Connect with us

Rubrika

Menag: Pemahaman Agama Dangkal Bisa Memicu Radikalisme

Published

on

menteri agama, lukman hakim saifuddin, pemahaman agama, radikalisme agama, pemahaman agama dangkal, tafsir agama, esensi islam, nusantaranews, nusantara, nusantara news

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat membuka Perkemahan Rohis Siswa SMA/SMK Tingkat Nasional III Tahun 2018 yang digelar di Bumi Perkemahan Belitung, 5-10 November 2018. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, BelitungMenteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menuturkan pemahaman agama Islam yang parsial dan dangkal dapat memicu radikalisme dalam beragama.

Hal itu disampaikan Menag saat membuka Perkemahan Rohis Siswa SMA/SMK Tingkat Nasional III Tahun 2018 yang digelar di Bumi Perkemahan Belitung, 5-10 November 2018.

Menurut Menag, penafsiran dalam beragama itu bisa berbeda, harus dihargai dan dihormati sejauh mengajak untuk memelihara harkat, derajat dan martabat kemanusiaan.

“Ketika ada yang menjelaskan Islam tapi isinya merendahkan kemanusiaan maka sesungguhnya itu bertolak belakang dengan esensi Islam,” katanya.

Sejumlah pejabat hadir dalam pembukaan perkemahan yang akan digelar selama lima hari ini. Diantaranya Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan dan Bupati Belitung Saharani Saleh. Dalam perkemahan ini sebanyak 1200 pegiat Kerohanian Islam (Rohis) SMA/SMK dari 34 provinsi di Indonesia dikumpulkan di Bumi Perkemahan Juru Sebrang, kabupaten Belitung. Acara ini diikuti oleh 1123 peserta dari 621 SMS/SMK dari 298 Kabupaten Kota yang digelar pada 5-10 November ini.

Acara yang mengambil tema Membentuk Genersi Islam yang Literat dan Moderat ini merupakan bagian dari gerakan moderasi Islam di kalangan pegiat kerohanian Islam di sekolah yang diprakarsai oleh Kementerian Agama RI.

Menag melanjutkan, generasi Islam milenial sekarang ini adalah generasi Z yang selalu digoda oleh segala bentuk informasi, termasuk informasi sampah bahkan hoax. Untuk itu, kata dia, mereka harus meningkatkan kecerdasan dalam berpikir dan beragama.

“Maka dari itu tebarkan kedamaian di mana pun kapan pun dan kepada siapa pun,” tegasnya.

Menag mengungkapkan salah satu penelitian pada akhir tahun 2017 yang menyebutkan bahwa sebanyak 84,9% para siswa/mahasiswa memiliki akses internet. Dan internet memiliki peranan signifikan dalam memengaruhi opini keberagamaan seseorang, termasuk siswa.

Dalam beberapa penelitian lain juga menginformasikan bahwa Rohis juga menjadi target untuk disusupi gerakan-gerakan yang menumbuhkembangkan intoleransi, gampang mengatakan kafir kepada orang lain, bahkan melawan NKRI.

Menag berperan, kegiatan-kegiatan Rohis seharusnya menjadi salah satu kegiatan positif yang dapat memberikan tambahan pengetahuan keagamaan sekaligus dapat mengkonfirmasi informasi-informasi keagamaan yang didapatnya dengan para pembina dan guru agama.

Karenanya, acara ini dikumpulkan pula 125 guru pendamping Rohis dari seluruh Indonesia agar mereka dapat melalukan diskusi serta sharing guna menemukan bentuk kegiatan Rohis yang positif dan jauh dari potensi radikalisme.

(rb/anm)

Editor: Novi Hildani

Advertisement

Terpopuler