Connect with us

Terbaru

Menilik Eksistensi Meme sebagai Virus Akalbudi

Published

on

kebencianku, kata, bibir, berakhir, nusantara news

Sebuah lukisan di galeri lukisan Taman Ismail Marzuki. (Foto: Achmad S/ED/NUSANTARANEWS.CO)

Menilik Eksistensi Meme sebagai Virus Akalbudi

Mungkin kita sudah tak asing dengan meme yang kerap berseliweran di media sosial. Pada umumnya, meme dipahami sebagai cuplikan gambar dari acara televisi, film, atau gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan menambahkan kata atau tulisan lucu yang bertujuan untuk menghibur. Dengan adanya meme, warganet setidaknya bisa terhibur dan membagi kembali meme itu agar bisa dilihat oleh warganet lainnya. Jadilah meme seperti virus yang membikin warganet lain ikut tertawa dan kembali menyebarkannya.

Meme ternyata bukan hanya sekadar cuplikan gambar atau foto yang dimodifikasi dengan tulisan lucu saja, tapi lebih luas dari itu. Seorang biolog dari Oxford University, Richard Dawkins, yang pertama kali mencetuskan kata “meme” dalam bukunya berjudul The Selfish Gene (1976).

Meme inilah yang menurut Dawkins menjadi dasar evolusi kebudayaan manusia yang mampu berkembang bak virus, yakni: menembus, berlipat ganda, dan menyebar. Contoh meme yag mula-mula dirumuskan Dawkins berupa: lagu, gagasan, kata-kata yang sedang tren, mode pakaian, dan cara-cara membuat gerabah atau kubah bangunan. Dari situ pula muncul memetika — cabang ilmu baru yang mempelajari meme.

Lagu, gagasan ataupun kata yang melekat erat di benak seseorang kemudian menggerakkan orang itu untuk menyebarkannya lagi kepada teman yang lain, maka hal tersebut bisa dibilang meme. Jadi meme semacam “virus akalbudi” yang menular dari otak ke otak, menjangkiti pikiran kita, lalu membuat kita menyebarkannya.

Dalam buku Virus Akalbudi (2014), programer asal Amerika Serikat, Richard Brodie menerangkan, “Virus akalbudi adalah sesuatu yang berkembang di dunia ini yang menjangkiti orang dengan meme. Meme ini, pada gilirannya, memengaruhi perilaku orang-orang yang terjangkiti sedemikian rupa sehingga mereka menolong melestarikan dan menyebarkan virus tersebut.”

Adapun meme sekarang kian masif diproduksi kemudian disebar untuk membentuk perilaku serta pola pikir khalayak. Dengan munculnya koran, televisi, radio, film, maupun media sosial, meme yang dibangun oleh individu atau kelompok dapat menyebar dengan luwes. Namun, perlu diingat bahwa sesuatu bisa disebut meme jika berhasil berlipat ganda kemudian menyebar ke pikiran orang lain dan memengaruhi cara ia berperilaku.

Oleh sebab itu, biasanya meme yang laku dipasaran kerap bertalian dengan bahaya, makanan, dan seks. Lebih lengkap lagi, meme yang sukses, disusun dengan embel-embel krisis, misi, masalah, dan peluang. Hal ini dikarenakan faktor-faktor tersebut bagian dari “otak reptil.”

Seperti yang dijelaskan ahli saraf asal Amerika Serikat, Paul Donald Maclean, dalam The Triune Brain Theory bahwa otak reptil adalah bagian otak yang menyimpan sifat “primitif” manusia seperti food (makan), flight (kabur), fight (berkelahi), dan fuck (berahi). Brodie menyebutnya sebagai insting yang memang sudah ada sejak zaman purbakala dan melekat sampai sekarang. Insting itu biasa digunakan untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

Proses Kerja Meme dan Pengaruhnya

Tadi dijelaskan bahwa koran, televisi, radio, film atau media sosial turut membantu persebaran meme. Meme sendiri memiliki berbagai rupa di antaranya yang berkaitan erat dengan beberapa media di atas yakni periklanan dan pemberitaan. Dua hal itu seringkali ditemui di berbagai media massa, dan kini merambah ke media sosial — yang menghubungkan umat manusia di dunia.

Kita mengenal iklan – dalam hal ini iklan komersial — sebagai kegiatan berpromosi barang atau jasa yang dimaksudkan untuk menginterpretasikan kualitas produk, jasa, dan ide berdasarkan kebutuhan dan keinginan konsumen. Sementara itu pemberitaan adalah proses, cara, serta perbuatan memberitakan. Pemberitaan tentunya tak lepas dari ilmu jurnalistik.

