Connect with us

Khazanah

Menapaki Usia Satu Abad, Robikin Emhas Ungkap Rahasia NU

Published

on

H Robikhin Emhas saat acara Focus Discussing Group di Gedung PBNU, Kramat Raya selasa (24/10/2017). Foto Panitia FGD/ NusantaraNews

H Robikin Emhas saat acara Focus Discussing Group di Gedung PBNU, Kramat Raya selasa (24/10/2017). (Foto Dok. Nusantaranews)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ketua Tim Konsolidasi Organisasi Jelang Satu Abad NU, Robikin Emhas mengungkapkan rahasia Nahdlatul Ulama (NU) masih konsisten bertahan sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang menapaki satu abad perjalanannya. Usia NU lebih tua daripada Indonesia itu sendiri.

Menurut Robikin, NU lahir salah satu semangatnya adalah untuk mempertahankan tradisi dan khazanah budaya yang menopang ajaran dan syi’ar agama. Bagaimana menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama.

“Tentu saja sepanjang tradisi, budaya dan adat istiadat yang ada tidak bertentangan dengan syariat Islam. Sebab agama kering tanpa budaya. Kaidah fiqhnya al-muhafadzah ‘alal-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah. Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik,” ujar Robikin saat tanya jawab dengan wartawan tentang Harlah ke-93 NU di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Dia menjelaskan, semangat itulah yang pada tahun 80-an oleh Deliar Noer dikategorisasi sebagai gerakan kelompok tradisional. Jadi meski sekarang NU telah memiliki aset pendidikan dan rumah sakit modern sekalipun, NU masih tetap digolongkan kelompok tradisional.

“Kalau mau objektif, predikat tradisional yang melekat inilah sebenarnya yang membuat eksistensi NU terus menemukan aktualitasnya. Bagi NU kemajuan sebuah peradaban penting. Tetapi tetap mengakarnya peradaban pada nilai-nilai tradisi yang lestari, menjadi hal yang jauh lebih penting,” terangnya.

Loading...

“Bukankah agama adalah institusi yang fokus pada penyebaran ajaran tentang keyakinan dan pengawalan nilai-nilai kebaikan yang berlaku secara ajeg dalam tradisi yang lestari?,” sambungnya.

Ketua Pengurus Harian PBNU melanjutkan, NU sebagai ormas memiliki dua tanggungjawab sekaligus. Pertama tanggungjawab keagamaan atau mas’uliyah diniyah dan tanggungjawab kebangsaan atau mas’uliyah wathaniyah. Tanggungjawab keagamaan NU adalah bagaimana terus mengembangkan paham keagaamaan ala ahlussunnah wal jamaah yang terkenal dengan prinsip moderasi dan wasathiyah itu. Tangggungjawab kebangsaan NU adalah bagaimana menjalankan komitmen kebangsaan dan kenegaraan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari dulu NU selalu konsisten menjalankan dua peran ini baik diminta atau tidak oleh negara. Karena itu NU tidak pernah sekalipun punya catatan makar terhadap negara.

Baca Juga:  Dandim Madiun Larut Dalam Kemeriahan Panggung Hiburan

“Kalau ditanya kontribusinya apa terhadap negara, NU tak perlu diragukan lagi. NU terlibat penuh dalam perjuangan kemerdekaan. Dalam menyusun dasar-dasar negara, serta dalam menjaga negeri ini dari rongrongan dan ancaman perpecahan yang bertubi datang, baik dari luar maupun dalam. NU adalah pemilik saham sah negeri ini,” urainya.

Selain itu, Robikin juga mengungkapkan sejumlah hal yang luput dari pandangan NU selama beberapa tahun ke belakang.

“Semangat nasionalisme yang mulai hilang dari generasi muda kita. NU merasa perlu mendorong negara untuk bangkit kembali menumbuhkan kecintaan kita pada tanah air dan bangsa. Kenapa NU terus menggelorakan mars Subbanul Wathon karya KH Wahab Hasbullah? Itu bagian dari penegasan bahwa nasionalisme itu penting. Dalam syairnya dikatakan hubbul Wathon minal iman, nasianlisme itu bagian dari agama,” jelasnya.

Satu lagi, kata dia, soal pemahaman hubungan agama dan negara. Indonesia bukan negara agama. Tetapi tidak perlu mempertentangkan antara agama dan negara. Konstitusi jelas menjamin kebebasan warga negaranya untuk menjalankan agama dan kepercayaannya.

“Dalam pandangan NU, agama dan negara justru bisa saling memperkuat,” tegasnya.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, tambah Robikin, NU sudah berijtihad mengenai konsep negara Indonesia. Melalui bahtsul masail pada Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin tahun 1936. NU bersepakat untuk memperjuangkan apa yang disebut negara Darussalam. Nusantara adalah darussalam (negara damai) bukan darul kufr (negara kafir). Karena itu tidak boleh ada yang menjadikan Indonesia darul harb (negara perang), perang di media sosial sekalipun.

(eda/nvh)

Editor: Novi Hildani

Loading...

Terpopuler