Connect with us

Peristiwa

Mencerna Dengan Akal Sehat Hadiah Nobel “Kebijakan SD Inpres” Satu Dekade Lalu

Published

on

Mencerna dengan akal sehat Hadiah Nobel “Kebijakan SD Inpres” satu dekade lalu.

Mencerna dengan akal sehat Hadiah Nobel “Kebijakan SD Inpres” satu dekade lalu. Esther Duflo peraih Nobel Ekonomi saat diwawancara dalam BBC.

NUSANTARANEWS.CO – Mencerna dengan akal sehat Hadiah Nobel “Kebijakan SD Inpres” satu dekade lalu. Pengumuman peraih Nobel Ekonomi 2020 telah diumumkan pada hari Senin (12/10) menggenapkan enam kategori yang diumumkan oleh Komite Nobel sejak 6 Oktober lalu. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada mereka yang dianggap telah memberikan kontribusi besar terhadap dunia. Menariknya, peraih penghargaan Nobel 2020 tahun ini lebih banyak kalangan perempuannya.

Berikut para pemenang hadiah “Alfred Nobel” yang telah diselenggarakan sejak tahun 1901 oleh Nobel Foundation di mana para pemenangnya akan mendapat medali, personal diploma, dan uang tunai sebesar 10 juta Krona (setara 16 miliar Rupiah lebih)

Bidang Medis oleh: Tim Harvey J. Alter dan Charles M. Rise beserta Michael Houghton untuk penemuan virus hepatitis C.

Bidang Fisika oleh: Roger Penrose, Tim Reihard Genzel dan Andrea Ghez terkait “Lubang Hitam” dan “Pembuktian Teori Relativitas”

Bidang Kimia oleh: Emmanuelle Charpentier dan Jennifer A. Doudna untuk perkembangan metode penyuntingan genom.

Bidang Literatur oleh: penyair Louise Glück

Bidang Perdamaian diberikan kepada Organisasi Program Makanan Dunia (WFP) untuk ogranisasi kemanusiaan terbesar yang fokus mengatasi masalah kelaparan dan mempromosikan keamanan pangan.

Bidang Ekonomi oleh: Paul R. Milgrom dan Robert B. Wilson untuk memperbaiki teori lelang dan menciptakan format lelang baru.

Satu dekade lalu, seorang perempuan bernama Esther Duflo juga meraih Hadiah Nobel di bidang ekonomi, selain Abhijit Banerjee dan Michael Kremer. Esther memberikan sebuah pendekatan baru dalam hal pendidikan dan kesehatan untuk memerangi kemiskinan yang melanda dunia khususnya di negara-negara dunia ketiga.

Baca Juga:  Berangkatkan Mudik Gratis, Wagub Jatim Ajak Pemudik Promosi Kampung Halaman

Penghargaan bergengsi itu diberikan karena para ekonom itu dinilai berhasil membantu mengatasi masalah kemiskinan. Nah, fokus Esther yang saat itu berusia 46 tahun adalah meneliti soal “SD Inpres di Indonesia” yang terjadi di Indonesia pada tahun 1973 dan 1978.

Seperti diketahui pada saat itu Presiden Soeharto membangun lebih dari 61.000 SD di seluruh Indonesia berdasarkan instruksi Presiden Nomor 10 tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Gedung SD.

Esther meneliti lebih spesifik mengenai edukasi pada masyarakat miskin. Salah satunya adalah bagaimana meningkatkan kinerja sekolah di daerah-daerah miskin yang dengan judul Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Unusual Policy Experiment. Sebuah program pembangunan komprehensif nasional Out of the Box oleh Presiden Soeharto.

Menandai misi kepemimpinannya yang visioner, Presiden Soeharto telah meletakkan landasannya dengan meresmikan Stasiun Bumi Jatiluhur pada tahun 1969 sebagai sarana komunikasi bagi pembangunan bangsa di negara kepulauan. Sekaligus sebagai langkah berani melakukan lompatan teknologi luar biasa

Pada 8 Juli 1976, Satelit yang diberi nama Palapa akhirnya diluncurkan di Cape Kennedy, Florida, Amerika Serikat (AS) pada 16 Agustus 1976. Dengan satelit yang terinspirasi dari “Sumpah Palapa” ini sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara keempat yang memiliki satelit setelah AS, Kanada, dan Uni Soviet.

Sejak awal memimpin, Presiden Soeharto mampu mengkonversi gagasan Presiden Soekarno menjadi program pembangunan nasional yang bekelanjutan tanpa banyak bicara. Gagasan-gagasan Presiden Soekarno dengan cermat dijadikan teks pembangunan dalam GBHN.

Program trasmigrasi di bawah pemerintahan Soekarno, terus dilanjutkan bahkan diperluas cakupannya hingga Papua. Di mana selama lima tahun (1979-1984), tercatat 535.000 KK telah mengikuti program transmigrasi yang secara demografis berdampak sangat besar terhadap pembangunan di sejumlah daerah. Tak mengherankan bila memasuki era 1980-an menjadi perhatian dunia internasional sehinggga didanai oleh Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia.

Baca Juga:  Potensi Cadangan Migas Indonesia Besar, Faisal Basri: Perlu Perubahan Paradigma

Demikian pula dengan program KB dengan BKKN-nya yang dalam kurun waktu satu setengah dekade (1970-1986) berhasil mengendalikan angka kelahiran sehingga menciptakan hubungan positif antara program KB dengan peningkatan pembangunan nasional. Tak hanya itu, WH0 juga menghargai bidang pembangunan kesehatan di Indonesia, terutama terkait dengan Inpres Kesehatan yang dimulai tahun 1979, pembentukan pos pelayanan terpadu (posyandu) tahun 1985 dan penggalakan imunisasi anak-anak di tahun 1986 sehingga angka kematian bayi turun di tahun 1990.

Sepanjang tahun 1970-an hingga 1980-an Presiden Soeharto juga melakukan investasi besar-besaran untuk infrastruktur pertanian seperti pembangunan waduk, bendungan, dan irigasi untuk mencapai swasembada pangan, terutama beras.

Tak hanya itu, Bapak Pembangunan ini juga mengeluarkan inpres: “Pasar Inpres” pada tahun 1981 tentang bantuan kredit pembangunan dan pemugaran pasar untuk pemerintah dearah tingkat I dan pemerintah daerah tingkat II untuk ekonomi kerakyatan. Dan lebih jelas gagasan tersebut tertuang dalam GBHN sebagai produk akal sehat para intelektual bangsa.

Dengan satelit Palapa, Transmigrasi, Program KB, SD inpres, Inpres Kesehatan, infrastruktur pertanian dan pangan, Pasar inpres, dan seterusnya yang begitu komprehensif, akhirnya swasembada beras tercapai pada tahun 1984 yang mendapat penghargaan pada Konferensi ke-23 Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma, Italia, pada 14 November 1985

Sayang Presiden Soeharto tidak meraih hadiah nobel karena kebijakan dan gagasan Out the Box-nya.

Jadi, mari kita bangun negeri tanpa perlu banyak bicara dan teriak-teriak “Saya Pancasila”, “NKRI Harga Mati”, dan sebagainya layaknya iblis yang merasa dirinya paling baik dan benar. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler