Mencermati Kelanjutan Revolusi Warna di Belarusia

Mencermati kelanjutan revolusi warna di Belarusia.
Mencermati kelanjutan revolusi warna di Belarusia/Foto: The Moscow Times

NUSANTARANEWS.CO – Mencermati kelanjutan revolusi warna di Belarusia. Tiba-tiba pemilu di negara pecahan Soviet ini menjadi soroton arus media mainstraim dunia (Barat). Selama beberapa hari terakhir, Belarusia tampaknya telah menjadi ajang kelanjutan revolusi warna – yang dioperasikan oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutu Eropanya. Betapa tidak bila AS dan Uni Eropa langsung menyatakan pemilu di Belarusia ‘tidak adil’ dan ‘tidak independen’.

Hasil awal pemilu Belarusia menunjukkan bahwa Lukashenko kembali meraih kemengangan telak dengan memperoleh 80% suara, sementara pihak oposisi Svetlana Tikhanovskaya hanya meraih 10% suara. Dan pihak oposisi pun langsung menyatakan pemilu curang dan tidak mengakui hasilnya.

Aksi protes pun meletus pada hari Minggu (9/8) yang menolak hasil pemilu. Sekelompok pemrotes yang sangat terkoordinasi terlihat menyerang petugas polisi yang terisolir dengan batu dan botol, bahkan memukulinya. Mereka juga terlihat dengan sistematis berusaha memblokir tempat-tempat pemungutan suara lokal.

Menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri negara itu, lusinan petugas polisi dan pengunjuk rasa terluka dalam bentrokan. Seorang pengunjuk rasa meninggal karena luka akibat alat peledak ditangannya meledak yang diduga akan dilemparkan ke pihak aparat keamanan.

Pasukan keamanan pun segera mengambil langkah-langkah peningkatan keamanan di seluruh negeri, pembentukan pos pemeriksaan tambahan dan penggunaan gas air mata dan peluru karet.

Melihat situasi protes dan disinformasi media mainstream Presiden Lukashenko, tampaknya telah mengambil pelajaran berharga dari peristiwa kudeta di Ukraina 2014 atau “revolusi warna”.

Seperti diketahui, kudeta di Ukraina berjalan dengan baik karena mayoritas penduduk yang tidak mendukung kudeta diam. Sedangkan segelintir orang anti pemerintah yang bertindak agresif dengan dukungan kekuatan pasukan asing dan media masintream (barat) yang mendisiformasi berita kekerasan di Ukraina berhasil memanipulasi kejadian yang sesungguhnya.

Baca Juga:  Catat! Urus Layanan Adminduk Tak Perlu Sertifikat Vaksinasi Covid-19

Hal ini pun terjadi di Belarus. Jaringan media sosial yang beroperasi seperti di Polandia dan negara-negara Baltik pro barat, dengan dukungan arus media mainstream mulai memanipulasi berita – terutama mengekploitasi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa dan menyebarkan berita palsu tentang Lukashenko. Sementara kandidat oposisi, Tikhanovskaya telah melarikan diri ke Lituania pada hari Selasa (11/8) dan menyerukan ‘revolusi’.

Bila revolusi warna berhasil di Belarusia, maka ketidakstabilan di Ukraina akan meluas ke Belarusia, dan menyulut api di seluruh Eropa timur. (Agus Setiawan)