Politik

Mengapa Petahana Tak Lagi Otentik dan Miskin Gagasan?

game of thrones, perang dagang, winter is coming, pidato jokowi, nusantara, natalius pigai, annual meeting imf-world bank, nusantaranews, perekonomian global, kehormatan bangsa, nusantara news
Meme Jokowi tentang ‘Winter is Comig’. (Foto: HBO Asia)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Sederet diksi politik yang dilontarkan kubu petahana seperti Gebuk, Ajakan Berantem, Sontoloyo dan bahkan Genderuwo memunculkan kesan bahwa Jokowi kini kehilangan keontikannya. Berbeda dengan kontestasi pada pilpres 2014 silam, dimana mantan Walikota Solo itu berhasil mengidentifikasikan diri sebagai sosok yang kalem dan santun dengan diksi “Aku Ra Popo”. Representasi simbol masyarakat Jawa.

Namun, 4 tahun berkuasa, kini petahana tampak ‘arogan’ dan miskin gagasan, ketika jargon yang dimunculkan sarkastis. Seperti ‘Ajakan Berantem’, ‘Genderuwo’ dan ‘Sontoloyo’. Nyaris tak ada gagasan yang ditawarkan pada kontestasi kali ini.

Ini menunjukkan bahwa budaya politik Indonesia masih bukan politik subtansi. Bukan budaya politik yang melahirkan ide dan gagasan, misi misi tentang program yang terbaik.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai mengapa tampilan petahana sangat kontra diktif dengan pilpres sebelumnya? Ia mengatakan karena sekarang Jokowi statusnya, he has a power. Dimana ia sekarang memiliki kekuatan. Karena sudah punya power, sudah merasa kuat.

Baca Juga:  Pilih Koalisi Rakyat di Pemilu 2024, PDI Perjuangan Cuek Munculnya Koalisi Parpol di Jatim

Sehingga ketika ada respon kritikan kepadanya dibalas juga dengan repon negatif. Tapi justru itu dianggap blunder karena semakin mencitrakan dirinya sebagai sosok yang ‘arogan’.

“Sebenarnya ini yang kita sayangkan. Dalam konteks politik hari ini. Sejatinya tetap saja kalau bisa Pak jokowi bertahan dengan posisinya sebagai dinamika orang Jawa yang dikenal santun dan sopan. Sehingga nanti pola respon dari oposisi pun akan sama,” kata Ujang kepada redaksi, Minggu (18/11/2018).

Baca Juga:
Aura Sontoloyo dan Genderuwo di Seputar Pilpres (Meneropong Pilpres 2019 #10)
Setelah Politik Genderuwo, Kini Muncul Istilah Politik Tuyul
Sebut Politik Genderuwo, Jokowi Diminta Tidak Menakut-nakuti Masyarakat

Ia menjelaskan, sebagai sosok incumben, sudah barang tentu kinerja yang telah dilakukan selama ini menjadi tolak ukur. Baik itu kinerja di sektor ekonomi, politik, hankam dan hukum semua akan menjadi sorotan oleh pihak oposisi.

“Jadi ketika dikritik oposisi atau kubu penantang, maka kadang kadang kritikan ini yang membuatnya gerah. Yang membuat seolah olah kritikan itu fitnah, seoalah olah kritikan itu dianggap membusuk busuki. Padahal sejatinya dalam demokrasi, ketika ada kritikan, cukup dengan balas saja dengan sesuatu kinerja yang baik,” ungkapnya.

Baca Juga:  Isi Kursi Semua Dapil di Pemilu 2024, PAN Jawa Timur Buka Lowongan Caleg Warga NU Dan Muhammadiyah

Untuk itu, kata dia, kinerja petahana dinilai sangat menentukan. Masyarakat bisa memilih dan menilai. Ketika oposisi menilai tidak bener dengan sendirinya mereka akan terdegradasi. Tentu kalau pemerintahnya bekerja dengan baik.

“Oleh karena itu, wajar ada pergeseran komunikasi. Karena masyarakat atau oposisi menilai itu. Ketika penilaian masyarakat ataupun oposisi dianggap negatif maka responnya pun akan negatif. Jadi menurut saya pribadi, sejatinya ketika siapapun yang mengkritik, setajam apapun dan sekeras apapun balas dengan kinerja-kinerja yang baik,” tegasnya.

Ruang Kosong Politik Subtansi

Ia menambahkan, semestinya kalau belajar dari negara negara yang sudah mapan secara demokrasi, para calon kepala negara justru yang dipublis adalah program. Misal program kesehatan kami begini. Kelebihanya begini dan kekurangannya begini, silahkan kritik. Silahkan dibedah visi misi program itu di tempat kampanye.

Bukan sebaliknya hanya perang diksi yang miskin subtansi. Artinya masih ada ruang kosong dimana politik subtansi belum muncul.

Baca Juga:  Ketua Komite I DPD RI Dukung Langkah Menteri ATR/BPN Berantas Mafia Tanah

Sementara itu hilangnya keontikan Jokowi juga dirasakan pengamat filsafat politik, Rocky Gerung. Dikutip saat mengisi acara talk show di TV One pada Senin, 12 November 2018, Rocky membenarkan perbedaan Jokowi di tahun 2014 dengan Jokowi yang sekarang.

“Saya kira benar 2014, Pak Jokowi itu lebih otentik, artinya jadi apa yang dipikirkannya yang diucapkan, orang menganggap Jokowi ya itu,” kata Rocky Gerung.

Lebih lanjut, Rocky Gerung mengatakan jika Jokowi selalu melirik teks saat menyampaikan istilah seperti ‘Genderuwo’ dan ‘Sontoloyo’. “Artinya ada yang supply, itu yang bagi saya justru tidak otentik. Karena sebelumnya beliau memakai metafora, ‘Winter is Coming’, ‘Thanos’, sekarang dia pindah langgam, grammar ke istilah fit dan proper dengan suasana mistik,” ujar Rocky Gerung.

“Jadi itu menandakan bahwa Pak Jokowi akhirnya tidak origin lagi,” imbuh Rocky Gerung.

Pewarta: Romadhon
Editor: Alya Karen

Related Posts

1 of 1.738