Connect with us

Cerpen

Menunggu Hari Minggu

Published

on

Pria bertopi bucket (Ilustrasi). Foto: Dok. HAI

Cerpen Ruly Riantiarno

Menunggu Hari Minggu

“Antara benci dan rindu”, begitulah yang kurasa saat hari Minggu. Benci karena di hari Minggu adalah saat dimana teman-teman di kampungku merayakan waktu santai mereka dengan berlibur bersama sahabat, keluarga atau pacarnya, sedangkan aku harus masuk kerja.

Dan aku rindu hari Minggu karena pada hari itu aku bisa melihat lelaki bertopi bucket, yang lebih akrab disebut topi bermodel ember, dari seberang tempatku bekerja.

Aku bekerja di kedai es krim di pusat Kabupaten Karanganyar, tugas utamaku sebenarnya adalah mencatat barang yang masuk dan keluar saja, namun di sini berbeda. Semua pegawai di tempat kerjaku ini dituntut harus serba bisa. Artinya bisa sebagai admin, penjaga toko dan kadang menjadi sales marketing untuk produk-produk es krim pabrikan Singapura ini.

***

Sudah kukatakan aku rindu Minggu karena ingin melihat lelaki itu. Lelaki bertopi bucket yang setiap hari Minggu duduk di trotoar untuk membaca koran dengan takzim, menghiraukan sekitarnya, kecuali dari penjual koran, karena aku melihat dari seberang jalan, tepatnya dari dalam kedaiku bekerja, sesekali lelaki itu bicara pada penjual koran.

Setiap hari Minggu, lelaki itu datang awal, karena pada saat aku tiba di tempat kerja yang biasanya sekitar pukul delapan kurang sepuluh menit, lelaki itu telah duduk di sana dan asyik membaca koran. Sepertinya kuperhatikan dia tidak hanya membaca satu koran namun semua koran di hari Minggu dibacanya. Kadang aku berpikir sebenarnya apa yang dia cari. Bukankah di koran-koran itu berisi berita yang sama, bahkan mungkin sama juga dengan berita yang ada di televisi yang biasa kutonton.

Hal itu hanya dugaanku saja karena kenyataannya aku tidak hobi membaca koran atau media cetak lainnya. Aku lebih suka menonton televisi atau sibuk dengan ponselku untuk sekedar bermain atau sedang ingin mencari berita terkini. Tapi kadang aku membeli tabloid resep masakan di lapak koran itu, karena sebagai wanita, aku ingin tahu tentang masak-memasak, terlebih karena cover depan tabloid itu entah kenapa selalu indah dan menarik.

Baca Juga:  Kota Hujan

***

Hari Minggu ini berbeda,  lelaki itu tidak datang.

Aku sempat berpikir mungkin dia datang terlambat dan aku menunggunya, namun sampai penjual itu membereskan dagangannya dan bersiap pulang, lelaki itu tetap saja tidak datang. Jujur, lelaki pembaca koran itu telah memberiku perasaan yang aku sendiri tidak bisa memahaminya. Rasanya sulit meninggalkan ingatan tentang lelaki itu.

Minggu kedua hingga enam minggu berikutnya tetap sama, lelaki itu tetap tak muncul di lapak koran seberang  jalan itu. Aku masih suka memikirkan segala kemungkinan tentang dirinya. Mungkin dia sakit, mungkin dia telah pindahtempat membacanya ke lapak koran lain, atau mungkin dia merantau ke luar kota. Aneh memang, aku yang tak mengenalnya sama sekali tiba-tiba seperti kehilangan rasa di hari Minggu saat menemui kenyataan lelaki pembaca koran itu tak muncul lagi.

***

Sudah dua bulan dia tak muncul di hari Mingguku dan masih saja meninggalkan pertanyaan yang sama, kenapa dia tak muncul?

Dulu, aku tak berani menanyakan siapa nama atau dimana lelaki pembaca koran itu tinggal, tapi sekarang aku memberanikan diri untuk bertanya perihal lelaki itu pada penjual koran, persisnya seusai aku bermimpi tentang lelaki itu. Di mimpiku lelaki itu berkata kepadaku, “Jika kau ingin tahu siapa aku, bacalah koran di hari Minggu, di lapak koran depan tempatmu bekerja.”

Aku tak paham akan mimpiku dan mimpi hanya kuanggap sebagai bunga tidur seperti kebanyakan orang lainnya. Aku tak pernah sungguh-sungguh memikirkannya. Namun herannya, mimpi yang sama terkadang datang lagi di waktu yang lain.

Minggu pagi ini, matahari seolah malu menampak karena tertutupi mendung. Aku beranikan diriku untuk bertanya pada penjual koran tentang siapa sebenarnya lelaki yang memakai topi model bucket dan selalu membaca koran di lapaknya setiap hari Minggu itu.

Baca Juga:  Sepasang Bibir

“Pak, mas yang pakai topi model kayak ember dan selalu membaca koran Minggu kog udah nggak keliatan. Kemana ya, Pak?”

“Waduh, saya nggak tahu itu. Dia memang sudah lama tidak keliatan. Lha ada apa?” Penjual koran itu menjawab sembari membereskan beberapa koran yang berantakan usai dibaca dan ditinggal begitu saja oleh pelanggannya.

Nggak apa-apa Pak. Oya Bapak tahu nggak siapa dia dan tinggalnya?”

“Hal itu bapak juga tidak tahu Mbak. Jika saya tanya tentang dirinya selalu menjawab tidak serius. Bahkan dia pernah mengatakan nggak punya rumah.”

Penjual koran juga menceritakan bahwa lelaki itu datang hanya untuk membaca koran. Dia jarang membeli koran, tapi tentu saja dia juga pernah membeli koran meski pada saat membayarnya hampir selalu dengan uang receh 500-an semua.

“Mbak nggak beli koran?” tanya penjual koran sembari tangannya sibuk menghitung uang hasil penjualan koran hari itu.

“Sebentar Pak, biar saya baca-baca dulu.” Sembari mataku melihat koran yang bergambar seorang menteri di halaman depannya. Headlinenya dalam judul itu menerangkan tentang menteri yang diduga korupsi.  Akhirnya kuputuskan membeli satu koran danaku sengaja menyimpannya dulu dan baru akan kubaca saat aku sudah pulang nanti.

***

Sore. Pulang kerja. Aku mengeluarkan koran yang kubeli pagi tadi. Aku kembali membuka tiap lembar koran itu. Entah pada saat ku baca-baca itu, aku mulai merasa tertarik halaman cerpen, tapi sebenarnya aku paling suka kolom TTS, karena menurutku TTS bisa untuk serana menambah ilmu.

Minggu berikutnya aku membeli dua koran, langsung kubaca kolom cerpen dan puisi. Untuk kolom yang lain biasanya kubaca nanti di rumah. Karena hal itu, aku menjadi tertarik membaca kolom cerpen dan puisi pada setiap hari Minggu dan kuputuskan bahwa setiap hari Minggu aku harus memborong semua koran. Demikian seterusnya, MinggudanMingguselanjutnyasepertiitu. Sebenarnya awalnya dulu semuaitu kulakukan karena aku ingin mencari siapa sebenarnya lelaki itu.

Baca Juga:  Benarkah Aku Bodoh? Cerpen Joe Annas Hasan

***

Sudah tujuh belas Minggu, Lelaki itu tak muncul juga. Tapi di hari itu pada saat aku menikmati koran Minggu di kedaiku seperti minggu-minggu sebelumnya, sekilas kulihat ada foto mirip lelaki itu di sebuah kolom berita. Berita itu berjudul: Mayat Lelaki di Sungai Samin, Diduga Bunuh Diri. Kuamati foto yang ada dalam berita itu, tidak terlalu jelas. Kubaca keterangan yang menjelaskan : ada mayat ditemukan warga sekitar dan polisi menyatakan bahwa mayat yang diduga bunuh diri itu tanpa identitas jelas.

Penasaranku kubawa pulang. Sampai di rumah, kubuka kolom berita di koran itu lagi. Gambar yang tidak terlalu jelas itu kuamati lagi, sekilas memang gambar itu mirip dengan lelaki bertopi bucket yang kutunggu selama ini. Apakah benar lelaki itu bunuh diri? Tapi entah kenapa perasaanku mengatakan kalau dia masih hidup dan aku masih berharap suatu saat nanti, di Minggu pagi yang cerah aku akan mendapati dia duduk dan membaca di lapak koran depan kedaiku bekerja. Jika hal itu benar-benar terjadi aku akan mengucap terimakasih padanya, karena dialah sekarang aku jadi suka membaca dan sesekali mulai latihan menulis.

*Ruly Riantiarno, Tergabung dan aktif di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4). Menyukai puisi dan cerpen. Bisa dihubungi lewat twitter account @ruly18_dan riantiarnoruly@gmail.com.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler