Connect with us

Berita Utama

Menhan RI-AS Bahas 3 Isu Penting di Kemhan Indonesia

Published

on

Posisi Natuna dalam Peta (Ilustrasi). Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menggelar pertemuan penting dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis di Kantor Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (23/1/2018).

Ryamizard mengungkapkan bahwa pertemuan keduanya membahas soal larangan prajurit Kopassus masuk ke AS, penanggulangan terorisme dan pertahanan serta Laut Natuna Utara.

Tiga poin penting adalah persoalan dilarangnya prajurit Kopassus masuk ke AS karena tudingan pelanggaran HAM di Timor Leste pada medoi 1990-an silam. Barangkali karena hal inilah yang membuat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo ditolak masuk ke AS saat menjabat Panglima TNI pada Sabtu 21 Okrober 2017 lalu. Padahal, Gatot Nurmantyo diundang Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Joseph F Dunford untuk menghadiri konferensi tentang kejahatan ekstremisme pada 23-24 Oktober 2017.

Karenanya, Menhan mengungkapkan Mattis berjanji mencabut larangan prajurit Kopassus masuk ke AS. “Dia akan usahakan mencabut itu,” ujar Menhan.

“Salah satu sanksinya adalah mereka (Kopassus) tidak diijinkan bepergian ke Amerika. (Akibatnya) mereka tidak bisa melakukan latihan bersama, tapi dia (Mattis) akan membuka kembali ini (sanksi),” sambung Ryamizard.

Persoalan strategis kedua adalah soal Laut Natuna Utara. Diketahui, pada Juni 2017 lalu Indonesia mempertegas kedaulatannya di Laut Natuna dengan menetapkan pembaharuan peta NKRI. Salah satu perubahannya terletak pada penggantian nama zona ekonomi ekslusif Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara.

Tak lama usai penetapan, Cina diketahui melayangkan protes kepada pemerintah Indonesia karena mengubah nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara. China menuntut Indonesia membatalkan keputusan mengganti nama Laut Natuna Utara tersebut. Tapi, pemerintah bergeming. Bagaimana pun, nelayan-nelayan Cina sudah terlalu sering kedapatan mencuri ikan di sekitar Kepulauan Natuna. Tak hanya nelayan, Cina juga diketahui mulai memperluas kehadiran militernya di dekat Natuna dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga:  Menhan Tawarkan Produk Alutsista Indonesia ke Negara Sahabat

Mattis justru memanfaatkan konflik Indonesia-Cina tersebut. Ia memandang Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki jangkauan maritim yang sangat strategis. Indonesia, kata Mattis merupakan sebuah negara yang memiliki titik tumpu maritim di wilayah Indo-Pasifik.

“Ini sangat penting. Kami ingin membantu menjaga kesadaran domain maritim di Laut China Selatan dan Laut Natuna Utara. Masalah ini harapan kami bisa melakukan sesuatu,” ungkap Mattis.

Belakangan, kegeraman AS terhadap isu senjata nuklir Korea Utara telah menjadi pemicu semakin agresifnya Negeri Paman Sam di kawasan Asia Pasifik, terutama di sektor laut.

Isu lain adalah soal pembelian jet tempur. AS diyakini tak begitu senang dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang memutuskan untuk membeli jet tempur jenis Su-35 dari Rusia. Seperti diketahui, Agustus 2017 lalu Indonesia sepakat membeli sedikitnya 11 unit jet tempur Su-35 dari Rusia, di mana pembeliannya dilakukan melalui imbal dagang. (red)

Editor: Redaktur

Loading...

Terpopuler