Connect with us

Lintas Nusa

Mensos Apresiasi Tim Penyelamat Korban Kapal Tenggelam di Simalungun

Published

on

Menteri Sosial Idrus Marham mengunjungi keluarga korban tenggelamnya KM. Sinar Bangun 5 di Pelabuhan Fery Tiga Ras Simalungun Sumatera Utara. (FOTO: Humas Kemensos)

Menteri Sosial Idrus Marham mengunjungi keluarga korban tenggelamnya KM. Sinar Bangun 5 di Pelabuhan Fery Tiga Ras Simalungun Sumatera Utara. (FOTO: Humas Kemensos)

NUSANTARANEWS.CO, Simalungun – Menteri Sosial Idrus Marham mengunjungi keluarga korban tenggelamnya KM. Sinar Bangun 5 di Pelabuhan Fery Tiga Ras Simalungun Sumatera Utara, Minggu (24/06/2018).

Dalam pertemuan dengan keluarga korban, selain menyampaikan lima hal penting yang dipesankan Presiden Joko Widodo, Mensos juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh tim penyelamat atas dedikasinya dalam upaya mencari korban yang belum ditemukan.

Berdasarkan data dari Posko Pencarian Korban KM Sinar Bangun terdapat 1.730 relawan yang tergabung dalam tim pencarian korban. Mereka terdiri dari personel Basarnas 120 orang, TNI 350 Orang, Polri 350 orang, Dishub 100 orang, Pemprov 400 orang, unsur potensi gabungan 410.

Untuk meringankan penderitaan korban dan mendukung operasional posko, pada kesempatan tersebut Mensos menyerahkan bantuan sebesar Rp649,6 juta kepada keluarga korban dan Pemerintah Daerah Simalungun.

Bantuan yang diserahkan terdiri dari santunan kepada dua ahli waris korban meninggal masing-masing Rp15 juta senilai 30 juta, sembako kepada keluarga korban 100 paket senilai 10 juta, santunan kepada korban selamat untuk 18 orang masing-masing 2,5 juta senilai 45 juta, bantuan paket lauk pauk siap saji sebanyak 250 paket senilai Rp63,5 juta, lauk pauk lokal senilai Rp20 juta, sembako untuk ahli waris senilai Rp400 ribu dan satu unit Mobil Umum Dapur Umum Lapangan senilai Rp465, 6 juta untuk Dinsos Kabupaten Simalungun.

Sebagai apresiasi terhadap Tagana, Mensos juga memberikan bantuan transport sebesar Rp10 juta. Selain menyerahkan bantuan, Kemensos juga memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) kepada keluarga korban yang belum ditemukan.

“Dengan diberikannya layanan dukungan psikososial, semoga keluarga tidak mengalami kedukaan yang berkepanjangan. Karena kalau melihat hasil pencarian sampai hari ini belum ditemukan tanda-tanda yang mengarahkan keberadaan korban. Itulah pentingnya layanan dukungan psikososial,” tandas Idrus Marham.

Berdasarkan data dari Posko Pencarian Korban KM. Sinar Bangun 5 setidaknya terdapat 205 penumpang saat musibah terjadi. Sebanyak 21 orang telah ditemukan dengan 18 orang selamat dan tiga orang meninggal. Diperkirakan 184 korban lainnya (data di posko bencana sesuai laporan pihak keluarga) belum ditemukan termasuk bangkai kapal.

Nurhaida br. Gultom, salah satu ibu yang anaknya merupakan penumpang kapal berharap anaknya bisa ditemukan. “Saya berharap segera ada hasil dari pencarian, supaya saya bisa melihat anak saya meskipun sudah meninggal,” kata Nurhaida.

Anaknya bernama Korry Maya Sumarni Nadapdap (30 th) merupakan salah satu korban yang belum ditemukan. Korry adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang tinggal di Jl. Asahan KM. V Gg. Subur Kelurahan Sejahtera Siantar.

Nurhaida menuturkan bahwa saat kejadian anaknya sedang berwisata bersama dengan tujuh orang temannya. “Saat kejadian, Korry diajak jalan-jalan bersama dengan teman-temannya, dari delapan orang hanya satu temannya yang selamat yang sedang hamil dua bulan,” kenangnya.

“Saya sudah ikhlas, karena kalau lihat kondisi seperti ini mustahil bisa ditemukan dalam keadaan hidup,” tambahnya.

Nurhaida menduga bahwa saat kejadian anaknya pada posisi di dalam kapal sehingga tidak bisa menyelamatkan diri. “Kalau saja dia bisa keluar dari kapal.saat tenggelam pasti dia selamat, karena dia jago berenang,” katanya.

Lain halnya dengan Riyan Afandi (26 th) yang tinggal di Jl. Gunung Bendahara Lingkungan 1 Kel. Puji Dadi Kec. Binjai Selatan, Kab. Binjai.

Fandi kehilangan tujuh orang yang dikasihi, mereka adalah kedua orang tua, 4 orang saudara, dan satu adik ipar. ketika bencana terjadu, Fandi sedang berkunjung ke rumah saudaranya di Sibolga sehingga tidak ikut berwisata dengan keluarganya.

Fandi menuturkan, saat ia pulang ke Binjai mendapati rumahnya kosong. “Tetangga bilang katanya ada kecelakaan kapal di Toba,” ujar Fandi.

Dengan rasa cemas, Fandi mengharap keluarganya tidak ikut menjadi korban. “Setelah Tim SAR menemukan Fahrianti yang merupakan ibu kandungnya, maka perasaan menjadi sedih karena ternyata keluarga ikut dalam kapal itu,” tutur Fandi dengan mata berkaca-kaca.

Ia berharap agar pencarian korban segera membuahkan hasil dalam kondisi apapun. “Saya sudah mengiklaskan meskipun pedih dalam hati,” ungkap Fandi. (red/mys)

Editor: Achmad S.

Advertisement

Terpopuler