Connect with us

Gaya Hidup

Mending Mundur, Alasan Terbaik Membuat Keputusan

Published

on

NUSANTARANEWS.CO – Membuat keputusan “Mending Mundur” (lebih baik mundur) dalam bidang apapun, tidak mudah untuk dilakukan untuk menjadi alasan terbaik dalam membuat keputusan. Kecuali jika Anda memang mudah menyerah. Misalnya, Anda memutuskan dari posisi tempat Anda bekerja, Anda harus punya alasan kuat dan keputusan itu yang terbaik buat Anda. Keputusan semacam itu biasanya cenderung dilakukan oleh orang-orang yang bermasalah dengan hal asmara. Misalnya, teman Anda sedang mengincar seseorang yang ia damba, tapi karena dirinya merasa tidak pantas, akhirnya ia memilih mundur dari pada terus memperjuangkan cintanya.

Dalam dunia kompetisi dan politik kata mundur pantang diucapkan oleh para pemenang. Para kompetitor yang lain, kendati mereka kalah, mereka tetap pantang mengatakan “mending mundur”. Membuat keputusan ini membutuhkan alasan yang kuat, supaya menjadi keputusan yang tepat dan tidak menimbulkan kekecewaan atau penyeselan di kemudian hari.

Inilah beberapa kasus dari para petinggi negara yang membuat keputusan, mending mundur karena alasan yang sangat kuat:

1. “Mending Mundur” a la Salah El Din Mahmoud Helal

Salah El Din Mahmoud Helal merupakan menteri pertanian Mesir yang memutuskan mending mundur dari jabatannya pada 8 September 2015 lalu. Dirinya mundur dari jabatannya lantaran terlibat dalam skandal surat lisensi tanah yang ilegal. Pengunduran dirinya diterima atas instruksi presiden Abdel Fattah al-Sisi.

2. Otto Perez Molina memilih mending mundur sebagai Presiden Guatemala

Otto Perez Molina merupakan mantan anggota militer yang menjadi politisi kemudian berhasil jadi presiden Guatemala sejak tahun 2012 hingga 2015. Molina mundur dari kursi kepresidenan pada 2 September 2015, lantaran sehari sebelumnya kekebalan hukum Molina dicabut berdasarkan keputusan sidang kongres. Dimana sejak tanggal 21 Agustus 2015, jaksa agung Guatemala telah menunjukkan bukti bahwa Molina terlibat dalam jaringan korupsi.

Baca Juga:  Sibuk Berpolitik, Pemerintah Abai Pada Ketimpangan Ekonomi

3. Brooks Newmark, seorang Menteri yang memutuskan mending mundur

Brooks Newmark merupakan menteri di bawah pimpinan PM Inggris David Cameron. Ia memutuskan mundur dari jabatannya pada 27 September 2014 lantaran ia terlibat dalam sebuah skandal seks. Inilah keputusan yang berdasakan pada kesadaran dan pengakuan.

4. Chiu Wen-ta: mending mundur dari pada merugikan rakyat Taiwan

Sebagai Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan sejak tahun 2011 hingga 2014, Chiu Wen-ta mengundurkan diri dari jabatannya pada 3 Oktober 2014. Keputusan tersebut merupakan bentuk pertanggung-jawaban politis karena terlibat skandal keamanan makanan. Karena skandal ini, ratusan ton produk berbahan minyak daur ulang dengan lemak babi ditarik dari pasaran.

5. Chiang Wei-ling

Chiang Wei-ling adalah seorang pendidik di Republik China dan Menteri Pendidikan sejak tahun 2012 hingga 2014. Chiang memilih mundur setelah terbukti terlibat skandal pendidikan. Kontroversi muncul sejak Chiang dikaitkan dengan seorang sarjana yang risetnya ditarik oleh penerbit Inggris karena tuduhan menggunakan identitas palsu. Diantara 6 artikel yang ditarik ada nama Chiang.

6. Midori Matsushima

Midori Matsushima adalah menteri Kehakiman dalam kabinet Perdana Menteri Shinzo Abe. Ia dituduh menyalahgunakan undang-undang pemilihan dan menggunakan dana dari kelompok dukungan politik. Ia pun memilih mengundurkan diri dari jabatannya supaya politik dan ekonomi tidak terhambat karena masalah yang menimpanya.

7. Yuko Obuchi

Yuko Obuchi juga salah satu menteri di bawah pimpinan perdana menteri Shinzo Abe. Ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Industri di Jepang. Pada Desember 2012, ia mengundurkan diri dari jabatannya setelah terlibat menyalahgunakan dana sebesar 10 juta yen.

8. Yoshimi Watanabe

Yoshimi Watanabe merupakan anggota legislative Jepang. Pada April 2014, Watanabe terbukti menerima pinjaman sebesar 800 juta yen dari direktur perusahaan kosmetik tanpa melaporkannya sebagai donasi politik. Ia bersikeras bahwa uang tersebut adalah pinjaman pribadi dan bukan untuk kegiatan politik. Meski begitu, ia tetap mengundurkan diri dari jabatannya.

Baca Juga:  Tahan Ahok Demi Stabilititas Politik dan Ekonomi

9. Michael Palmer

Michael Palmer menjabat sebagai Ketua Parlemen sejak 10 Oktober 2011. Namun jabatan tersebut tidak lama karena ia mengundurkan diri pada 12 Desember 2012. Pengunduran dirinya ini dilakukan karena skandal seksual yang ia lakukan.

Sembilan kisah atau kasus pengunduran diri di atas merupakan langkah atau keputusan yang harus dilakukan. Kata “mending mundur” tidak baik dilakukan dalam hal kebaikan. Segala kebaikan penting untuk diperjuangkan bukan malah milih mundur lantaran tidak siap menghadapi resikon dan konsekwensinya.

Di Indonesia, baru-baru ini terjadi kasus pencemaran nama baik terhadap organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dilakukan oleh Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. HMI pun menuntut Saut Situmurang atas tuduhan pencemaran nama baik untuk mundur dari jabatannya. Namun sampai sekarang, belum dikabarkan sejauh mana peroses berjalannya hukum bagi Saut Situmorang.

Nah, Keputusan “Mending Mundur” sudah pantas dilakukan oleh Saut Situmorang yang telah merusak marwah HMI. (MRH)

Loading...

Terpopuler