Connect with us

Opini

Memilih Pemimpin Dalam Pandangan Islam

Published

on

juru selamat, bangsa indonesia, tahun politik, presiden baru, pemimpin baru, makna natal, nusantaranews

ILUSTRASI. (Foto: plukme.com)

Memilih Pemimpin Dalam Pandangan Islam

Oleh: Aji Setiawan, penulis domisili di Purbalingga, Jawa Timur

Pemilukada Tahun 2020 sudah diambang mata. Ada 270 daerah pemilihan Bupati dan Gubernur pada 20 September 2020 mendatang. Sehingga pilihan yang hampir serentak ini menyita perhatian kita, bagaimana memilih pemimpin di masa mendatang menurut pandangan Islam.

Dengan pilihan langsung, masyarakat atau pemilih akan memilih secara langsung Bupati serta Gubernur sesuai hati nurani masing-masing secara langsung. Bagi pemilih yang cerdas, memilih pemimpin tentu harus berdasar pertimbangan-pertimbangan tertentu. Tidak asal pilih.Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan hukum Allah.

Oleh karena itu, pemimpin haruslah orang yang paling tahu tentang hukum Ilahi. Setelah para imam atau khalifah tiada, kepemimpinan harus dipegang oleh para faqih yang memenuhi syarat-syarat syariat. Bila tak seorang pun faqih yang memenuhi syarat, harus dibentuk majelis fukaha.

Sesungguhnya, dalam Islam, figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suri tauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi alam (rahmatan lilalamin) adalah Muhammad Rasulullah SAW sebagaimana dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.al-Ahzab [33]: 21).

Sebenarnya, setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirinya. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas segala kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW yang maknanya ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya,. (Al-Hadits).

Rasulullah SAW sendiri menekankan pentingnya kepemimpinan Islam dalam Shahih  Bukhari. Setiap diri kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunggjawaban atas kepemimpinannya.Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF), Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya, Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi, Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya, Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya. Selain itu, juga dikenal ciri pemimpin Islam dimana Nabi Saw pernah bersabda bahwa Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut. Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan bukan dilayani, serta menolong orang lain untuk maju.

Baca Juga:  MADANI Luncurkan "UstadzQu", Aplikasi Pencarian Ustadz Berbasis Android

Dalam mitos Jawa, seorang pemimpin diidentikan dengan mitologi satrio piningit. Seorang yang digambarkan bisa membawa perubahan atas gonjang-ganjing kepemimpinan rakyat, pembawa kedaiaman, keamanan dan kesejahteraan mereka. Dalam sejarah Walisongo, seorang pemimpin digambarkan dalam tembang Ilir-ilir yang dikarang sunan Giri.

Lil ilir /Tandure wus sumilir /Kang ijo royo-royo/Tak sengguh temanten anyar//
Bocah angon/ bocah angon/ penekno blimbing kuwi/
Lunyo-lunyo penekno kanggo mbasuh dodot iro/
Dodot-iro dodot iro lumintir bedah ing pinggir/
Dondomono jlumetono kanggo sebo mengko sore/
Mumpung jember kalangane/
Mumpung padhang rembulane/
Yo surako/
Surak hayoo//

Cobalah simak syair Cah Angon yang digambarkan dalam tembang ilir-ilir ini: Bocah angon, cah angon penekno blimbing kuwi. Tafsirnya, Sunan Giri tidak menuliskan,Pak Politikus, Pak Jendral, Pak Intelektual ulama-ulama, kiyai atau apapun lainnya, melainkan Bocah angon-bocah angon (Anak muda-anak muda).

Sunan Giri juga tidak menuturkan Penekno sawo kuwi atau penekno Palem kuwi atau buah apapun lainnya, melainkan penekno blimbing kuwi Karena blimbing yang asam itulah yang dapat mencuci kain yang kotor.
Dalam era kepemimpinan modern menurut Scumpeter, demokrasi bermakna adanya kesempatan bagi rakyat untuk menerima atau menolak seseorang yang akan memerintah mereka. Itulah Sebabnya maka dalam konteks demokrasi , kepemimpinan dibedakan dari otoritas. Seseorang  yang perintah-perintahnya ditaati karena posisi dan jabatan formal yang dipangku, tidak otomatis dapat dianggap sebagai pemimpin. Memang melalui pengalamannya memegang suatu jabatan dan mengelola tugas-tugas tertentu, ia akan berkesempatan membangun kemampuan kepemimpinannya. Tetapi ini hanya merupakan peluang yang terbuka untuk dimanfaatkan atau dilalaikan.

