Menambang Helium-3 di Bulan

NUSANTARANEWS.CO – Menambang Helium-3 di Bulan. Dalam waktu dekat ini, mimpi manusia untuk membangun koloni di Bulan akan menjadi kenyataan. Para milyuner dunia siap mengucurkan uang mereka guna menyokong perusahaan yang bisa menambang di bulan. Bahkan raksasa mesin pencari Google menyediakan hadiah senilai US$ 30 juta lewat kompetisi Google Lunar XPRIZE. Pemenangnya adalah perusahaan pertama yang mendaratkan pesawat komersial di bulan.

Bulan memang memiliki sejumlah sumber bahan baku yang penting seperti emas, kobalt, besi, paladium, platinum, tungsten dan Helium-3. Nah, Helium-3 inilah yang diincar para milyuner karena sangat berharga. Harga Helium 3 saat ini diperkirakan mencapai US$ 40.000 setara Rp 532 juta per ons. Sementara harga emas saat ini sekitar US$ 1.200 setara Rp16 juta per ons.

Cadangan Helium-3 di Bulan diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan energi umat manusia selama ribuan tahun. Secara teori Helium-3 dapat dipakai sebagai bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir. Proses konversi menjadi listrik bahkan lebih ramah lingkungan daripada reaktor nuklir karena hanya menghasilkan sedikit limbah.

Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat sendiri telah mengeluarkan izin bagi beberapa perusahaan untuk meluncurkan robot penambang mereka.

Misal Moon Express, salah satu perusahaan pertambangan yang berbasis di Florida, Amerika Serikat saat ini siap menjadi pionir yang akan mengekplorasi sumber daya di bulan. Rencananya, proyek tersebut akan dimulai pada tahun 2020.

Moon Express ternyata tidak sendiri beberapa perusahaan penambang lainnya, seperti Deep Space Industries (DSI) dari Mountain View, California, dan Planetary Resources dari Redmond, Washington siap bersaing.

Sementara NASA sendiri juga sudah menyiapkan misi bersama Caterpillar Inc. Caterpillar adalah perusahaan mesin tambang besar. Kerjasama ini dilakukan untuk membangun “operasi pemindahan develop regolith”.

Baca Juga:  Matahari dan Rembulan Menyinari Negeri

Regolith adalah lumpur bulan yang diperkirakan bisa dipakai untuk membangun perangkat luar angkasa. Misi ini diperkirakan akan meluncur pada 2020.

Pewarta: Aya
Editor: Romandhon