungan dengan membunuh Suleimani, dan terlalu menganggap remeh kemampuan Iran untuk merespons ditengah kehancuran ekonominya saat ini.

Padahal dalam kenyataanya, Iran memiliki ikatan budaya, ekonomi, dan strategis yang mendalam di seluruh kawasan, khususnya di Irak. Selain itu, Iran telah menguasai seni perang, baik perang konvensional maupun perang non-konvensional. Perang model terakhir telah dirasakan langsung oleh aliansi AS, Israel dan Arab Saudi yang menderita kekalahan total di berbagai front di kawasan regional.

Baca Juga:  Blok Migas Corridor Diperpanjang Pemerintah, Ini Penjelasan Ignasius Jonan

Dan saat ini, kekuatan-kekuatan revolusioner Iran tampaknya ingin menuntut balas. Bagi Ayatullah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran sekarang adalah bagaimana menemukan respons yang cukup kuat untuk membalas serangan AS, namun tidak cukup provokatif untuk memicu eskalasi skala penuh yang dapat menimbulkan perang yang sukar diprediksi dampaknya.

Sementara dalam perkembangan mutakhir, pada akhir tahun lalu, Iran untuk pertama kalinya terlibat dalam operasi angkatan laut bersama dengan Rusia dan Cina. Bukan itu saja, Iran bahkan telah menawarkan kepada Rusia untuk menyewa pelabuhan Teluk Persia di Bushehr.

Kehadiran angkatan laut Rusia dan Cina di Teluk Persia menjadi pintu bagi Teheran untuk memperkuat kerjasama strategis ditengah isolasi global terhadap Iran yang dilancarkan oleh Amerika. Apalagi mengingat kedua negara ini adalah yang paling mungkin menantang AS dalam tahun-tahun mendatang. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler