Connect with us

Budaya / Seni

Mengenang Satu Dekade Wafatnya Rendra, Catatan Singkat Wartawan Senior

Published

on

Mengenang Satu Dekade Wafatnya Rendra, Cacatan Singkat Wartawan Senior

Mengenang Satu Dekade Wafatnya Rendra, Catatan Singkat Wartawan Senior. Rendra Wafat Pada 6 Agustus 2009 Silam.

Mengenang Satu Dekade
Wafatnya Rendra, Catatan Singkat Wartawan Senior

Oleh: Arief Gunawan, Penulis Adalah Wartawan Senior dan Praktisi Media

NUSANTARANEWS.CO – Aku ingin mengenang Rendra, antara lain karena jasa-jasanya.

Pertama, sebagai penyair Rendra adalah orang pertama di Indonesia yang memperkenalkan pembacaan puisi menjadi tontonan publik, di ruang-ruang terhormat.

Kedua, dia seorang pemikir kebudayaan, penulis, dan pembicara yang baik dalam mengutarakan pemikiran-pemikirannya tentang banyak hal.

Loading...

Ketiga, Rendra meneruskan tradisi sanggar teater profesional yang mengelola diri secara mandiri tetapi tetap memelihara relasi dengan masyarakat luas. Di Indonesia dulu pernah ada group teater profesional seperti Dardanela, Dwija, dan perkumpulan-perkumpulan teater tradisional lainnya yang cukup terkenal. Di Spanyol ada penyair dan dramawan Fredrico Garcia Lorca yang juga disukai Rendra, yang mengembangkan sanggar teater terkemuka.

Keempat, Rendra memperkenalkan impresario. Yaitu pihak yang memberikan bantuan atau dukungan finansial sebagai sponsor pertunjukan kesenian.

Baca Juga: Fahri Hamzah Sebut Rendra Adalah Sosok Sastrawan Terbaik

Ini adalah hal yang lumrah terutama di negara-negara yang memberikan perhatian yang tinggi kepada karya-karya seniman yang bermutu. Berkaitan dengan ini waktu itu, saya ingat, Rendra menulis sebuah artikel di koran, berjudul “Firdaus Sudah Tidak Ada”.

Intinya menjelaskan seniman harus mandiri, harus gagah di tengah kemiskinan, harus tabah, tetapi juga harus realistis.

Kelima, Rendra merupakan simbol pergerakan, pro demokrasi, pembela kaum pinggiran, anti feodalisme.

Keenam, HB Jassin mengatakan Rendra merupakan perpanjangan tangan Chairil Anwar. Ia penyair besar Indonesia dengan tema-tema baru. Secara angkatan kepenyairan; Rendra berdiri sendiri.

Baca Juga:  Mbah Jaitun Senang dengan Rumah Barunya

Ketujuh, Rendra memberikan pengaruh yang kuat kepada kelompok musik seperti Kantata Taqwa, juga kepada musisi di dalamnya seperti Iwan Fals, Yockie Suryoprayogo. Boleh dibilang puncak keartisan Iwan Fals sebagai penyanyi menemukan klimaksnya tatkala dia nyantri di Bengkel Teater selama berbulan-bulan dan berinteraksi langsung dengan Rendra yang memperkenalkannya kepada kebudayaan, syair, dan aspek kesenimanan yang ideal.

Ke delapan, Rendra itu handsome and charming. Dia aktor yang memukau. Dia orang yang hidup di dalam keindahan bahasa. Dia flamboyan karena itu dia juga hidup dalam keindahan wanita… He he he…

Saya menangis waktu Rendra meninggal. Badan saya lemes.

Saya mengeluh bahwa habis sudah orang-orang bermutu di negeri ini. Seniman besar di negeri ini.
Rendra pergi meninggalkan kita.

Malam itu saya langsung ngebut ke Cipayung. Malam terang bulan di halaman pendopo Bengkel Teater. Saya nungguin jenazah Rendra, yang ternyata disemayamkan di Pesona Kayangan.

Saya banting stir ke sana. Mendapati jenazah Rendra terbaring di ruang tamu.

Ya Allah Ya Rabb kasihilah Rendra sebagaimana ia selalu mengasihi sesama insanMU.

Saya tidak menangis tetapi berdiri lunglai.

Paginya saya balik lagi ke Cipayung. Rendra dimakamkan disitu. Saya ketemu banyak lagi teman dan para kolega, yang ikut bertakziah. Jenazah disholatkan di masjid seberang Bengkel Teater.

Waktu itu hari Jumat. Disholatkan sesudah salat Jumat. Masyarakat membludak. Jalanan penuh dengan shaf untuk mensholati. Ya Allah, betapa diberkahinya engkau Mas Willy.

Kerandamu digotong dari pelataran rumah panggungmu menuju masjid dan ketika selesai disalatkan di masjid aku terhalang ratusan orang yang mengiringimu menuju liang lahat di kebun belakang Bengkel Teater.

Ya Allah betapa baik dan mulia tanda-tanda sayang yang Engkau berikan kepada Mas Willy.

Baca Juga:  Kokam Pemuda Muhammadiyah: Substansi Pesan Amien Rais adalah Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Saya nyempil tiada bergerak terserimpet oleh langkah dan himpitan orang-orang yang mengantarmu ke rumah terakhir manusia. Rumah paling purba tempat bersemayamnya raga sesudah terpisah dari jiwa.

*Ditulis untuk mengenang wafatnya Rendra pada tanggal dan bulan ini, 6 Aguatus 2019. Tulisan ini atas permintaan Romadhon Emka, teman wartawanku.

Loading...

Terpopuler