Connect with us

Budaya / Seni

Memetik Cahaya di Taman Mi’raj – Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

Published

on

Pameran Mihraj (2014) Anuar Radhid | ipgipohpsv.blogspot.com
Pameran Mihraj (2014) Anuar Radhid | ipgipohpsv.blogspot.com

MEMETIK CAHAYA DI TAMAN MI’RAJ

Hanya berbekal cahaya
Perjalanan ini semata-mata
Untuk memetik cahaya
Di Taman Agung Mustawan

Inilah kisah yang tak mungkin kukisahkan
Pada hati yang tak diterangi makrifat
Pada jiwa yang dilanda nestapa
Pada akal yang selalu terpenjara pada labirin dunia

Inilah kisah hamba terkasih yang melangitkan iman
Menyempurnakan jiwa kemanusiaan
Semata-mata karena kuasa Sang Maha Cahaya

Maha Suci Ia
Yang telah memperjalankan hamba terkasihnya
Dengan sayap kemesraan
Tepat di tengah malam
Menembus langit bening berkilauan

Hari ini akal sedang diuji
Pengetahuan dan ilmu wajib mencari
Dimanakah letak kemanusiaan sejati
Kesempurnaan hakiki
Dalam hidup yang fana ini?

Gerak-gerik cinta
Di kehidupan kering-kerontang
Gerak-gerik hati
Di kematian tanpa nurani
Betapa nestapa jiwa manusia
Jika hidup-mati tanpa obor iman menyala

Saat padang pasir itu sedang berselimut mimpi
Ketika kejahilan semakin menjadi
Nabi yang mulia diperjalankan
Oleh Yang Maha Suci

Seakan mimpi
Tapi bukan mimpi
Waktu dilipat di palung sunyi
Waktu terikat
Oleh Firman dan Kalam Suci
Nabi berjalan secepat cahaya

Jarak dan waktu menyatu
Dalam genggaman rindu
Dari Masjidil Haram di Makkah
Sampai Masjidil Aqsa di Yerussalem
Hanya sekedipan mata
Hanya sejengkal langkah
Mengendarai cahaya
Nabi tamasya

Robbana dzolamna
Tanpa iman yang suci
Tanpa ruh yang dikasihi
Mustahil rasanya mempercayai kisah ini

Di Masjidil Aqsa
Nabi Muhammad tegak berdiri
Menjadi imam seluruh Nabi
Menegakkan sembahyang
Bersujud di haribaan Ilahi

Akal segala akal
Cinta semesta cinta
Melebur di sini
Keindahan yang fitri

Sesudah itu
Mikraj pun dimulai
Akal pikiran membisu
Segala pengetahuan terdiam
Perjalanan cahaya
Menempuh semesta
Mengutuhkan iman
Menyempurnakan ilmu
Puncak segala makrifat
Menuju kemanusiaan sejati
Pengetahuan segala pengetahuan

Baca Juga:  Taman Kala Menumbuhkembangkan Kenangan - Puisi Arif Tanjung Pradana

Menyusuri jejak para nabi
Perjalanan yang menakjubkan
Pendakian yang menggetarkan
Laksana sebutir debu
Melayang di jagat semesta
Nabi Muhammad melaju
Melewati makrifat para malaikat
Membuka pintu-pintu langit
Hakikat semesta hakikat

Seindah lukisan kaligrafi
Sebening embun di kelopak melati
Rasulullah mengucap syukur
Jutaan malaikat mengumandangkan
Merdunya suara adzan

Hikmah apakah ini?
Malaikat Jibril seakan tercekat tanpa kata

Gerbang istighfar bergetar
Dinding dan pintu surga bergetar
Laut dan langit bergetar
Shalawat berkumandang di keheningan
Tahmid bergemuruh di kehampaan
Rasulullah menyusuri nafiri kerinduan

Kun!
Inilah pertanda
Perjalanan telah sampai
Gerak dan diam
Membeku di keabadian
Ruh dan tubuh
Menyatu dalam tarian

Fayakun!
Sidratil Muntaha di depan mata
Singgasana Tuhan
Begitu agung dan perkasa
Raja segala Raja
Istana segala istana
Zamrud dan permata
Seakan kerikil adanya

Amma Ba’du
Madah semesta madah
Mawar semesra mawar
Anggur seluruh anggur
Rasulullah mengucap salam
Membaca takbir dan salam
Takbir segala takbir
Salam semesta salam
Akhlak tertinggi kemanusiaan
Martabat semesta martabat
Peradaban segala peradaban
Dengan indah dihaturkan
Kepada Tuhan Semesta Alam

Di haribaan Tuhan
Nabi Muhammad bersujud
Menjadi imam semesta alam
Para malaikat dan semua Nabi
Menjadi makmum
Bermilyar galaksi khusyuk adanya
Turut bersujud

Haihata! Haihata!
Dalam kilau cahaya
Tuhan memberi cinderamata
Untuk umat Muhammad
Rasulullah menerimanya
Sujud sembahyang
Itulah kadonya
Indah tiada tara
Lebih surga dari surga

(Memperingati Isra Mi’raj 2017)

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Baca Juga:  Cinta Rabi'ah dan Cintaku - Puisi Yanwi Mudrikah

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler