Connect with us

Ekonomi

Membeli Produk Lokal, Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Published

on

Mengkampanyekan kepada masyarakat agar membeli produk lokal. (Foto: IST)

Manusia memiliki kebutuhan ekonomi yang setiap harinya harus terpenuhi, baik itu makanan, pangan dan sandang. Kebutuhan konsumtif manusia yang tidak bisa dihindari akan terus meningkatkan angka pendapatan, angka kelahiran, kematian dan tentunya pertumbuhan ekonomi. Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Potensi yang begitu memadai, jumlah penduduk yang banyak mampu wujudkan kesejahteraan rakyat.

Namun, saat ini dengan berbagai kekurangan yang hadapi negeri, tentunya membutuhkan bantuan dari berbagai stakeholder dari luar dan dalam. Kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah yang terus digencarkan guna menjadikan negeri ini menjadi maju dan mampu bersaing menghadapi tantangan global. Terdiri dari 17.560 pulau, Indonesia memiliki perairan terbesar di dunia sehingga di juluki negara maritim. Suku bangsa terbanyak hingga mencapai 740 suku yang memiliki jenis bahasa yang beragam, menghasilkan gas alam cair terbanyak di dunia, memiliki terumbu karang dan spesies ikan hiu terbanyak di dunia, penghasil produk pertanian terbanyak pertama di dunia.

Melimpahnya kekayaan Indonesia sejatinya dapat mensejahterakan warga sekitar. Khususnya, di daerah Cepu. Cepu merupakan salah satu daerah penghasil minyak terbesar. Maka Indonesia akan memperoleh keuntungan mulai dari Rp 3,6 triliun dalam sebulan atau setara dengan Rp 43,2 triliun per tahunnya. Dengan perhitungan ini, seharusnya Indonesia dapat memakmurkan rakyatnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sudah saatnya negara Indonesia memikirkan pertumbuhan perekonomian bangsa ini untuk ke depannya.

Investasi merupakan sarana untuk menahan kekayaan atau harta yang suatu hari nanti dapat bertambah. Berbicara investasi, sudah sejak zaman dahulu sebelum reformasi Indonesia menjalin kerja sama dengan berbagai stakeholders luar negeri. Di mana, banyak para investor dari luar menanamkan modalnya di negera Indonesia.

Baca Juga:  Sebelum Silaturrahim Ke Gontor, Prabowo: Negara Kita dalam Keadaan Sakit

Apakah para investor datang ke Indonesia hanya untuk berinvestasi atau memberikan dananya secara cuma-cuma untuk negara ini? Jelas, tidak. Setiap investor yang menanamkan modalnya ke negera ini semata-mata juga mencari profit oriented untuk negaranya.

Penulis berusaha memaparkan sebuah gagasan yang memandang bahsa sudah saatnya pemerintah membantu para investor dalam negeri untuk berkontribusi dalam investasi nasional. Impact-nya dapat meningkatkan pendapatan negara.

Investasi Nasional akan memberikan keuntungan yang besar bagi pemerintah dan stakeholders lainnya. Salah satu problematika saat ini adalah hadirnya investasi asin di mana sudah banyak memunculkan persoalan. Salah satunya berdampak terhadap kesejahteraan hidup masyaraka lokal.

Solusi yang ditawarkan untuk meningkatkan investasi nasional dibanding investasi asing, penulis merangkumnya dalam beberapa strategi. Pertama, meningkatkan daya beli masyarakat, yakni melalui pemberdayaan ekonomi pedesaan dan pemberian modal usaha kecil seluasnya. Dengan peningkatan daya beli masyarakat ini membuat barang-barang hasil buatan dalam negeri terjual habis, tentu kan memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Apalagi yang terjual itu adalah produk hasil ekonomi pedesaan dan usaha kecil, tentu akan membuat perkembangan yang signifikan bagi kemajuan usaha masyarakat. Kemudian mampu bersaing dengan perusahaan besar milik swasta.

Keuntungan lain dari dari peningkat anda ya beli masyarakat ialah perputaran uang lebih banyak terdapat di dalam negeri sehingga akan menambah pendapatan megara melalui pajak.

Kedua, meningkatkan pajak secara progresif terhadap barang mewah impor. Realitas yang ada saat ini pemerintah mengambil pajak barang mewah. Ketiga, konsep pembangunan yang berkesinambungan, berlanjut dan mengarah pada satu titik maksimalisasi kekuatan ekonomi nasional, melepaskan secara bertahap ketergantungan utang luar negeri.

Keempat, menggalakan kebanggaan akan produksi dalam negeri, meningkatkan kemauan dan kemampuan ekspor produk unggulan dan membina jiwa kewirausahaan masyarakat. Hal yang membuat prihatin ialah kabar dari media massa yang ternyata lebih banyak menawarkan iklan produk swasta luar negeri. Sadar atau tidak, iklan-iklan ini mempengaruhi paradigma masyarakat terutama kalangan remaja, yang mempengaruhi mereka lebih suka mengkonsumsi produk luar negeri dari pada produk dalam negeri. Akibatnya, hasil jual lebih banyak keluar dari pada ke dalam negeri.

Baca Juga:  Ekspeditor: Negeri Dongeng Dapat Penonton di Bioskop dengan Gerilya

Kelima, mengembangkan sumber daya manusia berkualitas. Misalnya, BJ. Habibie orang cerdas yang dapat menciptakan pesawat, handal dalam bidang teknologi. Selanjutnya menempatkan kesejahteraan yang berkeadilan dan merata sebagai landasan penyusunan operasional pembangunan ekonomi.

Terakhir, menerapkan investasi nasional berbasis syariah. Bagaimana pun, Indonesia terdiri dari masyarakat Islam yang tidak sedikit jumlahnya. Dengan kata lain, kenyataan itu merupakan sebuah potensi dan pasar besar untuk memajukan perekonomian syariah. Dengan negara yang berpenduduk mayoritas muslim, sudah seharusnya Indonesia memiliki menjadi panglima dalam perubahan ekonomi.

Penulis: Reni Marlina, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI/Penulis Buku Berkah Dibalik Muamalah

Loading...

Terpopuler