Connect with us

Kesehatan

Menangis Seminggu Sekali Bisa Membebaskan Anda Dari Stres

Published

on

Perempuan Menangis. (Menyusun Airmata). Foto: Dok. oohsncoos.com

Perempuan Menangis. (Menyusun Airmata). Foto: Dok. oohsncoos.com

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – “Menonton film yang menumpahkan air mata bisa meningkatkan kesehatan mental Anda,” tulis penulis lifesyle, Olivia Petter.

Pernahkah anda menangis saat nonton film? Bagi generasi milenial dan generasi z yang senang menonton film Drama Korea (Drakor) pasti pernah (untuk tidak mengatakan sering) menangis bahkan sampai termehek-mehek saat menonton adegan-adegan sedih dan haru. Atau bagi penyuka film india yang penuh drama kesedihan dan cinta yang mengharyukan, para pecinta film Bollywood pun pasti pernah mengalami peristiwa dimana air mata menetes tanpa disadari.

Jika anada yang mengalami hal itu, berarti kesehatan mental anda dijamin baik-baik saja. Benarkah?

Baca Juga:

Menurut Olivia Petter menangis (meneteskan air mata) ternyata adalah cara yang paling bermanfaat untuk menghilangkan pikiran tegang, perasaan kalut, dan jiwa yang gersang. Dari pada Anda memilih cara pergi nongkrong ke cafe minum teh atau kopi baik sendiri atau bersama teman-teman Anda. Bahkan, menangis lebih ampuh dari tertawa dan tidur untuk menghilangan stres.

Nah, dari sekarang Anda tak perlu merasa malu dan gengsi untuk menangis minimal semingga sekali, supaya mental anda menjadi lebih sehat dan anda tidak mudah terserang kekusaran dan kegalauan yang menyebalkan.

Pernyataan Olivia Petter bukanlah sekadar asumsi semata. Seorang filsuf pernah mengatakan, bahwa air mata yang menetes adalah tanda bahwa jiwa di diri seseorang masih ada. Tentu, untuk menangis tidak perlu di muka umam kan.

Mantan guru sekolah menengah, Hidefumi Yoshida, kata Olivia Petter, menyebut dirinya sebagai “guru air mata” dan menyelenggarakan lokakarya serta ceramah rutin di seluruh Jepang untuk mendidik orang tentang manfaat psikologis dari menangis.

Menangis lebih efektif daripada tertawa atau tidur dalam mengurangi stres,” kata lelaki berisa 43 tahun itu kepada Japan Times seperti dilansir the independent.

Simak:

Dalam penjelasannya, Yoshida berkata, bahwa mendengarkan musik yang emotif, menonton film sedih dan membaca buku sentimentil dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan mental dengan merangsang aktivitas saraf parasimpatis, yang memperlambat denyut jantung, yang dapat memiliki efek menenangkan pada pikiran.

“Jika Anda menangis seminggu sekali, Anda bisa menjalani hidup tanpa stres,” kata Yoshida.

Pada tahun 2014, Yoshida bekerja sama dengan seorang profesor di Fakultas Kedokteran di Toho University di Tokyo bernama Hideho Arita,, untuk meluncurkan serangkaian ceramah yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat tangisan.

Dikabarkan bahwa dia sejak itu dibanjiri permintaan dari sekolah dan perusahaan untuk menyelenggarakan lokakarya dan kegiatan lain tentang hal ini. Pada bulan September lalu, Yoshida menyelenggarakan ceramah di Sekolah Tinggi Osaka di Kota Daito, Jepang, di mana 79 siswa remaja menonton film dengan harapan film itu akan memicu mereka menangis. Mereka kemudian menulis esai, yang juga mereka baca, tentang bagaimana pengalaman itu membuat mereka merasa.

Baca:

Menurut Olivia, Yoshida bukanlah orang pertama yang menelaah efek menenangkan dari menangis. Pada tahun 1981, sebuah penelitian berjudul “Tear Expert” yang dilakukan oleh Dr William Frey di University of Minnesota menyatakan bahwa menangis mampu melepaskan “endorphin”, yang kemudian meningkatkan perasaan bahagia dan kesejahteraan.

“Endorphin” merupakan senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang dan untuk kekebalan tubuh. Endorphin diproduksi oleh tubuh (kelenjar pituitary) yaitu pada saat kita merasa bahagia (tertawa) dan pada saat kita istirahat yang cukup.

Penelitian lain yang dilakukan pada tahun 2008 terhadap lebih dari 3.000 orang menemukan bahwa menangis membuat orang merasa jauh lebih baik dalam situasi yang sulit, mengarahkan para penulis untuk menyarankan bahwa air mata yang mendorong harus digunakan sebagai bentuk terapi.

Sumber: Mugi Riskiana
Editor: M. Yahya Suprabana

Advertisement

Terpopuler