Inspirasi

Menuju Hari Kunjung Perpustakaan ke-21, Ini Tugas Utama Perpustakaan

Kepala Perpustakaan UIN SUKA Yogyakarta, Labibah Zain Menyampaikan Materi/Foto Istimewa
Kepala Perpustakaan UIN SUKA Yogyakarta, Labibah Zain Menyampaikan Materi/Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Hari Kunjung Perpustakaan yang jatuh pada tanggal 14 September pertama kali digelar di Era Presiden Soeharto, pada tanggal 14 September 1995 silam. Duapuluh satu tahun yang lalu itu juga dicetuskan sebuah gerakan yang mencanangkan istilah Bulan Geram Membaca.

Rencana memaksimalkan Perpustakan dan gerakan keberaksaraan sudah dimulai lebih dari dua dekade. Namun, ternyata waktu yang tidak terbilang pendek itu, belum mampu mencuatkan minat baca masyarakat Indonesia. Bahkan, jika dipersentasekan hanya 0,001 persen yang itu berarti hanya 1 dari 1000 orang yang memiliki minat baca.

Perpustakaan sebagai penyedia buku, majalah, maupun buku digital seharusnya segera berbenah demi meningkatkan persentase di atas. Disamping ratusan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) terus beroperasi di daerah-daerah. Oleh sebab itu, perpustakaan mestinya lebih agresif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pembaca.

Khusus untuk perpustakaan Perguruan Tinggi, kebutuhan informasi akademik segenap Civitas Akademika tidak boleh tidak harus harus dipenuhi. Hal ini disampaikan oleh Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Labibah Zain kepada Nusantaranews.co, Jum’at (9/9).

“Tugas utama perpustakaan perguruan tinggi adalah pada pemenuhan kebutuhan informasi akademiknya. Termasuk membantu para mahasiswa dan dosen serta karyawan untuk bisa mengelola informasi yang ada menjadi pengetahuan baru,” cetus Labibah.

Menurut Mantan Wakil Direktur Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga ini, perpustakaan juga merupakan tempat untuk meningkatkan kualitas karya Ilmiah baik mahasiswa, dosen, atau karyawan perpustakaan sekalipun.

“Pembuatan karya tulis ilmiah yang bermutu sesungguhnya bisa dimulai dengan mengunjungi perpustakaan, menemui pustakawannya untuk melakukan konsultasi identifikasi masalah, menemukan pokok persoalan, membangun strategi penelusuran informasi, menemukan sumber informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi informasi, menganalisis, menuliskannya, mencantumkan sumber-sumber rujukan hinga menyebarkan dan mempublikasikannya. Fungsi-fungsi seperti itulah yang masih perlu disosialisasikan,” tutur Labibah lagi.

Lebih lanjut, Peraih gelar master dari McGill University, Canada itu menegaskan bahwa, kebutuhan dasar membaca seharusnya sudah terlampaui ketika mahasiswa melalui pendidikan dasar dan menengah. “Akan tetapi kebutuhan membaca harus terus dipupuk di dalam lingkungan perguruan tinggi. Karena di perguruan tinggi mau tidak mau mahasiswa harus membaca,” imbuhnya.

Dosen Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mencoba menunjukkan salah satu soal yaitu, Bagaimana dengan membaca di luar buku akademik? “Nah ini menjadi tanggung jawab bersama dosen, perpustakaan dan komunitas-komunitas mahasiswa,” ujar dia.

Tidak hanya itu, Labibah menegaskan bahwa dosen juga harus bisa memancing mahasiswa untuk membaca dengan menyelipkan pancingan diantara tugas-tugasnya dan mendiskusikan isu-isu terbaru di kelasnya. Dalam pada itu, perpustakaan bertugas menyediakan sumber informasi. Sehingga komunitas mahasiswa bisa menjadi ajang interaksi untuk melakukan perjalanan “imajiner” melalui buku. (Sulaiman)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts