Connect with us

Mancanegara

Memahami Keinginan AS Keluar dari Perjanjian Nuklir Iran

Published

on

Amerika Serikat, Patung Liberty

NUSANTARANEWS.CO – Negara-negara sekutu Amerika Serikat, terutama Eropa Barat tampaknya harus mulai mengerti dengan ‘America First‘ Donald Trump. Perlahan tetapi pasti AS mulai menarik diri dari keterlibatan globalnya terutama dalam bidang-bidang strategis menyusul segera bergulirnya globalisasi gelombang ketiga. AS lebih memilih memproteksi diri di tengah situasi batas yang tak menentu menyambut tatanan dunia baru.

Mengapa AS tampak berusaha menggeser perannya sebagai negara adidaya global menuju kebijakan luar negeri yang lebih transaksional? Yang jelas, Washington tidak ingin lagi mengatur agenda global seperti yang sudah-sudah selama tujuh dekade terakhir.

Terbaru, AS menyatakan ingin keluar dari kesepakatan nuklir Iran yang ditandatangani oleh negara-negara yang tergabung dalam P5+1 (Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, Perancis, Rusia) plus Jerman. Kesepakatan ini diteken pada 2015 silam dan Iran setuju menghentikan program nuklirnya dengan jaminan pelonggaran sanksi ekonomi.

Washington belakangan bersikap lain. Trump menuding Iran kini masih aktif mengembangkan senjata nuklirnya yang dianggap AS dalang dari kekerasan, pertumpahan darah, dan kekacauan di kawasan Timur Tengah.

“Kami tidak dapat mematuhi sebuah kesepakatan yang memberikan perlindungan untuk pembangunan program nuklir,” kata Trump dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB di New York, Selasa (19/9).

Isi pidato dan rencana AS ini kemudian membuat Iran marah. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif memandang sikap AS sangat bodoh, meski sebetulnya bisa dipahami.

Namun begitu, Zarif menyatakan Teheran siap melanjutkan kerja nuklirnya jika Washington berhenti dari kesepakatan tersebut. Iran juga menyatakan siap menghadapi segala kemungkinan skenario yang terjadi di masa mendatang jika Trump keluar dari kesepakatan yang diteken pada 2015 itu.

Baca Juga:  Donald Trump Bikin Geram Dunia, Israel Berterima Kasih

Sementara itu, Presiden Perancis mengaku negaranya masih terus mendukung perjanjian nuklir tersebut dan sebuah kesalahan jika menarik diri untuk keluar.

Mundurnya AS dari perjanjian nuklir Iran 2015 bukan fenomena pertama kalinya Trump menarik diri dari kerjasama luar negerinya. Di awal kepemimpinannya, Trum menarik diri dari kerjasama Trans-Pacific Partnership (TPP) dan kesepakatan iklim Paris 2015 untuk memerangi perubahan iklim.

Artinya, negara-negara sekutu AS harus mulai berbenah diri dengan sikap AS yang lebih proteksionis. Dunia juga harus siap bila kepemimpinan AS berakhir, terutama Eropa Barat, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan yang menjadi kuat dan makmur di bawah perlindungan AS.

Dengan kata lain, secara kasat mata Trump telah mempercepat runtuhnya Pax Americana yang sudah berlangsung sejak akhir Perang Dunia Kedua. Tidak ada keraguan bahwa Rusia dan China memang mendapatkan keuntungan, setidaknya dalam jangka pendek sebagai konsekuensi logis runtuhnya Pax Americana. Hal itu tampak jelas dari kekalahan AS di Suriah. Selama campurtangannya di Suriah, AS telah mempersenjatai kubu oposisi yang mengakibatkan krisis Suriah berkobar menjadi lebih besar sejak 2011.

Bagi Trump, solusi krisis Suriah harus dilakukan dengan mendukung proses perundingan damai antar-pihak yang terlibat konflik. Sebab, ikut campur tangan justru membuat AS merugi padahal selama ini Paman Sam aktif mensuplai senjata dan pelatihan kepada kelompok-kelompok milisi yang bergerilya melawan pemerintahan Bashar Al-Assad.

AS mulai menyadari bahwa mereka telah kalah dalam perang di Suriah melawan Iran dan Rusia yang habis-habisan mendukung rezim Al-Assad. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Loading...

Terpopuler