Connect with us

Opini

Mencermati Proyek Jalur Sutra Maritim Abad 21

Published

on

NUSANTARANEWS.CO – Managing Director International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde sangat mendukung langkah Indonesia yang bergabung dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Langkah yang diambil Pemerintah Indonesia dinilai sudah tepat guna mendapatkan sumber dana bagi pembiayaan proyek pembangunan infrastruktur Indonesia.

Senada dengan Lagarde, Direktur Operasional Bank Dunia, Sri Mulyani memaparkan bahwa globalisasi bisa memberikan peluang untuk menciptakan kemajuan perekonomian di seluruh negara di dunia. “Negara-negara yang sukses mengentaskan kemiskinan dan mencapai kemakmuran adalah mereka yang mampu memanfaatkan globalisasi, serta membangun ketahanan dan menjaga diri dari gejolak globalisasi,” ujarnya, Selasa (26/7).

Dorongan Sri Mulyani tersebut tentu tidak bisa kita lepaskan dari proyek ambisius China yang ingin menghubungkan daratan dan perairan yang membentang dari Cina sampai ke jantung Eropa, dalam koridor jaringan perdagangan dan transportasi sebagai upaya merangsang pertumbuhan ekonomi Asia guna menciptakan pasar baru bagi barang dan jasa yang mulai stagnan pertumbuhannya dalam millennium ketiga ini.

Jadi tidak mengherankan bila China sangat berkepentingan mengambil inisiatif One Belt One Road. Sebuah inisiatif pembangunan ekonomi yang paling ambisius dalam sejarah umat manusia, di mana China berkomitmen ratusan miliar dolar untuk menggairahkan kembali pertumbuhan ekonomi yang kini sedang lesu.

Tidak tanggung-tanggung, Cina pun mengambil inisiatif mendirikan lembaga keuangan dunia AIIB (Asian Infrastructure Investment Bank) yang boleh dikatakan sebagai World Bank made in Cina. Sampai saat ini sudah 57 negara yang bergabung sebagai anggota dan penyumbang AIIB. India, Jepang, Korea Selatan bahkan negara Eropa Barat seperti Jerman, Perancis, Inggris turut terlibat dalam pendirian World Bank versi Cina ini

Uniknya, proyek ambisius China ini justru dideklarasikan di Indonesia, ketika Presiden China Xi Jinping berpidato di Gedung DPR RI pada tahun 2013 lalu. Seperti diketahui bersama, Presiden Xi mengatakan bahwa hubungan kemitraan strategis China-ASEAN hendaknya ditingkatkan lagi ke level yang lebih tinggi, dengan target volume perdagangan menjadi sebesar US$ 1 triliun pada 2020. Xi juga menekankan pentingnya pembentukan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB), terutama guna membangun “Jalur Sutra Maritim Abad 21”.

Xi juga mengungkapkan bahwa bila populasi penduduk China dan Indonesia bergabung maka akan memiliki jumlah total 1,6 miliar jiwa. Apabila rakyat kedua negara bersatu padu, maka akan menjadi sebuah kekuatan raksasa dari populasi seperempat penduduk dunia, dan pasti akan dapat menciptakan keajaiban baru dalam sejarah perkembangan umat manusia.

Pidato Xi tentang proyek “Jalur Sutra Maritim Abad 21” yang di launching di Gedung DPR RI itu, tentu tidak main-main. Patut dicermati mengapa Indonesia yang dipilih. Mengapa tidak diumumkan di Beijing saja! Dan menariknya, tidak ada reaksi dari Amerika. Bahkan sebaliknya, Amerika malah mendukung 100% proyek pembangunan Jalur Sutra Maritim tersebut dengan menggelontorkan milyaran dolar kepada China. Nah, menariknya, China sekarang malah jor-joran memberi utang kepada Indonesia, khususnya untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur di tanah air.

Tampaknya, Amerika sangat berkepentingan dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia, tapi mengapa lewat tangan China? Hal tersebut bisa kita cermati melalui kerjasama apik antara World Bank dan AIIB. Tapi satu hal yang sudah jelas adalah pasti menyangkut potensi ekonomi Indonesia yang sangat besar, baik berupa sumber daya alam maupun jumlah penduduknya. Dengan kata lain, Indonesia adalah sumber bahan baku sekaligus pasar yang besar dalam proyek globalisasi dunia yang sudah di depan mata.

Pertanyaan menarik adalah apa kepentingan Amerika dibalik proyek ambisius Jalur Sutra Maritim Abad 21 yang dicanangkan oleh China? Apakah strategi Amerika memakai tangan China membangun infrastruktur Indonesia dan negara-negara yang berada dalam koridor Jalur Sutra Maritim Abad 21 ini sebagai tanda-tanda zaman dimulainya revolusi tatanan dunia baru yang telah didengungkan dalam KTT G20 di St. Petersburg, Rusia? Mari kita cermati lebih dalam lagi bersama. (Agus Setiawan)

Terpopuler