Connect with us

Politik

Mengulik Keuntungan Oposisi di Negara Demokrasi

Published

on

akal sehat, akal sehat rocky gerung, rocky gerung, politisasi akal sehat, politik akal sehat, filosofi akal sehat, filsafat akal sehat, nusantaranews

Politik akal sehat. (Foto: Ilustrasi/IST)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pengamat politik Ujang Komarudin mengungkapkan sejumlah keuntungan oposisi di negara demokrasi. Sebab, oposisi juga memiliki hak-haknya sebagai penyeimbang pemerintahan yang sedang berkuasa.

KPU RI menetapkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019. Penetapan itu sendiri diperkuat oleh putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak semua gugatan pasangan Prabowo-Sandi yang memiliki sejumlah bukti adanya kecurangan massif selama proses pemilihan presiden.

“Oposisi dalam negara demokrasi merupakan keniscayaan. Negara tanpa oposisi hanya akan menguatkan pemerintahan yang palsu dan keliru,” ujar Ujang kepada NUSANTARANEWS.CO, Selasa (2/7/2019).

Baca juga: Tugas Oposisi Kritik Pemerintah, Rocky: Lalu, Ngapain Lu Kritik Oposisi?

Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin didukung oleh sejumlah parpol besar seperti PDIP, Golkar, Nasdem, PKB dan PPP. Lebih-lebih, usai putusan MK, parpol besar lainnya tampak akan ikut bergabung dengan pemerintahan Jokowi. Sebut saja PAN dan Demokrat.

Loading...

Akibatnya, tersisa Gerindra dan PKS yang masih ada kemungkinan maju sebagai parpol oposisi.

Melihat dinamika politik tersebut, Ujang menuturkan, oposisi tetap memiliki keuntungan tersendiri dalam negara yang menganut sistem demokrasi seperti Indonesia.

Baca juga: Partai Oposisi versus Partai Berkuasa

“Keuntungannya (oposisi) bisa membela rakyat. Bisa mengingatkan pemerintah ketika salah jalan. Dan keuntungan lain, jika pemerintahannya gagal, maka otomatis akan dipercaya rakyat,” terang dia.

Keuntungan oposisi juga pernah disampaikan penyair kenamaan WS Rendra melalui sebuah puisisnya bertajuk Hak Oposisi. Meski demikian, memutuskan untuk menjadi parpol oposisi tentu bukanlah perkara mudah.

Hak Oposisi

Aku bilang tidak,
aku bilang ya,
menurut nuraniku.
Kamu tidak bisa mengganti
nuraniku dengan peraturan.
Adalah tugasmu
untuk membuktikan
hahwa kebijaksanaanmu
pantas mendapat dukungan.
Tapi dukungan –
tidak bisa kamu paksakan.
Adalah tugasmu
untuk menyusun peraturan
yang sesuai dengan nurani kami.
Kamu wajib memasang telinga,
– selalu,
untuk mendengar nurani kami.
Sebab itu, kamu membutuhkan oposisi.
Oposisi adalah jendela bagi kamu.
Oposisi adalah jendela bagi kami.
Tanpa oposisi: sumpek.
Tanpa oposisi: kamu akan terasing dari kami
Tanpa oposisi, akan kamu dapati gambaran palsu
tentang dirimu.
Tanpa oposisi kamu akan sepi dan onani

(rmd/eda)

Baca Juga:  Ahmad Yani: Politik Kita Dipenuhi Sarkasme

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler