Berita UtamaFeaturedHankam

Membangun Pertahanan Terpadu dan Sinergis di Perbatasan Natuna

NusantaraNews.co, Jakarta – Pada masanya, kejayaan peradaban Nusantara yang menjadikan maritim sebagai kekuatan utama telah melahirkan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai kerajaan yang berporos maritim. Bercermin pada sejarah, 3 tahun belakangan ini, di era Presiden Joko Widodo dengan visi menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, optimis kehidupan bangsa akan jaya.

Hal itu disampaikan Letkol Laut (P) Salim selaku Ketua Penyelenggara Focus Group Discussion (FGD) di Auditorium Denma Mabesal, Rabu (6/9/17) lalu. FGD bertajuk ‘Pengamanan Wilayah Perbatasan Laut Natuna Utara dan Laut Sulawesi’ ini diselenggarakan oleh Dinas Operasi dan Latihan Angkatan Laut (Disopslatal) Mabes TNI AL.

Menurut Salim, saat ini untuk mewujudkan Poros Maritim Dunia tidak semudah membalikan telapak tangan. Bila dikaitkan dengan Teori Sea Power yang dikemukakan oleh Rear Admiral Alfred Thayer Mahan, salah satu ciri khas negara maritim yakni ketika pemerintah memiliki karakter sebagai negara maritim.

“Setiap instansi pemerintah harus memiliki visi kemaritiman sebagai program pembangunannya. Untuk menjadi negara maritim yang kuat tentunya juga harus memiliki perangkat keamanan dalam menjaga kedaulatan wilayah suatu negara,” terang Pamen TNI AL yang sehari-hari menjabat sebagai Kasubdis Strategi Taktik Operasi (Stratikops) Disopslatal tersebut seperti dilansir maritimnews.

Baca Juga:  Rasa Haru Para Guru di Perbatasan Dapat Kejutan Dari Yon Armed 5/105 Tarik/Pancagiri

Selain memaparkan pentingnya kerjasama antar lembaga pemerintah yang memiliki yuridiksi hukum dalam membidangi keamanan di laut, ia juga mengulas pengamanan dalam menjaga kedaulatan, masih belum berjalan optimal. “Karena masing masing instansi belum saling sinergis dalam menjaga keamanan,” sebut Penulis Buku ‘My Fish My Life’ ini.

Karenanya Salim berharap, melalui FGD ini sudah saatnya para instansi itu memiliki persamaan persepsi tentang bagaimana operasi pengamanan dapat dilaksanakan secara sinergi oleh stakeholder maritim dalam rangka mengamankan wilayah perbatasan khususnya di wilayah Laut Natuna Utara dan Laut Sulawesi.

“Dalam mewujudkan negara berporos maritim kita menghadapi jalan yang terjal dan berliku, karena masih banyak permasalahan di laut khususnya dalam penangangan operasi pengamanan,” seloroh lulusan AAL tahun 1995 itu.

Belum adanya Undang-undang yang mengatur sinergitas antar instansi tentang pola pengamanan dan belum adanya garis batas laut yang jelas merupakan persoalan yang juga ia bahas. Sehingga hal itu berakibat pada keraguan bagi penegak hukum di laut dan dapat menimbulkan ketimpangan prosedur penyelesaian masalah terhadap tindak kejahatan di wilayah perbatasan baik secara hukum nasional maupun internasional.

Baca Juga:  Pemkab Nunukan Siapkan OPD Menjadi Ayah Bunda Asuh Anak Stunting

“Apabila hal ini terus dibiarkan dan tidak adanya sinergitas maka TNI AL akan kewalahan dalam setiap operasi pengamanan. Terlebih ketika menghadapi berbagai macam kejahatan di laut seperti illegal fishing, illegal logging, drugs and human trafficking dan perompakan di laut,” beber Salim.

Menurut dia, dalam menghadapi negara-negara tetangga yang acap kali membandel karena sering melanggar wilayah kedaulatan maka sinergitas khusunya dengan Kementerian Luar Negeri sangat diperlukan. Mengingat, sesuai data ter-update yang dikeluarkan oleh Disopslatal TNI AL tahun 2016 telah terjadi 12 kasus pelanggaran. “Jumlah ini meningkat bila dibandingkan pada tahun 2015 yang hanya berjumlah 9 kasus pelanggaran,” ujarnya.

Itulah gambaran tantangan yang dihadapi saat ini, khususnya dalam menangani keamanan di wilayah perairan kita yang rentan akan kejahatan. Dalam seminar selama dua hari ini, hal itu akan diulas dan dicari pemecahan permasalahannya.

“Perlu adanya peraturan yang jelas dan doktrin maritim sebagai pedoman dalam penangangan keamanan di laut. Supaya tidak terjadinya miskomunikasi antar instansi. Dan perlu adanya undang-undang yang mengatur bagaimana antar instansi bisa bersinergi melakukan operasi pengamanan secara sinkronisasi tanpa adanya lagi hambatan,” tegas Salim.

Baca Juga:  Memprihatinkan, Banyak Sekolah di Bondowoso Rusak Parah

Khusus untuk pengamanan sumber daya alam di Natuna, Salim menegaskan pentingnya pertahanan terpadi dan sinergis. Mengingat, sinergitas dalam pengamanan perairan di wilayah perbatasan menjadi salah satu tolok ukur dalam perwujudan visi Poros Maritim Dunia. Hal itu mengingat tingginya ancaman di wilayah perbatasan kita baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri.

“Ada intensitas patroli dan pembangunan konsep pertahanan terpadu dan sinergis,” tandas Salim saat dikonfirmasi redaksi NusantaraNews.co.

Untuk diketahui, acara yang dibuka oleh Kepala Disopslatal TNI AL Laksma TNI Didik Setiyono itu dihadiri oleh para perwira di lingkungan TNI AL dan perwakilan instansi pemerintah yang memiliki kaitan dalam pengamanan di laut.

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman

Related Posts

1 of 5