Connect with us

Berita Utama

Membaca Makna Lawatan Presiden Trump ke Asia

Published

on

Presiden AS Donald Trump/Foto: zeenews

NUSANTARANEWS.CO – Presiden Trump telah memulai lawatan ke luar negerinya yang terlama dan paling ambisius. Selama hampir dua minggu, Trump akan mengunjungi lima negara di Asia, memberikan pidato utama, menghadiri KTT regional dan bertemu dengan puluhan pemimpin. Hal ini memang merupakan penjalanan yang monumental bagi Presiden Trump. Terutama guna menjaga komitmen peran kepemimpinan tradisional Amerika di Asia.

Sehari sebelum kepergian Trump, Penasehat Keamanan Nasional HR McMaster menggarisbawahi bahwa untuk memajukan kemakmuran Amerika adalah melalui praktik perdagangan dan ekonomi timbal balik yang adil” sebagai tujuan utama perjalanan ini. Meskipun hal ini tidak kontroversial secara prinsip, namun dalam praktiknya jauh lebih mengkhawatirkan bagi negara-negara di kawasan Asia.

Seperti diketahui pada tahun pertamanya sebagai presiden Amerika, Trump telah menarik diri dari TPP, dan mengancam untuk menarik diri dari perjanjian perdagangan bebas AS-Korea Selatan (KORUS) dan menandatangani sebuah perintah eksekutif yang meminta agen terkait untuk mengidentifikasi negara-negara di mana saja AS mengalami defisit perdagangan yang signifikan, seperti dengan Cina, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Thailand dan Vietnam.

Sementara itu, terkait dengan diluncurkannya strategi baru AS di Asia yang didasarkan pada wilayah Indo-Pasifik atau Asia-Pasifik yang bebas dan terbuka – meski belum berjalan saat ini – tidak ada keraguan bahwa semua itu adalah upaya untuk meningkatkan hubungan dengan sekutu Asia dan mitra utama guna menghadirkan visi alternatif ke wilayah yang didominasi Cina. Visi alternatif tersebut jelas akan semakin memperluas peta geopolitik AS, terutama dengan memasukkan Samudera Hindia, sehingga menggabungkan India sebagai mitra utama yang pada gilirannya mengurangi pengaruh Cina di kawasan.

Baca Juga:  Di Balik Konflik Etnis Rohingya di Rakhine

Seperti telah diberitakan, Presiden AS Donald Trump akan memulai kunjungan resminya ke Cina pada Rabu (08/11/2017) dan akan menggelar pembicaraan dengan Presiden Xi Jinping.

Dalam pertemuannya dengan Presiden Xi, kemungkinan ada dua agenda utama yang akan menjadi pembicaraan, pertama adalah terkait soal perkembangan rudal dan nuklir Korea Utara dan kedua adalah terkait masalah defisit ekonomi AS dengan Cina.

Terkait krisis nuklir Korea Utara, Presiden Trump kemungkinan akan meminta Presiden Xi agar berbuat lebih tegas dalam menerapkan sanksi terhadap Pyongyang. Bahwa kerjasama bilateral AS-Cina menjadi sangat penting guna menyelesaikan masalah krisis nuklir di Semenanjung Korea.

Kedua, adalah terkait ketidakseimbangan perdagangan. Presiden Trump ingin mengurangi defisit perdagangan AS dengan Cina. Namun, menurut para pengamat, Trump tidak akan mendapatkan kemajuan yang signifikan terkait masalah ini.

Meski kedua negara tidak ada kesepakatan dalam beberapa hal, tetapi perekonomian adalah sektor di mana kedua belah pihak bisa mengambil posisi yang kooperatif untuk menuntaskan masalah secara lebih mudah. Untuk sementara waktu, Cina nampaknya harus menghindari konfrontasi dengan AS. Presiden Xi menyadari bahwa AS masih jauh di atas Cina baik di bidang ekonomi maupun militer, jadi Xi akan sangat berhati-hati dengan Presiden Trump.

Dalam Kongres Partai Komunis Cina bulan lalu, kekuasaan Presiden Xi semakin kuat dalam masa jabatannya yang kedua. Bisa dipastikan bahwa Xi akan mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang kuat dan membanggakan saat menyambut kedatangan presiden Trump. Hal itu menjadi penting bagi Xi, terutama guna meningkatkan citra publik dan memperkuat pemerintahannya. (Banyu)

Loading...

Terpopuler