Connect with us

Budaya / Seni

Memasuki Rumah Penyair

Published

on

Rumah Penyair. Foto: Indecidibles

Puisi Muhammad Daffa

KEPADA PENYAIR AAN

Aku bisa menjadikan rindu semilir angin malam
Yang menerpa hangatmu di pertengahan malam ketiga sesudah bulan Jumadil

Agar tahu betapa gugupnya merindukan.

Ini bukan cinta, Aan, hanya sedikit curahan nasib penyair lugu
Di balik jiwanya yang biru.

“Aku tahu cinta tak semudah membalik telapak tangan,
Cinta adalah merayu hati yang telanjur jauh.”

2017

BAGAIMANA

Bagaimana aku bisa memasukimu sedangkan hati itu terus beku dalam menunggu?
Rindu adalah jalan lain dalam mencari.
Kita hanya berdua meminta langit berbeda
Aku, atau kamu, di sepi ruang tengah menunggu?

2017

MEMASUKI RUMAH

Rumahku hanya satu: hatimu.
Bukalah ketenangannya, rasa hampa
Cinta dulu pada kekasih yang meninggalkan dengan sengaja.

Hatiku masih melengang dari cinta
Jika nanti kau bertanya, apakah akan ada perempuan yang menginginkanku,
Aku mengijinkanmu untuk jadi pelengkap hari-hari yang doa.

2017

Muhammad Daffa, Lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Menulis puisi di sejumlah media massa. Karya-karyanya tersiar pada Radar Banjarmasin, Banjarmasin Post, Buletin Jejak, Lokomoteks, Sumatra Ekspress, Palembang Ekspress, dan banyak antologi bersama. Buku puisi tunggalnya berjudul Talkin (2017). Mahasiswa di prodi Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

Baca Juga:
Ketua Yayasan Hari Puisi Pertanyakan Mengapa Peran Puisi dan Penyair Kini Tergusur
Penyair Indonesia-Malaysia Bahas Kesusastraan Nusantara Hari Ini
Puisi-Puisi Tebaik Pelopor Penyair Sufistik Abdul Hadi WM

Loading...

Terpopuler