Banyak orang yang gagal memanfaatkan ini , karenanya tidak mengherankan jika kita menyaksikan seorang yang sudah cukup lama duduk dalam suatu jabatan formal/kekuasaan formal, namun tidak berhasil mengembangkan potensi kepemimpinannya. Orang semacam ini otomatis akan kehiangan wibawa dan respek terhadap orang lain, sekali ia meninggalkan atau ditinggalkan oleh jabatan dan kekuasaannya.

Baca Juga:  Interpelasi Untuk Gubernur Khofifah Terus Menggelinding, OJK Akan di PTUN-kan Soal Bank Jatim

Karena itu pengembangan bagi seorang calon pemimpin dalam demokrasi yang berkualitas paling tidak mensyaratkan empat kapasitas ; yakni pertama, kepekaan terhadap situasi lingkungan. Yakni kemampuan untuk membaca perkembangan yangn terjadi di sekitarnya dengan pengetahuan dan kepedulian . Kedua , adanya penjagaan atas moral masyarakat. Yaitu kemampuan untuk menahan diri agar tidak terjebak melakukan sesuatu yang dapat menciptakan atau meningkatkan keresahan dalam masyarakat. Ketiga, Keterbukaan pikiran. Yaitu kemampuan untuk memahami bahwa dalam interaksi politik , khususnya dalam pertarungan kepentingan, tidak ada kebenaran yang bersifat tunggal, dan tidak ada sesuatu kelompok yang memiliki hak monopoli atas kebenaran.

Keempat, kemampuan untuk mendengar, memperlajari dan menterjemahkan suara orang banyak.Yakni  kemampuan untuk dekat dan mau repot untuk mengurus kepentingan orang banyak. Galibnya, dalam demokrasi dukungan orang banyak merupakan salah satu kunci pokok bagi keberhasilan seorang pemimpin, tetapi dukungan hanya mungkin diperoleh jika ada kemauan dari pemimpin untuk mendengar suara mereka, mempelajari harapan dan aspirasi mereka, serta menterjemahkannya ke dalam serangkaian tindakan dan langkah perjuangan untuk memenuhi harapan itu.

Dalam pandangan Islam yang perlu diperhatikan adalah adanya prinsip-prinsip dasar dalam kepemimpinan Islam yakni Musyawarah; Keadilan; dan Kebebasan berfikir.

Secara ringkas penulis ingin mengemukakan bahwasanya pemimpin Islam bukanlah kepemimpinan tirani dan tanpa koordinasi. Tetapi ia mendasari dirinya dengan prinsip-prinsip Islam. Bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya secara obyektif dan dengan penuh rasa hormat, membuat keputusan seadil-adilnya, dan berjuang menciptakan kebebasan berfikir, pertukaran gagasan yang sehat dan bebas, saling kritik dan saling menasihati satu sama lain sedemikian rupa, sehingga para pengikut atau bawahan merasa senang mendiskusikan persoalan yang menjadi kepentingan dan tujuan bersama. Pemimpin Islam bertanggung jawab bukan hanya kepada pengikut atau bawahannya semata, tetapi yang jauh lebih penting adalah tanggung jawabnya kepada Allah SWT. selaku pengemban amanah kepemimpinan. Kemudian perlu dipahami bahwa seorang muslim diminta memberikan nasihat bila diperlukan.

Baca Juga:  Niat Beijing Terlibat Langsung Dalam Keamanan di Hongkong

Ada kisah yang sukup menyentuh, sekelumit tentang pengambilan keputusan atau hukum, mari kita simak kisah sepenggal tanya jawab antara Rasulullah SAW dan Sahabat Muadz bin Jabbal. Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Muadz hampir sama dengan Umar bin Khathab. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya, “Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Muadz?”

”Kitabullah,” jawab Mu’adz.

”Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah pula.

“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul.”
“Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”

“Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah SAW. Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah.

Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Muadz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram.

Karena itulah, dalam memilih pemimpin  mulai dari skala yang lebih kecil, sampai pada tingkat nasional, penulis hanya ingin mengingatkan, semoga bisa dijadikan nasihat dan sekaligus dapat dilaksanakan dalam memilih calon pemimpin baik Bupati maupun Gubernur secara langsung sehingga bisa memilih pemimpin yang baik dan berkualitas. Insya Allah. Amiin.

Loading...

Terpopuler