Di dunia periklanan dan pemberitaan ini, dapat kita lihat bagaimana meme bekerja untuk bisa memengaruhi khalayak. Misal, di bulan November 2019 silam, muncul iklan trader saham, Binomo yang viral dengan sang bintang iklan bernama Budi Setiawan alias Yosua Putra. Dalam iklan itu, dia berkata, “Jutaan orang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya bisa menghasilkan 1000 dolar tanpa meninggalkan rumah.”

Tentu pernyataan si bintang iklan itu membikin pemirsa mengernyitkan dahi. Apalagi setelah diketahui bahwa sang bintang iklan bukanlah trader saham profesional melainkan seorang musisi yang hidupnya sederhana. Kini, dia tinggal di Bali dengan menyewa kos-kosan seharga Rp 650.000 dan mengaku kesusahan.

Dari sudut pandang meme, iklan Binomo mencoba untuk membundel promosi produknya dengan unsur “peluang.” Hal itu dilihat dari kalimat “Menghasilkan 1000 dolar tanpa meninggalkan rumah” di tambah lagi dengan kalimat sensasional yang bikin penasaran “Jutaan orang bahkan tidak menyadari”. Sungguh iklan yang begitu menggemparkan khalayak. Lantas dari situ, iklan tersebut menyebar ke media sosial. Disaksikan oleh ratusan juta penduduk Indonesia. Hasilnya, banyak sekali meme-meme bernada humor satire yang membikin kita tertawa.

Iklan selanjutnya bisa dibilang cerdik. Di bulan Oktober 2019, sebuah pengembang properti hunian mempromosikan produknya dengan embel-embel “Beli rumah dapat janda muda”. Diketahui pengembang properti tersebut adalah PT Kayana Inti Selaras, selaku pengembang The Orchard Residences @ Parung.

Usut punya usut, “Janda muda” yang dimaksud hanyalah strategi pemasaran untuk menggaet konsumen. “Janda muda” dalam promosi itu merupakan akronim dari “Jaminan, Asuransi kebakaran, Nokia 5.1, Diskon uang muka, Angsuran ringan (Janda), serta Menginap di Phuket atau Bali, Untung dan Aman (Muda)”.

Dalam hal ini, pengembang properti mempromosikan produknya dengan unsur “seks”. Penggunaan kata “Janda muda” tentu membuat khalayak penasaran. Kata “Janda” sendiri di Indonesia kerap diartikan sebagai hal yang negatif dan bisa juga dikaitkan dengan seorang wanita—tanpa suami—yang butuh belai kasih. Kemudian janda seringkali dianggap sebagai perusak rumah tangga atau penggoda suami orang, padahal belum tentu.

Beralih ke dunia pemberitaan. Liputan “Investigasi” mengenai makanan atau jajanan berbahaya mengandung boraks maupun bahan berbahaya lainnya, bisa menjadi contoh meme yang disusun dengan unsur “bahaya” dan “makanan”. Laporan jurnalistik macam ini mampu memengaruhi khalayak untuk selektif dalam mengonsumsi suatu hidangan. Lebih parah lagi jika laporan di-framing sedemikan rupa bahwa makanan atau jajanan pedagang kaki lima (PKL) tidaklah sehat dan cederung menjadi sumber penyakit. Tentu ini akan merugikan pedagang sejenis yang berjualan penuh kejujuran.

Menilik dari beberapa contoh meme di atas, bahwa meme yang mencuri perhatian tak lepas dari bahaya, makanan, seks, dan peluang. Keempat hal tersebut menjadi bahan utama untuk menyukseskan meme masuk ke benak kita kemudian berlipat ganda dan menyebar ke pikiran orang lain. Bisa saja kelak akan muncul kembali meme-meme serupa yang membikin kita trenyuh, tertawa atau bahkan heran.
Yang pasti, manusia tidak bisa lepas dari keberadaan meme-meme itu.

Sebab, pada dasarnya diri setiap manusia adalah hasil gagasan atau pemikiran orang lain yang diterima oleh manusia iu sendiri sebagai bagian dari hidupnya. Jadi sulit sekali manusia bisa secara utuh menjadi dirinya sendiri secara paripurna. Oleh sebab itu, tugas kita yakni untuk menyeleksi, meme mana yang kita butuhkan untuk menunjang kehidupan kita nanti di masa depan agar bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

 

Biodata penulis:

Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Kini, sedang kuliah di UPN Jakarta. Jurusan Komunikasi. Dia suka sekali mendengarkan musik, menulis, dan membaca. Baginya, hal tersebut merupakan sarana penyaluran isi hati dan pikiran. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, dan nyimpang.com. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. E-Mail: [email protected], Intagram: @ardhigidaw,

Loading...

Terpopuler