Connect with us

Terbaru

Menghitung Jam Tidur Bisa Picu Kecemasan

Published

on

Tidur/Ilustrasi/Foto: Scott Stump

NUSANTARANEWS.CO – Dewasa ini, masyarakat modern telah mengajarkan kita untuk menghitung segalanya. Entah itu kalori yang kita konsumsi atau berapa banyak langkah yang kita ambil setiap hari, sebagian besar waktu menghitung membantu kita mengembangkan kebiasaan yang lebih baik. Namun, menghitung jam tidur bisa memperburuk dan menimbulkan kecemasan karena kita tidak bisa mendapatkannya.

Oleh karena itu, bila kita mengantuk atau terbangun pada malam hari cobalah jangan tergoda melihat jam. Bila Anda melakukannya segera otak Anda akan bereaksi menghitung berapa jam Anda telah tidur – sehingga kecil kemungkinan Anda akan dapat tertidur kembali dengan cepat.

Jumlah tidur yang dibutuhkan seseorang benar-benar bervariasi, dan kita perlu memikirkan kebutuhan pribadi kita saat harus beristirahat dengan baik.

Di malam hari secara alami kita mulai rileks dan merasa mengantuk, entah itu di depan TV atau di tempat lain. Kita kemudian sadar dan bersiap untuk tidur. Tapi hal ini malah memacu adrenalin kita sehingga menstimulasi tubuh dan membuat kita lebih sulit untuk tidur.

Seorang profesional medis dapat membantu Anda untuk menyadari bahwa tidak ada yang namanya tidur malam ‘normal’. Hal ini membuat orang menjadi lebih sadar akan kebutuhan pribadi mereka dan mengikuti peraturan mereka sendiri tentang tidur.

Loading...

Mungkin sulit untuk beristirahat di tempat pekerjaan tapi tidur siang sebentar 20-30 menit dapat membantu memperbaiki mood, kewaspadaan dan penampilan, terutama di sore hari ketika kadar gula darah rendah.

Ingatlah tidur siang tidak boleh menggantikan periode tidur yang lama. Dan seperti semua yang harus dilakukan dengan istirahat, itu benar-benar pribadi – tidur siang mungkin bagus untuk beberapa orang sementara orang lain akan merasa sulit untuk memasukkannya dalam rutinitas sehari-hari – dan itu tidak masalah. (Alya Karen)

Baca Juga:  Kesehatan Mental Pria Muda di Inggris Mengkhawatirkan, Bagaimana di Indonesia?

Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler