Mencermati Latihan Anti-Terorisme Militer Cina di Perbatasan Mongolia

NUSANTANEWS.CO – Pemerintah Cina sudah menyadari betul bahwa krisis sektarian di dunia Arab adalah pintu masuk yang tepat guna menerapkan strategi baru kebijakan politik luar negerinya di kawasan Timur Tengah. Tentu saja dengan berbagai konsekuensinya.

Salah satu faktor yang mendorong Cina terlibat langsung di kawasan Timur Tengah adalah secara kultural Cina sangat khawatir dengan konflik-konflik sektarian yang berkepanjangan. Begitu pula aksi teror yang melanda Timur Tengah bisa saja masuk dan menulari pemikiran populasi muslim di Cina yang cukup besar.

Sebagai informasi, daerah otonomi Uighur Xinjiang memiliki luas hampir 17% dari wilayah Cina dan berbatasan langsung dengan Mongolia, Rusia, Kazakstan, Kirgistan, Tajikistan, Afghanistan dan Pakistan. Cina memberi nama Xinjiang setelah menganeksasi wilayah tersebut di akhir abad ke-19. Masyarakat adat Xinjiang adalah orang-orang Turki yang mayoritas muslim. Mereka termasuk Uighur, Kazaks, Uzbek, Kyrgyz, Tajik, Tatar dan kelompok lainnya termasuk Hui, etnis Cina yang beragama Islam.

Baru-baru ini, Cina mengadakan latihan anti-terorisme di perbatasan dengan Rusia. Latihan ini dikatakan sebagai bentuk sumpah dan keseriusan pemerintah Cina melawan terorisme. Bulan ini, satuan pasukan anti-terorisme sudah melakukan latihan di Hulunbuir, Inner Mogolia, dekat perbatasan dengan Rusia.

Presiden Xi Jinping pekan lalu menyerukan ‘Great Wall of Iron’ untuk menjaga wilayah yang sering diwarnai konflik di Xinjiang. Seperti diketahui, Xinjiang merupakan sebuah wilayah dengan populasi muslim terbesar di Cina.

Mengapa latihan anti-terorisme berlangsung di Hulunbuir, Mongolia? Daerah ini memiliki 6 bulan salju dan cuaca dingin yang rumit. Media Cina melaporkan bahwa latihan anti-terorisme ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan militernya dalam menghadapi peperangan. Saat ini suhu di Hulunbuir -20 derajat Celcius.

Baca Juga:  Cina Meningkatkan Kerjasama Strategis Dengan Angkatan Udara Rusia

Xinjiang, seperti diumumkan Xi adalah salah satu kawasan yang difokuskan pemerintahan Cina untuk melawan terorisme. Apalagi Xinjiang dihuni suku Uighur yang mayoritas muslim. Seperti dikatakan di awal, pemerintah Cina khawatir pemikiran radikal akan merasuki masyarakat Uighur.

Untuk itu, pemerintah Cina memberikan perhatian khusus kepada masyarakat Uighur di Xinjiang. Pemerintah Cina mengekang kehidupan warga Xinjiang. Salah satu cara yang ditempuh pemerintah Cina adalah memberlakukan larangan ketat warga di sana berjenggot dan harus memasakang GPS tracking pada kendaraan. Pemerintah Cina beralasan, pengekangan ini akibat meningkatnya ketegangan di provinsi Xinjiang. Ratusan orang tewas dalam beberapa tahun terakhir menyusul serangan oleh kelompok-kelompok Pro Kemerdekaan Turkestan Timur (Pro East Turkestan Independence Groups).

Pekan lalu, sebuah video yang diduga dirilis oleh kelompok Negara Islam (ISIS) menunjukkan pelatihan di Uighur dan bersumpah akan menyerang Cina. “Mempertahankan stabilitas di Xinjiang adalah tanggungjawab politik,” kata Xi Jinping pada Kongres Rakyat Nasional seperti dilansir Daily Mail.

Penulis: Eriec Dieda