Membunuh Kenangan – Cerpen Agus Hiplunudin

(1)

Sore itu langit Banten nampak murung, awan hitam bergelayut dan berarak, kemudian hujan merintik, langitpun laksanya menangis, terisak. Dan senja dipenuhi kesedihan. Pula dengan apa yang aku rasa, hatiku sedang dilanda nestapa—duka lara yang bukan main mendalamnya. Delia itulah nama kekasihku, gadis asal Jogja yang aku temui di tujuh hari yang lalu. Aku menghela napas panjang dan menghempaskannya kembali sekuat-kuatnya, agar rasa kelu dalam dada mengurang. Namun, rasa kelu itu tak pula sirna malah semakin kuat.

“Ibu bukan menampik niat baikmu, Nak,” kata ibunya Delia terngiang-ngiang di telingaku.

“Ibu tahu Delia dan kamu saling mencintai. Ibu punya cerita sedikit, dahulunya Ibu sangat mencintai ayahnya Delia, begitu pula ia, sangat mencintai Ibu. Kami menikah. Setelah Delia lahir, pernikahan kami hancur, kami cerai karena suatu perselingkuhan,” papar ibunya Delia dan ia menitikkan air mata.

Kemudian ia menyambung kembali kata-katanya yang sejenak terputus, “Dan hal yang paling menyakitkan, perempuan selingkuhan ayahnya Delia, adalah adik kandung Ibu sendiri. Tahukah kamu mengapa itu semua bisa terjadi? Ayahnya Delia orang Jogja dan Ibu orang Surabaya, rumah tangga kami jauh dari pengawasan orangtua—terutama orangtua Ibu yang di Surabaya itu. Ibu hanya tak ingin apa yang terjadi pada Ibu terjadi pula pada anakku. Delia orang Jogja dan kamu orang Banten, setelah kalian berumah tangga Delia akan ikut dengan kamu ke Banten—itu artinya rumah tangga kalian tak akan teramati oleh Ibu, dan Ibu khawatir apa yang terjadi pada Ibu terjadi pula pada Delia!”

“Ibu takdir seseorang itu berbeda, apa yang terjadi pada Ibu belum tentu terjadi padaku,” Delia menyela, ia terisak, menangis sedari tadi.

“Delia, aku ini ibumu, sampai kapanpun, aku ini adalah ibumu!!” bentak ibunya Delia. Delia pun terdiam, namun isak tangisnya semakin kentara dan kuat.

Aku yang kuyu, tak bergeming dari kursi yang aku duduki, pula dengan mulutku, terdiam seribubasa. Masih teringat jelas dalam benakku, menjelang perpisahan itu, Delia memeluku sambil menangis, pun aku tak kuasa menahan air mata.

Aku menghela napas, dan aku harus sekuat tenagaku, untuk membunuh kenangan itu. Sekarang Delia telah jauh dariku, aku telah ikhlas melepasnya, harapanku, semoga ia hudup bahagaia—kendati bukan bersamaku. Memang pedih cinta tak bebalas cinta, namun lebih pedih lagi cinta yang telah tergenggam di tangan lalu lepas dan pergi. Sakitnya begitu satire, begitu nyinyir dan menyindir. Dengan tulus aku melepasmu, sebagaimana tulusnya pohon kersen yang melepas daun-daunnya yang berguguran.

Baca Juga:  Deklarasi Damai Pasca Pemilu 2019 Menang Kalah Tetap Bersaudara

 

(2)

Perlahan, bayangan Delia enyah dalam pikiranku. Dan aku menyenangkan diriku sendiri dengan kesibukan baruku, yaitu mengajar di salah satu kampus swasta yang ada di Banten, tepatnya Rangkasbitung. Di situ aku mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu, di samping itu aku menekuni dunia karya ilmiah, menulis buku. Dalam tempo yang sebentar dua buah bukuku terbit.

Pada sebuah senja di dermaga tua, Merak Cilegon. Ketika aku baru saja turun dari kapal, sehabis bakti sosial di Lampung. Hand phone (hp) yang aku taruh di saku depan celana jinsku berketar dan berdecit—pertanda ada panggilan masuk, dengan segera kuangkat.

“Hallo,” suara dalam hp—suara perempuan terdengan merdu.

“Ya,” jawabku singkat.

“Ini Pak Dias ya?”

“Ya betul. Anda siapa?”

“Saya Aan, mahasiswi bapak, pada mata kuliah Filsafat Ilmu.”

“Oya. Ada yang bisa saya bantu?”

“Begini Pak. Aku belum mengambil mata kuliah Filsafat. Jadi, kapan Bapak ke kampus dan bisa Saya temui?”

“Selasa, Saya ada di kampus.”

“Oke kalau begitu. Hari Selasa Saya akan temui Bapak!”

Keesokan harinya. Tepatnya pada Selasa. Aku berjumpa dengan Aan, singkat cerita ia privat mata kuliah Filsafat padaku—setelah serangkaian prosedur kampus dilaluinya. Nilaipun keluar, dan ia mendapat predikat B (baik).

 

(3)

Tiada terasa, banyak hari sudah, hari-hariku bersama Aan, kendati pebincangan kita lebih sering terjalin melalui seluler. Dan terjadi begitu saja, aku sering memikirkannya. Bukan tanpa sebab, karena wajahnya memang layak untuk dirindui. Betapa tidak; gadis itu begitu menarik dalam pandanganku, kulitnya putih—boleh dibilang mulus, matanya bulat dihiasi alisnya yang hitam dan melengkung para bolis, hidungnya mancung diperindah bibirnya yang tipis, jika ia tersenyum ataupun tertawa gigi gingsulnya memperindahnya. Pendeknya ia cantik. Dan kecantikan wajah dapat diamati dari letak dan bentuk alis, mata, hidung, bibir, dan dagu, di mana kesemuanya proporsional.

Pada sebuah malam, di mana aku sedang mengurung diri dalam kamar. Secangkir kopi hitam pekat, dan batang-batang rokok menjadi teman setiaku dalam kesendirian. Seluler yang aku letakan di atas meja berdecit, di layarnya tertara sebuah nama “Neng Aan”. Aku angkat seluler itu, kumemejamkan mata menikmati suaranya yang begitu merdu. Dengan segera perbincanganku dengan Aan mengalir begitu saja, hingga sampai pada suatu titik, ia membicarakan mantan pacarnya dahulu.

Baca Juga:  Pasien Isoman Covid di Jatim Hampir 28 Ribu, Ketua DPD RI Ingatkan Pemda Rutin Pantau

“Aku mencintainya, dan dia mencintaiku,” katanya.

“Aku pernah memeluknya, dan bibirku pernah disentuhnya,” sambungnya.

Aku mendengarkan dengan perasaan penuh kelu. Jika aku boleh jujur maka aku katakan aku cemburu.

“Ah, ternyata cintaku padanya cinta yang tak wajar, ia telah menggunakan sihir hitam untuk mendapatkan cintaku,” kata Aan mengejutkanku.

Sekilas aku teringat, tentang cerita seorang kawan. Ia telah menggunakan pelet Semar Jerit untuk mendapatkan seorang perempuan. Pelet Semar Jerit bekerja dengan hebat, ia menggerogoti jiwa si korban, perempuan yang terkena pelet Semar Jerit, hatinya akan menjerit-jerit jika sedetik saja tidak bertemu dengan orang yang mengguna-gunainya itu. Dan aku bergidik ngeri. Tampah lagi kawanku bercerita, perempuan itu ia setubuhi hingga berulang-ulang kali, hingga perempuan itu hamil dan menggugurkan kandungannya. Biadab gumam hatiku, kala itu—menyumpahi seorang kawan yang durjana.

“Kenapa kamu diam?” Aan menegurku.

“Oh nggak,” aku menjawab terbata.

“Tapi kamu nggak disetubuhi’kan?” tanyaku polos.

“Nggak lah!!” jawabnya agak ketus.

Mendengar jawaban itu, hatikupun kian plong, aku bernapas lega. Namun, Aan kembali bercerita tentang kekasihnya yang lain, dan aku menjadi pendengar setianya. Dan lagi aku cemburu mendengar segala ocehnya tentang kekasihnya itu atau tepatnya mantan kekasihnya itu—terutama pada bagian-bagian yang romantis yang memang patut untuk aku cemburui.

 

(4)

Langit benderang, nampak rembulan membundar seperi sebuah piringan putih, ia sedang menunjukkan kejelitaannya—dalam cahyanya yang disebut purnama. Aan memelukku dari arah belakng, terasa hangat punggungku, rasa aneh menjalari alam rasaku, dan hasrat kelaki-lakianku menggebu muncul begitu saja seperti jamur-jamur bawang yang bertumbuhan di jerami. Perlahan Aan melepaskan pelukannya, ia menatapku dengan sayu, kita beradu pandang dan hatiku berketar bagai tersengat listrik berwatt rendah. Perlahan wajah kami saling berdekatan, bibir kami saling bergesekkan, bahkan memercikkan kembang api, saking panasnya gesekan kedua pasang bibir, yang berbeda jenis kelamin itu. Kejadian itu terjadi begitu singkat, dan aku terbangun dari lelap tidurku. Astagfirullah barusan aku bermimpi.

Pendeknya, sebulan sudah, terjalin kasih antara aku dan Aan. Jalinan kasih antara dosen dan mahasiswanya. Jalinan kasih yang mungkin agak tabu. Namun, begitulah cinta, ia tak mengenal perbedaan dan batasan. Cinta milik siapa saja; baik kaya maupun miskin, baik jelata maupun bangsawan, tak terkecuali baik dosen maupun mahasiswa—siapa saja tak mengenal kasta ataupun status lainnya.

Baca Juga:  Pemaparan Sandiaga Uno di Debat Cawapres Dinilai Inspiratif dan Berikan Sudut Pandang Baru

Pada suatu ambang senja, di sebuah sudut kampus yang terlindung dari amatan manusia lainnya, pada sebuah bangku yang berderet memanjang, aku dan Aan duduk berduaan, ia memeluku dari arah samping, dan ia membenamkan pipinya ke bahuku, dan kali ini, aku lagi tidak sedang bermimpi. Semua kenanganku bersama mantanku telah berhasil aku bunuh, begitu pula dengan Aan, ia pun seperti halnya diriku.

Ketika Aan mengakhiri pelukannya, aku melihat sekitaran pasang mata Aan menghitam, mata panda. Dan aku mulai khawatir, jangan-jangan sihir hitam, pelet. Tengah mempengaruhi jiwanya. Aan tersenyum, ia berlalu meninggalkanku, begitu saja. Menyisakan berjuta tanya dalam benak dan hatiku.

Selesai

Bapuputri, Lebak-13-04-17

Agus Hiplunudin 1986 lahir di Lebak-Banten, adalah lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang-Banten, Jurusan ADM Negara sudah lulus dan bergelar S. Sos. Dan, pada April 2016 telah menyelesaikan studi di sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jurusan Ketahanan Nasional, bergelar M. Sc. Kini bergiat sebagai staf pengajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu dan Etika Administrasi Negara di STISIP Stiabudhi Rangkasbitung juga menjabat sebagai ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) di kampus yang sama. Sekaligus sebagai Direktur Eksekutif SAF (Suwaib Amiruddin Foundation) periode 2017-2019 adapun karya penulis yang telah diterbitkan: yakni: Politik Gender (2017) dan Politik Identitas dari Zaman Kolonialis Belanda hingga Reformasi (2017)—diterbitkan oleh Calpulis Grahaliterata. Adapun karya sastra dalam bentuk cerpen yang telah diterbitkan di antaranya: Yang Hina dan Teraniaya (2015 Koran Madura), Perempuan Ros (2015 Jogja Review), Peri Bermata Biru (2015 Majalah Sagang), Audi (2015 SatelitePost) Demi Suap Nasi (2015 Koran Madura), Filosofi Cinta Kakek (2017, Biem.co), Ustadz dan Kupu-kupu Malam (2017, Biem.Co).

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]