Connect with us

Opini

Mempertanyakan Sosok Pancasila, Pancasila Yang Mana?

Published

on

Refleksi Pancasila

Suasana Sidang BPUPK/Foto: Ist.

NUSANTARANEWS.CO – Sosok Pancasila, Pancasila yang mana? Merenung tentang Hari Kelahiran Pancasila, kiranya perlu refleksi mempertanyakan, Pancasila yang mana apabila kita mempersoalkan tentang Pancasila. Pancasila rekaan Mr. Moh. Yamin yang konon “fiktif” dalam arti tidak pernah dipidatokan pada tanggal 29 Mei 1945 dalam sidang BPUPK itu; atau Pancasila yang konsepnya dikemukakan Ir. Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945; atau Pancasila yang dikenal dengan terminologi  Piagam Jakarta atau Jakarta Charter; atau Pancasila yang diamanatkan di dalam naskah Pembukaan Undang Undang Dasar 1945; atau yang lainnya kalau pun ada.

Kejelasan sesuai nalar yang berkembang selama ini, apabila memahami Pancasila yang dimaksudkan adalah Pancasila yang diamanatkan dalam Naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Rumusan Pancasila tersebut bersumber dari konsep Pancasila yang dikemukakan Ir. Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945. Kemudian dibahas oleh Panitia Sembilan menjadi rumusan yang dikenal dengan Piagam Jakarta, yang pada akhirnya disempurnakan lagi menjadi rumusan yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang secara ringkas diamanatkan menjadi butir-butir yang menjadi prinsip dan nilai Pancasila tanpa menyebut kata Pancasila. Tetapi itulah yang dimaksudkan dengan Pancasila. Jadi apabila kita mengatakan Pancasila, adalah Pancasila yang butir-butir prinsip dan nilainya yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Selanjutnya apabila ingin mendalami Pancasila itu lebih lanjut, kita selayaknya mendalami segala ingredient (unsur, ramuan yang menjadikan) rumusannya. Kita dalami makna Piagam Jakarta; kita dalami naskah Lahirnya Pancasila, pidato Ir. Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945; kita dalami terjadinya konsepsi Pancasila yang dipidatokan Ir. Sukarno itu, dan kita dalami nilai-nilai kearifan lokal yang digali Ir, Sukarno yang dikatakan telah mentradisi dan membudaya hidup dan dihidupi oleh seluruh Penghuni seantero Nusantara, yang pada tanggal 28 Oktober 1928 bersumpah mengaku hidup dalam satu tanah air, menjadi satu bangsa, menjunjung satu bahasa yang menamakan diri INDONESIA. Selanjutnya, di kelak kemudian hari, pada tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia itu menyatakan atau memproklamasikan dirinya mendirikan Negara bangsa yang berdasarkan Pancasila.

Baca Juga:  Sambangi Waljinah si Ratu Keroncong, Fadli Zon Berharap Koroncong jadi Warisan Dunia

Kini kiranya dapat dikatakan bahwa sumber ingredient Pancasila adalah nilai-nilai kearifan lokal yang digali Ir, Sukarno yang dikatakan  telah mentradisi dan membudaya hidup dan dihidupi  oleh seluruh Penghuni seantero Nusantara. Dikatakan oleh Penggalinya, bahwa sumber ingredient Pancasila, yang dalam wujud nilai-nilai tradisi, adat istiadat, budaya tersebut digambarkan terjadi secara akumulatif sejalan dengan proses waktu kehidupan (time line) penghuni Nusantara menjadi bersaf-saf: saf pra Hindu-Budha, saf Islam, dan seterusnya sampai dengan yang terakhir zaman Penggalinya.

Dan kini setelah Pancasila ditetapkan menjadi dasar negara, maka dengan sendirirnya sosok terjadinya adalah sedari budaya dan peradaban nenek moyang penghuni Nusantara yang pertama hingga sekarang ini, nilai-nilai dan prinsip-prinsip kehidupannya tercakup  menjadi satu akumulasi dalam prinsip dan nilai Pancasila yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Maka kiranya dapat dikatakan bahwa keluasan cakupan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Pancasila meliputi dan mencakup seluruh kehidupan Negara Bangsa Republik Indonesia. Sosok Pancasila menjadi jiwa yang hidup dang menghidupi negara bangsa Indonesia. Tanpa Pancasila tidak ada negara bangsa Indonesia. Sebagai jiwa bangsa dan negara sewajarnyalah Pancasila dapat ditengarai sebagai Piagam Kehidupan Bangsa dan Negara. Suatu Pernyataan Eksistensi dari bangsa dan negara Republik Indonesia. Sejak dinyatakannya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, sejak itu sampai kini dan sampai kapan pun tetap eksis hidup dan menghidupi Bangsa dan negara Republik Indonesia.

Loading...

Sebagai catatan, dari uraian singkat tersebut kiranya dapat dipahami mengenai kemampuan Pancasila dalam menopang kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sosok Pancasila tidak akan mempersoalkan kapan dirinya dilahirkan, sebab Pancasila sudah eksis hidup dan menghidupi seantero Nusantara mencakup Rakyatnya, Negerinya dan Lautnya dengan segala isinya, bahkan kemudian negara bangsa yang didirikan Rakyatnya pun ditopangnya.

Baca Juga:  Menengok Upacara Adat Ulur-ulur Jumat Legi Warga Tulungagung

Persoalan kini terletak pada keluasan hati dan kemauan warga negara dan masyarakat bangsa Indonesia – mempunyai kemauan dan kemampuan tidak – untuk melaksanakan prinsip dan nilai Pancasila dengan penuh perhikmatan.

Suatu jaminan dihidangkan di hadapan masyarakat dan bangsa Indonesia: prinsip dan nilai Pancasila secara berhikmat makin baik dilaksanakan, bangsa dan masyarakat makin beradab, bersatu, adil dan makmur. Sebaliknya prinsip dan nilai Pancasila makin dilupakan, kehidupan masyarakat akan makin amburadul.

Pilihan ada pada kita, masyarakat dan bangsa Indonesia sendiri.

Selamat hari lahir Pancasila yang ke 74, Dirgahayu Pancasila, Bangsa dan Negara !

Penulis: B. Parmanto (Peneliti LPPKB)

Loading...

Terpopuler