Connect with us

Terbaru

Mengejar Kematian Setelah Kematian Hilang – Puisi Arafat Hambali (Malaysia)

Published

on

Putu Sutawijaya (Yogyakarta), The Way To Arahat, 140 x 200 cm, mixed media, 2007/Istimewa
Putu Sutawijaya (Yogyakarta), The Way To Arahat, 140 x 200 cm, mixed media, 2007/Istimewa

Meratib Kata-kata Resah Ketika Kopi Menjadi Susu

Dan daun-daun kering pun terbang
ditiup angin.
kopi masih di dalam balang kaca.
Aku masih meratib kata-kata resah
tentang sebaris puisi yang gelisah.
Jika besok anakku tertiba lahir,
apa telah siap kugantikan kopi dengan susu,
Lampin dan baju
Juga buku?

2016, Balik Bukit Chuping, Perlis, Malaysia

Kopi dan Puisi

Di hadapan sebuah bangunan.
laluan sunyi,
cuma sesekali ada kicau burung.
Aku menanti rezeki dari segelas kopi
Buat isteri yang setia di sisi.

Kopi dan puisi adalah sebuah kehidupan
Yang aku pilih untuk hidup sehari-hari.
Sebatang surya kuhisap dan kuhembus
untuk menerbangkan sugul
sebaris puisi kulanjutkan
Kukarangi dengan teliti.
Pengunjung tak juga tiba.
jiwaku bertanya,

Apa kopi dan puisi
benar-benar memberiku rezeki?

2016, Balik Bukit Chuping, Perlis. Malaysia

Mengejar Kematian

Ada rindu yang tertinggal
Ketika para angin mengejar resah,
Sedang kematian memburu waktu
Dan kita pun sugul membenci ruang.

Detik kelmarin adalah sebuah penafian
saat kebersamaan tidak lagi menyatu,
Di sisi gema yang merusuh
Tidak ada lagi sosok insani memuja alam.

Dalam perlahan waktu menginjak
dalam perlahan juga manusia berontak
Dan di sisi sebuah kematian
alamlah yang paling kasihan.

2016, Balik Bukit Chuping, Perlis. Malaysia

Kematian Yang Tidak Pernah Tunggal

kematian yang datang
tanpa perlu
ketika saat semua hal
saling menyendiri,
adalah sebuah tanda
perjalanan hidup
tidak seharusnya
ada sebuah pengahkiran
yang indah.

Kerana manusia tanpa jiwa
umpama pantat tanpa celana.

2016, Balik Bukit Chuping, Perlis. Malaysia

Restu

Restu dan doa ibu
adalah hal yang paling misteri
sesekali dimengerti,
bisa menjadi satu energi.

2016, Balik Bukit Chuping, Perlis. Malaysia

Setelah Kematian Hilang

Setelah angin kencang
kutambat erat di perdu pohon itu
kubiarkan saja derita terbaring
lalu kita menghitung ranting-ranting sengsara
pabila angin meninggalkan pedih
Di bawah pohon itu
segera kita waraskan semula
sebuah kealpaan.
cantumkan semua bilah-bilah resah
dan ranting-ranting sengsara
kutip segala kenangan dan tikungan lara,
Lepas berawangan derita menerbang.
Kita binakan amarah yang luhur
Untuk mencantas pemimpin yang tohor
demi kematian sebuah kezaliman

2016, Balik Bukit Chuping, Perlis. Malaysia

Arafat Hambali

Arafat Hambali

*Arafat Hambali, lahir di Balik Bukit Chuping Perlis, Malaysia. Mantan graduan seni halus UiTM Shah Alam dalam major seni arca. Pernah menyertai beberapa pameran seni rupa dan pernah memenagi tempat utama kategori puisi, Hadiah Sastera Selangorkini 2015. Antara antologi bersama, Puisi Jadi Senjata, 2011. Puisi Jadi Senjata, Demokrasi Terdera 2012, Dia Ida, 2014. Nak Jadi Thukul 2014, Rumput Kuning, 2014, Trisula Kata Dari Daerah M,2014. Kita Semua Ayah Halim 2015, Kumpulan puisi pertama Kepak-kepak Malam Dari Sorga 2016 dan sedang menanti novel sulungnya diterbitkan serta karya-karyanya banyak disiarkan di beberapa akhbar alternatif sejak 2011 dan portal berita alternatif.

Loading...

Terpopuler