Budaya / SeniCerpen

Mendahului Ayah – Cerpen Ali Mukoddas

NUSANTARANEWS.CO – Kalian harus tahu kisah seorang anak dan ayah di dalam kamar. Di suatu keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki, seorang yang mengaku ibu sekaligus istri menyuruh suaminya menemani sang anak menuju tidur.

“Sesekali harus kamu, Mas, yang menjadi pengantarnya saat dia mau tidur. Seorang ayah pasti mengerti perasaan anak laki-lakinya karena sama-sama lelaki. Aku nyerah, setiap kesempatan membacakan cerita agar dia bisa tidur. Perempuan tak mengerti perasaan laki-laki.”

Baca Cerpen Ali Mukoddas lainnya:

Istri yang merangkap ibu di keluarga itu menunjukkan wajah kesal. Dia berpikir lelaki terlalu keenakan mendapatkan perlakuan istimewa dalam keluarga. Sesekali seharusnya seorang ayah juga bisa nyuci, ngepel, menanak nasi, mengurus anak. Agar tak dengan mudah memerintah ini itu kalau sudah tahu rasa sulitnya bagaimana.

“Seharusnya yang lebih tahu perasaan seorang anak adalah ibunya. Bukan karena anak laki-laki lantas tidak bisa dimengerti. Kau dulu pernah berkata kalau kau mengerti apa yang kurasakan, hinga kita menikah seperti sekarang ini.”

Si istri membalas kalau semua kalimat bualan itu dulu. Sekarang tidak ada hubungannya. Maka pergilah lelaki itu ke kamar anaknya. Berangkat dari keterpaksaan, akhirnya cerita anak dan ayah itu berlangsung. Seorang ayah disuruh bercerita, malah bingung mau bercerita apa.

“Yah, ceritakan tentang ayah. Enak tidak jadi ayah? Kata ibu ayah itu enak, tinggal makan, memakai baju tanpa perlu nyuci, tidur ada yang menemani.”

“Kau itu sudah besar, De. Tidak patutlah mau tidur masih harus mendengarkan cerita dulu.”

“Bukannya aku tidak bisa tidur kalau tidak diceritakan sesuatu, tapi takut.”

“Cengeng sekali. Inilah akibatnya kalau perempuan yang ngurus. Kau tidur saja, apa sulitnya.”

“Aku takut kegelapan.”

“Baiklah akan kunyalakan lampunya.”

“Aku tidak akan pernah bisa tidur dengan lampu yang menyala. Silau.”

Si ayah mengerutkan dahi. Anaknya itu sungguh menjengkelkan. Sudah sekolah dasar juga mengapa masih ngeyel mau ini itu yang macam-macam.

“Baiklah, kutemani saja sampai kau tidur. Bagaimana?”

“Ceritakan bagaimana enaknya jadi ayah. Kata ibu jadi ayah itu enak, lebih enak dari apa pun. Aku paksa ibu untuk tidur di sini, tapi dia tidak mau, malah memilih ayah. Enak sekali ayah, ya?”

“Jadi ayah itu susah. Apalagi menghadapi anak bandel seperti kamu.”

Sejenak lelaki yang menjadi ayah itu terdiam. “Eh, memang ibumu bercerita apa?”

“Setiap menemaniku untuk tidur, ibu selalu menceritakan tentang ayah dan kesengsaraan ibu. Ibu adalah korban, katanya. Ayah tega, kadang tak peduli ibu sedang letih tapi ayah tetap memaksa untuk menemaninya tidur. Aku bilang agar ibu tidur dengan aku saja kalau seperti itu, tapi ibu malah mencubitku.”

“Untung kau tidak dicakar. Ibumu itu kalau tidur suka nyakar-nyakar. Itulah mengapa mungkin dia kasihan kau kena ulahnya.”

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

Si anak memasang wajah meringis. Lalu tersenyum. “Lalu apa itu benar, Yah?”

Dalam hati si ayah bergumam, tega benar istrinya itu menceritakan hubungannya pada anak yang tidak tahu apa-apa. Ditambah menjelek-jelekkan suami di hadapan anaknya.

“Sudahlah, kau tidur saja. Benar atau tidak nanti kau juga akan tahu kalau sudah menjadi sepertiku. Atau aku tidur di sini saja menemanimu?”

“Wah mana muat, Yah? Ayah ceritakan enaknya jadi ayah saja, hal yang senang-senang, nanti kalau aku terlelap ayah tinggal pergi menemani ibu. Atau, sebenarnya ayah ini penakut? Tidur saja harus ditemani.”

Dalam hati lelaki itu mengumpat, kurang ajar. Anaknya lebih nakal dari pada dirinya dulu, pikir lelaki itu. Setelah menarik napas panjang, akhirnya dia membuka pembicaraan yang ringan dan mudah dipahami. Masalah ayah, tentu mudah kalau hanya untuk memanggilnya. Tidak perlu menghembuskan napas banyak. Memanggil nama ayah tidak seberat memanggil nama ibu. Perbedaan awalnya di sana. Setelah selesai menimbang cerita dan penjelasan yang baik untuk anaknya, lelaki itu memperbaiki posisi duduknya.

“Mudah menjadi ayah. Tapi susah. Enak menjadi ayah, tapi menderita. Kau nanti akan mengalaminya, jadi jangan bertanya sekarang agar nanti tidak takut saat menjadi ayah. Ditambah punya anak bandel seperti kamu, susahnya berlipat ganda. Ibu kamu itu, dulu gemuk dan berisi, lemah gemulai dan cantik serta dadanya besar. Tapi saat kamu ada, badannya memprihatinkan, kecantikannya berkurang. Orang bilang sebagian kecantikan dari orang yang mempunyai anak itu berpindah ke anaknya. Tapi kok aku tak melihat sinar kecantikan di wajahmu, tampan tidak. Mirip siapa  ini anak.”

“Mirip ayahnyalah.”

“Nyeletuk. Kalau nyeletuk lagi aku pergi saja nanti. Aku ini ganteng, tampan tak terkira. Ibumu itu sampai mengejar-ngejar ayah dulu. Karena tidak tega dari permohonannya setiap hari yang selalu menawarkan agar dinikahi, kunikahi dia. Begini-begini aku pernah diperebutkan oleh banyak gadis.”

“Memang berapa? Di sekolah, teman satu kelas semuanya menaksirku, Yah.”

“Kau ini, masih kecil sudah paham hal yang demikian, ya?” ucap lelaki yang dipanggil ayah seraya mendekatkan tinju ke kepala anak itu.

“Kan ibu yang ngajari, Yah. Kata ibu itu, agar uang jajanku tak habis, gunakanlah ketampanan untuk membeli makanan. Benar saja, banyak yang memberiku makan, Yah. Itu adalah bukti kalau aku sangat tampan. Ibu juga belang begitu, aku sangat tampan. Kecuali ayah yang iri selalu bilang jelek. Kalau jelek jangan ngajak-ngajak orang lain, Yah.”

“Kau ini pandai bicara juga, ya. Jangan katakan kalau kau pandai bicara seperti ini diajari ibumu. Benar?”

Anak itu mengangguk. Matanya yang bulat lebar berbinar-binar seperti tak ada dosa. Si ayah menggeleng-gelengkan kepala. Anaknya itu mulai pandai berbicara, padahal masih kelas tiga. Untuk anak seumuran dia, cara bicara itu terlalu mencolok. Nah, ini yang membuktikan kalau anak itu bandel, pikir si ayah.

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

“Setiap malam, apa yang ayah dan ibu lakukan? Kok aku sering…”

Belum sampai selesai kalimat itu, mulut sang anak tersumbat oleh tangan.

“Sering apa, heh? Itu ayah sedang pijat-pijat, bekerja sering membuat pusing. Itulah mengapa ayah katakan jadi ayah itu susah. Sudah kamu tidur sana, sudah larut besok sekolahnya mau aku seret?”

“Lah kalau aku sudah tidur ayah dan ibu mau apa?”

Sekali lagi tinju kecil mendarat di kepala anak itu. Dia mengeluh, menyingkirkan tangan yang meninjunya.

“Nanti bisa tambah pintar kalau ayah selalu memukul kepala, De. Ayah mau De gantikan posisi. Biar nanti De jadi ayah, dan ayah jadi anak De saja. Mau?”

“Menantang, ya? Mungkin kalau ibumu marah-marah kamu juga mau menggantikan ibumu itu? Mencuci baju, memasak, berbelanja, jaga rumah, mengurus segala kebutuhan? Mau?”

Anak itu menggelengkan kepala dengan polos.

“Dari tadi ayah marah-marah terus. Tak ada bahagianya sama sekali. Coba ayah ceritakan hal yang indah-indah. Tentang malam pertama ayah dengan ibu, misal.”

Kepalan tangan mendarat ke kepala si anak. Anak itu mengaduh dengan menyebut kata ayah.

“Kamu itu tambah lebih ajar. Memang siapa yang menceritakan hal seperti itu?”

“Ibu, ibu sering menceritakannya. Malam pertama dia dengan ayah. Saat teriakan pertama hingga tetes terakhir dan sebagainya. Itulah De bertanya apakah enak jadi ayah?”

Lagi-lagi lelaki itu hanya bisa mengumpat. Air mukanya memerah. Dia tak habis pikir, ternyata istrinya sendiri yang mengajarkan hal tidak baik pada anaknya.

“Kata ibu, kalau De ingin tahu lebih lanjut, De harus menanyakan langsung pada ayah. Bagaimana rasanya, Yah? Kalau enak, aku jadi buru-buru ingin menjadi ayah.”

Kali itu tak ada tinju yang mendarat. Lelaki itu menyandarkan diri pada ujung pembaringan dengan bertopang pada dua bantal. Pikirannya melayang pada malam pertama bersama istrinya. Malam pertama itu tidak seperti yang dibayangkannya, malah penuh musibah. Baru saja ingin memulai bercinta, ada kebakaran di rumah tetangga. Larut malam dia harus keluar serampangan demi menyelamatkan diri, takut-takut rumahnya yang kebakaran. Lalu di mana enaknya malam pertama, coba? Lelaki itu menelan ludah.

Ingatannya masih berlabuh untuk malam pertama. Malam berikutnya si istri bilang tak bisa, malam berikutnya lagi berkata lelah, dan seterusnya hingga malam ke tujuh. Penuh perjuangan.

“Benar ibumu menceritakan hal itu?”

“De rasa seperti itu. Iya.”

Anak itu cengengeran. Jauh dalam hatinya dia mengumpat kalau semua yang diucapkannya tadi adalah karangannya saja, mengingat pembicaraan kakak kelasnya yang sering berkisah hal yang menyenangkan itu.

Beberapa saat karena melihat raut muka ayahnya yang berubah dramatis, anak itu tertunduk. Menyesali semua perkataannya.

“Apa yang paling menyedihkan dalam hidup ayah? Yang paling ayah sesali.”

“Kau mengalihkan pembicaraan. Baiklah, yang paling menyedihkan adalah ketika aku kehilangan seorang ayah. Akan kuceritakan padamu mengapa kehilangan seorang ayah itu menyedihkan. Aku tidak pernah dekat dengan ayah, memeluknya pun tidak. Bertutur sapa, kami saling berjauhan. Aku tak seberuntung kamu, De.”

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

“Lalu hanya itu? De bahkan belum bersedih. Di mana letak kisah sedihnya?”

“Kamu tak akan pernah tahu tanpa mengalaminya secara langsung. Yang paling kusesalkan, aku tak sempat mencium tangannya. Seumur hidupnya aku tak pernah bercanda seperti kamu dengan aku saat ini. Sakit sekali, De. Bayangkan saja, setiap hari ayahku memberiku uang jajan tapi aku tak pernah mengucapkan terima kasih. Aku terlalu sibuk melakukan banyak hal, bermain, berjalan-jalan, sampai dewasa pun aku selalu menyusahkannya. Tak jarang aku meminta mainan, sepeda, motor, dan sebagainya. Keberadaan ayah seperti tak kuanggap. Hingga aku sadar ketika tak ada lagi sosok yang bisa memberiku makan, dan segala kebutuhan. Sakit, lebih sakit dari saat kau jatuh dari  belajar mengayuh sepeda pertama kali. Atau lebih sakit dari tak dianggap. Penyesalan datang bertubi-tubi seperti lapar yang berkepanjangan. Aku jadi kurus kering, penuh kekurangan. Pokoknya sedih sekali. Aku juga pernah menjadi seorang anak, dari itu aku mengerti posisimu, De. Jika aku ada, maka jangan sekali-kali mengelabui aku atau ibumu.”

“Jadi yang paling menyakitkan adalah saat kehilangan ayah? Lalu ibu?”

“Nenekmu masih ada, jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan ibu. Tapi tenang, De. Kematian pasti datang kapan saja. Hanya saja kita terlalu sedih dan kalut saat mendapati kematian dari orang yang diam-diam kita sayang. Ditambah orang yang disayang itu amat dekat seperti ayahku.”

Anak itu menundukkan wajah. Lama tercenung. Sedang si lelaki yang dipanggil ayah pikirannya mengembara pada saat kematian ayahnya. Dia kurang tahu bagaimana kejadian lengkapnya, tapi sekali menakitkan, saat dipandang dari sudut mana pun tetap menyakitkan.

“Eh, De? Kau mau ke mana?”

“Mau ke dapur ambil pisau. De tidak ingin melihat kesedihan dengan perginya orang di sekitar De. Lebih baik De pergi duluan. Selamat tinggal, ayah.”

Kepala anak itu untuk yang kesekian kalinya didarati tinjuan lembut.

“Kamu jangan bercanda mau bermain-main dengan pisau.”[]

Jakarta, 16 September 2017.

 

Ali Mukoddas adalah nama asli. Dia lahir pada putaran kalender ke 4 di bulan Mei 1997, tepatnya di desa Taman Sare, Sampang,  Madura. Sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Ilmu Hukum di UNU Indonesia, dan penggiat Komunitas Nulis Anonim (KNA). Juga seorang yang pernah menjadi santri di PP. Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Penulis bisa dihubungi lewat surel, [email protected], atau lewat akun Facebook dengan nama penulis.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Related Posts

1 of 3,078