Connect with us

Opini

Memahami Wawasan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Published

on

Pancasila Sebagai Suatu Sistem Filsafat

Memahami Wawasan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

NUSANTARANEWS.CO – Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila, perumusannya harus dipahami dalam konteks Pancasila sebagai dasar negara sebagaimana dikehendaki para Bapak Bangsa dalam rangka membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan prinsip politik bernegara.

Sila pertama ini merupakan salah satu faktor pembentuk Pancasila yang inheren dalam empat sila lainnya dan sebaliknya. bukan suatu prinsip teologis, meskipun bernuansa teologis. Sebagai prinsip politik, Negara mengakui dan melindungi kemajemukan agama di Indonesia. Negara tidak akan menilai isi dan ajaran dari suatu agama apa pun. Penganut agama apa pun wajib bersatu untuk membangun bangsa dan Negara.

Ketuhanan Yang Maha Esa dikatakan bernuansa teologis, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebab dalam kaitannya kehidupan berketuhanan, sila Ketuhanan Yang Maha Esa dapat dikatakan sebagai common denominator atau pijakan yang sama dari berbagai denominasi agama. Dalam Ketuhanan Yang Maha Esa ini, Bung Karno mengatakan Bukan saja bangsa Indone¬sia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indone¬sia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ego-isme agama. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang ber-Tuhan!

Baca juga: Memahami Sila Keempat dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? lalah hormat-menghormati satu sama lain.

Baca Juga:  Robot Karyawan Akan Dikenai Pajak Penghasilan

Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraag- zaamheid, tentang menghormati agama-agama lain, Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini— sesuai dengan itu—menyatakan: bahwa prinsip kelima (baca: pertama) dari Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indo-nesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Di sinilah, dalam pangkuan asas yang kelima (baca: pertama) inilah, Saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan ber-Tuhan pula!” (Bung Karno dalam Lahirnya Pancasila).

Baca juga: Memahami Sila Kedua dan Persatuan Indonesia

Aktualisasi Ketuhanan yang Maha Esa dijiwai oleh empat sila lainnya, dalam hal orang menganut suatu agama dan atau kepercayaan maka mereka saling menghormati sesuai harkat dan martabat manusia, tidak saling memaksakan agamanya, tetapi menjaga persatuan dan kesatuan untuk terselenggaranya rasa keadilan demi kesejahteraan bersama.

Demikianlah wawasan pokok dari sila pertama. Wawasan lain terhadap sila pertama di luar wawasan pokok yang diuraikan tersebut dapat dikatakan tidak sesuai dengan Pancasila. Misalnya mewawas Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila tidak dikaitkan dengan motif perumusannya dalam rangka sebagai dasar Negara Republik Indonesia, namun dikaitkan hanya dengan salah satu agama atau kepercayaan, sehingga agama dan kepercayaan yang lain dinegasikan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian juga apabila memandang Ketuhanan Yang Maha Esa berdiri sendiri terlepas dari empat sila lainnya, dan bahkan Ketuhanan Yang Maha Esa dipandang sebagai agama dan dijadikan agama negara, itu sama sekali bukan sila Pancasila.

Baca Juga:  HUT Bhayangkara Ke-73, Kapolres Nunukan Pimpin Ziarah ke Makam Pahlawan

Sila pertama ini merupakan motif dasar setiap sikap, tingkah laku dan perbuatan orang seorang, lembaga masyarakat, dan lembaga Negara serta menjiwai pelaksanaan empat sila lainnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Penulis: Soeprapto, Ketua LPPKB

Loading...

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler